Baru-baru ini di Jakarta telah terjadi perampokan dan penyanderaan di suatu gedung bank Syari’ah terkenal oleh sekelompok orang asing bersenjata lengkap, mereka sangat terlatih dan profesional. Karena itu adalah bank Syari’ah maka seluruh karyawan bank dan nasabah yang tersandera di dalam adalah Muslim. Entah kebetulan atau sengaja, para perampok itu memilih bank Syari’ah untuk dirampok. Sampai akhirnya para perampok itu pun menguasai seluruh gedung bank tersebut.

A warder closes the gate inside the men's building at the Fleury-Merogis prison, near Paris,  in this May 14, 2014 file picture. The French investigation into last week's Paris shootings at satirical weekly Charlie Hebdo and a Jewish supermarket is exploring the possible role of Djamel Beghal, an Islamist suspected of first bringing the gunmen together and putting them on the path from impressionable youths to cold-blooded killers. While the 49-year-old Algerian has denied through his lawyer any involvement in the attacks, judicial and prison sources have described how two of the three gunmen nonetheless fell under his spell during a joint 2005 stretch in Fleury-Merogis and then pursued contacts with him after leaving prison.  Picture taken May 14, 2014. REUTERS/Charles Platiau/File (FRANCE - Tags: CRIME LAW CIVIL UNREST)

Para perampok ini tergolong sadis, setiap sandera yang mencoba melawan pasti akan ditembak di tempat. Mereka tidak peduli apakah anak-anak atau dewasa, laki-laki atau perempuan, yang tidak menuruti perintahnya mereka tembak mati. Direksi yang mempunyai kewenangan mengakses database dipaksa untuk mentransferkan uang ke suatu rekening luar negeri dan yang mengetahui kode/sandi dipaksa untuk membuka brankas tempat penyimpanan uang dan surat berharga. Ada tawaran imbalan bagi direksi yang mau bekerjasama, bagi yang tidak maka akan disiksa. Beberapa sandera wanita ada juga yang diperkosa. Sungguh biadab orang asing yang merampok dan menyandera saudara-saudara kita ini.

Sudah berhari-hari mereka menguasai gedung dan menyandera orang di dalamnya. Bantuan demi bantuan pun berdatangan, bantuan yang datang berupa makanan, pakaian, selimut, perlengkapan/peralatan mandi, sarung mukena dan lain-lain.

Polisi dan tentara tidak ada yang mencoba membebaskan mereka dari penyandraan itu, padahal yang paling dibutuhkan adalah bantuan militer bersenjata yang bisa melumpuhkan para perampok itu. Mereka dibiarkan dalam keadaan yang memprihatinkan, tertekan dan ketakutan. Keluarga para sandera pun tidak bisa berbuat apa-apa, sebagian dari mereka terpaksa tega menutup mata dan telinga tidak mempedulikan apa yang terjadi terhadap saudaranya tersebut.

Apa yang paling diinginkan oleh para sandera tersebut?

Bantuan apa yang paling dibutuhkan oleh mereka?

Ya, pasti yang paling mereka inginkan adalah terbebas dari penyanderaan yang menyebabkan penderitaan tersebut. Lalu bantuan makanan, pakaian, selimut, perlengkapan/peralatan mandi, sarung mukena dan lain-lain apakah tidak dibutuhkan oleh mereka? Tentu saja dibutuhkan, tetapi jika tidak dibebaskan dari penyanderaan (akar permasalahan) tersebut maka saudara-saudara kita belum bisa merasakan ketenangan dan kedamaian. Sampai sekarang mereka masih tersandera di sana. Dan sangat menantikan kita untuk dapat mewujudkan bantuan yang paling dibutuhkan untuk membebaskan mereka dari penyanderaan tersebut.

Joe-Ueno

Cerita di atas hanyalah fiktif belaka, cerita di atas dapat menjadi gambaran (yang bisa kita bayangkan) bagaimana perasaan saudara-saudara Muslim kita yang berada di negara/daerah konflik, tanah tempat mereka tinggal diserang asing musuh Islam, sanak saudara disiksa, diperkosa dan dibunuh, tidak ada ketenangan dalam hati mereka. Mereka sangat berterimakasih atas bantuan makanan, pakaian, gedung ibadah/sekolah dan lain-lain. Tetapi bukan itu yang sangat mereka nantikan, bantuan makanan bisa habis, bantuan pakaian bisa rusak, bantuan pembangunan gedung bisa hancur lagi dibom musuh. Saudara-saudara kita membutuhkan bantuan kita untuk mengusir penjajah dari tanah kelahiran mereka, mereka membutuhkan bantuan militer dari negara-negara Islam, yang sebenarnya adalah saudara dihadapan Allah, melebihi saudara sedarah. Tentu saudara yang peduli dari warga sipil tidak dapat berbuat apa-apa, maka yang dapat berbuat sesuatu adalah orang yang mempunyai otoritas untuk mengendalikan militer yaitu pemimpin negara-negara (presiden) dengan mayoritas penduduknya Muslim. Tetapi kenyataannya, mereka semua tidak ada yang berani, karena mereka sendiri adalah negara-negara koloni asing. Karena tidak ada pilihan, orang-orang yang peduli pun terus menerus membantu dengan apa yang bisa diberikannya. Tetapi saking dianggap tidak mungkin membebaskan saudara-saudara kita di sana, sampai-sampai lupa dengan tujuan utama yang menjadi keinginan terbesar saudara kita di sana, yaitu membebaskan mereka dari penjajahan asing, baik penjajahan fisik (perang) maupun non-fisik dengan menerapkan sistemnya di negara Islam. Sehingga menganggap orang yang mau menegakkan negara Islam hanya “omdo” atau hanya “wacana” dan sebutan lainnya. (Selama 13 tahun dakwah di Mekkah, Rasulullah Saw juga cuma omdo dan cuma wacana dong???)

Penjajah, dengan menanamkan pemikiran nasionalisme/kebangsaan, telah berhasil membangun sekat wilayah, bahasa, suku, warna kulit, timur dan barat diantara sesama umat Muslim. Sesama Muslim tidak lagi dianggap saudara, tidak ada rasa aman dari umat Muslim, Islam tidak lagi berwibawa, kemuliaan Islam luluh lantah diinjak para penjajah. Islam hari ini tidak tentu arah, bahkan banyak sekali Muslim yang tidak berpaham (ideologi) Islam, oleh karena itu banyak sekali Muslim yang merusak kehormatan Islam. Itulah yang diinginkan para penjajah, mereka merusak Islam dari dalam, oleh Islam dirusak orang Islam sendiri. Melalui apa, melalui menerapkan pendidikan Sekular dan segala perangkat pemerintahan yang diatur oleh penjajah, menutup rapat-rapat sejarah Islam, de-Islamisasi dengan tujuan meredam bangkitnya umat Islam. Mengapa ini semua bisa terjadi, bukankah kita adalah umat terbaik? Bukankah kita tinggal di bumi milik Tuhan kita Allah? Mengapa yang berkuasa bukan hamba Allah? Karena Islam tidak mempunyai pemimpin, Islam tidak mempunyai negara, Islam tidak mempunyai kekuatan dan kekuasaan. Umat ini telah meninggalkan sebagian besar al-Quran (yang mengatur muamalah), hanya perkara ibadah saja yang masih tersisa dari Islam.