Archive for Juni, 2015


Kenikmatan menjalani hidup dari bangun tidur hingga tidur lagi? Keadaan yang aman damai, harta benda, anak cucu, ilmu, makanan yang banyak dan nikmat, kesehatan umur dan segala kesenangan lainnya.

Pernahkah kita berpikir tentang saudara Muslim kita di daerah konflik, jangankan makan dan sekolah yang nyaman, ibadah saja mereka dalam keadaan tidak aman, demi aqidah Islam mereka beribadah diantara peluru yang lalu lalang dan suara dentuman bom yang suatu saat bisa saja menghantam mereka.

Mari kita renungkan… Mari kita pikirkan…

Apakah kenikmatan yang kita dapat ini, karena kita jauh lebih taat kepada Allah daripada mereka?

Apakah kenikmatan yang kita nikmati ini karena kita karena ibadah kita jauh lebih hebat dari pada mereka?

Ternyata bukan, belum tentu level keimanan kita lebih tinggi dari mereka, belum tentu ilmu Islam kita lebih baik dari mereka, belum tentu juga kualitas ibadah kita lebih baik dari mereka!

Ini adalah ujian dari Allah SWT bagi manusia. Untuk menyeleksi kita. Seberapa manusia kah kita? Karena manusia adalah “hayawanun natik” hewan yang dapat berbicara. Yang membedakan manusia dengan hewan ada lah kewajiban yang harus dilaksanakan kepada Allah, yaitu ibadah. Jika manusia tidak beribadah (menjalankan kewajibannya) apa bedanya kita dengan binatang?

Tingkatan-Nafsu-Manusia

Diantara manusia sendiri terdapat tingkatan kemuliaan berdasarkan nafsunya. Kita bisa menilai diri kita sendiri, berada di level mana kita, dan kita bisa membuat target sendiri, ingin mencapai level mana kita, tentu target itu ada konsekuensinya, konsekuensi keimanan.

Golongan manusia yang pertama adalah manusia dengan nafsu amaroh, yaitu manusia yang menjalankan kewajibannya kepada Allah, tetapi masih melakukan dosa. Inilah serendah-rendahnya level manusia.

Golongan manusia kedua adalah manusia dengan nafsu lawwamah, yaitu manusia yang menjalankan kewajibannya kepada Allah juga sudah meninggalkan dosa-dosa dzohir (fisik), tetapi masih melakukan dosa hati seperti iri, dengki dan lain-lain.

Golongan ketiga adalah manusia dengan nafsu mulhammah, yaitu manusia yang menjalankan kewajibannya kepada Allah juga sudah meninggalkan dosa dzohir dan juga dosa hati, tetapi masih ada sedikit dosa hati seperti riya dan lain-lain.

Golongan keempat adalah manusia dengan nafsu muthmainnah, yaitu manusia yang mempunyai ketenanga jiwa, karena sudah dekat kepada Allah sedangkan urusan dunia walaupun tetap harus dijalankan dengan serius, tetapi tidak menjadi prioritas lagi jika dibandingkan dengan urusan akhirat. Dan  golongan nafsu ini lah titik aman, seminim-minimnya Muslim harus berada. Karena mulai dari golongan ini lah Muslim yang masuk surga, ketiga golongan dibawahnya (sebelumnya) itu tempatnya di neraka. Wallahu’alam.

Ada tiga golongan lagi di atas level muthmainnah yaitu rhodiyah, mardiyah dan kamilah, jiwa yang tenang, tawakkal dan ridho atas segala ketetapan Allah, juga tidak berduka, sedih dan cemas atas urusan dunia. Manusia yang termasuk golongan mardiyah adalah para Sahabat sedangkan golongan kamilah adalah golongan para Nabi dan Rasul Allah SWT.

Saat ini, mayoritas Muslim di dunia mengikuti ajaran Nabi Muhammad ﷺ hanya dalam perihal ibadah ritual (mahdhoh) saja, sedangkan amalan muamalah lainnya mengikuti selain Rasululah ﷺ. Seperti berpolitik mengikuti Heraclitus, pergaulan;sosial;budaya mengikuti Karl Marx dan Lenin, berekonomi mengikuti Adam Smith, teori Charles Darwin masih diajarkan kepada anak-anak kita, sejarah  dimanipulasi, kurikulum pendidikan dan hukum mengikuti warisan kafir penjajah, hukum pidana yang digunakan pada masa kolonial Belanda, Undang-undang Wetboek van Strafrecht voor Netherlands Indie menjadi Wetboek van Strafrecht (WvS), yang kemudian dikenal dengan nama Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan lain-lain.

Islam adalah agama yang sempurna. Definisi “sempurna” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah utuh dan lengkap segalanya (tidak bercacat dan bercela);  teratur dengan sangat baik; terbaik. Jadi Islam melalui al-Quran dan as-Sunnah sudah mengatur segala sesuatunya dari A sampai Z tentang kehidupan manusia di dunia, dan berlaku mulai dari mulai diturunkan hingga hari kiamat kelak. Maka sungguh ironi melihat kenyataan umat saat ini, yang “mengada-ada” aturan hidup di dunia menurut hawa nafsu mereka sendiri. Sikap seperti itu otomatis “meniadakan” hukum Allah (Islam).  Banyak sekali ayat-ayat al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah ﷺ yang dilanggar oleh umat Islam masa kini. Berikut diantaranya:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Siapa saja yang mencari agama (aturan hidup) selain Islam, sekali-kali tidak akan diterima, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

(QS Ali Imran [3]: 85).

Nabi saw. juga bersabda:

لَوْ أَصْبَحَ فِيكُمْ مُوسَى ثُمَّ اتَّبَعْتُمُوهُ، وَتَرَكْتُمُونِي لَضَلَلْتُمْ

Andai Nabi Musa as. ada di tengah-tengah kalian, lalu kalian mengikuti dia dan meninggalkan aku, sungguh kalian tersesat

(HR Ahmad).

Mengikuti Nabi Musa as. saja kita termasuk orang yang sesat, apalagi mengikuti manusia biasa (selain nabi). Seperti dicontohkan di atas.

 
مَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dzalim.
(QS Al-Maidah: 44)

مَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.
(QS Al-Maidah: 45)

احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ
maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.
(QS Al-Maidah: 47)

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ
Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.
(QS Al-Maidah: 49)

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?
(QS Al-Maidah: 50)

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.
(QS An-Nisa: 65)

Berarti mayoritas Muslim saat ini mengimani ayat-ayat tentang Ibadah ritual (mahdhoh) tetapi mengingkari ayat-ayat lainnya. Maka keimanan mayoritas Muslim saat ini dipertanyakan. Apakah benar Mu’min atau keimanannya batal karena kufur terhadap ayat lainnya?
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ

مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.”
(QS Al-Baqarah 85)

Di era modern penuh fitnah dewasa ini salah satu bidang yang ramai ditolak oleh kaum muslimin ialah bidang hukum. Allah سبحانه و تعالى memerintahkan orang-orang beriman agar ber-tauhid (mengesakan Allah) dalam bidang hukum sebagaimana keharusan ber-tauhid pada bidang-bidang kehidupan lainnya.

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ

Allah سبحانه و تعالى memerintahkan orang-orang beriman agar memutuskan perkara (menetapkan hukum) berlandaskan Kitabullah. Artinya, wajib hukumnya bagi kaum muslimin menerima dan menegakkan hukum Allah, bukan hukum manusia yang tentunya berlandaskan hawa nafsu. Bahkan dalam ayat-ayat lainnya Allah secara tegas menyatakan bahwa hak menetapkan hukum merupakan hak prerogratif Allah سبحانه و تعالى . Allah tidak memerlukan adanya sekutu alias partner di dalam menyusun hukum-Nya.

إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ يَقُصُّ الْحَقَّ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.”
(QS Al-An’aam 57)

وَلا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

“… dan Dia (Allah) tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum-Nya”.
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syetan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.”
(QS An-Nisa 60)

 

وَ لْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَ يَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَ أُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ 

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang- orang yang beruntung.

(QS Ali Imran [3]: 104)

Dalil di atas adalah dasar dari setiap kelompok pergerakan (harokah) Islam. Terdapat dalam surat Ali Imran ayat ke 104. Kelompok Pergerakan Islam (selanjutnya disebut Harokah) berdasarkan penyebarannya terbagi menjadi dua, yang pertama harokah skala lokal/nasional (seperti Muhammadiyah dan NU dll), dan yang kedua adalah harokah Internasional (seperti Jama’ah Tabligh, Salafi, Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir).

Pada awalnya, harokah-harokah tersebut lahir untuk merespon runtuhnya Negara Islam. Kemunduran Islam dimulai sekitar tahun 1700 M, Ulama-ulama di Turki Utsmani menganggap pada tahun 500 H ijtihad sudah selesai, mereka mulai mengambil hal-hal yang bertentangan dengan Islam, ajaran Islam diinterpretasikan dengan ilmu-ilmu filsafat, sehingga sangat sulit membedakan hal-hal yang madani. Ulama sendiri bingung membedakan mana yang murni berasal dari Islam dan mana yang sudah tercemar oleh ilmu filsafat. Mulai dari kaidah-kaidah fiqih hingga menafsirkan esensi Allah, yang tidak dibenarkan oleh para ulama terdahulu. Banyak hal yang tidak ada nilai (value) nya dengan nilai-nilai aqidah, tetapi dijadikan sesuatu hal yang seolah-olah itu adalah sesuatu hal yang prinsip. Berlanjut hingga runtuhnya Khilafah Turki Utsmani pada tahun 1924 M. Hampir semua harokah-harokah yang lahir pada waktu itu, adalah untuk menegakkan Khilafah kembali, termasuk harokah di Indonesia adalah NU dan Muhammadiyah. Akan tetapi banyak penghianat-penghianat Muslim yang bekerjasama dengan kafir penjajah, sehingga negara Islam yang luasnya 2/3 bumi, lintas benua, dari timur ke barat dari Maroko hingga ke Indonesia berhasil dipecah-pecah lebih dari 50 negara.

Salafi muncul pada abad 18 oleh Muhammad Abduh. Pada tahun 1926, Jama’ah Tabligh didirikan oleh Syeikh Maulana Muhammad Ilyas dan dilanjutkan oleh anaknya Maulana Muhammad Yusuf untuk merespon keruntuhan Khilafah Turki Utsmani. Ikhwanul Muslimin lahir pada tahun 1928 oleh Hasan al-Bana. Di Nusantara (dulu belum jadi Indonesia) pun terdapat pertemuan kelompok-kelompok Muslim, termasuk Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Pada tahun 1953 berdiri Hizbut Tahrir oleh Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani di al-Quds Palestina. Tahun 1976 di Pakistan muncul Jamaah Islamiyah didirikan oleh Syeikh Abu al-A’la al-Mandudi. Di Mesir lahir Tanzim Jihad dan lain-lain.

Singkat cerita, beberapa harokah tersebut masih bertahan hingga saat ini. Masih berasaskan dalil di atas yaitu Ali Imran ayat 104, akan tetapi penafsiran dari setiap harokah tersebut berbeda-beda. Berikut saya coba menjabarkannya secara sederhana:

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat   وَ لْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ

Segolongan berarti juga kelompok, dan ayat tersebut tidak membatasi hanya satu kelompok saja, bisa jadi banyak kelompok atau bisa jadi ini adalah kategori orang-orang pergerakan (aktivis) Islam.

yang menyeru kepada kebaikan   يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ

Seluruh ulama sepakat “al-khoir” disini adalah Islam. Berarti kelompok tersebut harus menyeru kepada Islam secara menyeluruh, bukan secara parsial (sebagian) hanya ke masjid saja, ibadah dzikir saja, berilmu saja, menerapkan syariat yang bisa diterapkan saja. Tentu harus menyeru kepada Islam yang kaffah menyeluruh, karena Islam adalah agama yang sempurna, tidak disebut sempurna jika dalam Islam terdapat sedikitpun kekurangan. Maka keliru jika ada kelompok Muslim yang menganggap “Sistem negara Islam sudah tidak dapat diterapkan dizaman modern ini.” Pernyataan ini sangat keliru. Penerapan syariat Islam secara kaffah lah yang dapat menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Agar syariat dapat diterapkan secara menyeluruh tidak mungkin tanpa kekuasaan (negara) dalam Islam sistem bernegara adalah Khilafah. Jika sesuatu terhalang karena tidak adanya sesuatu, maka sesuatu tersebut menjadi wajib. Jika syariat tidak dapat diterapkan secara menyeluruh karena tidak adanya institusi negara (khilafah), maka mendirikan Daulah Khilafah Islam pun hukumnya menjadi wajib. Sebelum tegak Daulah Khilafah ini, maka seluruh umat Muslim di dunia dalam keadaan berdosa karena hukum Allah yang wajib belum dapat ditegakkan.

menyuruh kepada yang makruf     يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ

Setelah menyeru kepada Islam perintah berikutnya adalah menyuruh kepada yang ma’ruf , berarti segala sesuatu yang sesuai dengan syariat Islam harus dijalankan. Ibadah, sosial budaya, ekonomi, pendidikan, politik bernegara dan sebagainya harus benar-benar mengikuti syariat Islam. Sehingga dapat menjadi rahmatan lil ‘alamin dan bisa kita buktikan bahwa umat Muslim adalah umat yang terbaik. Bandingkan dengan keadaan umat Muslim saat ini! Ya, benar! Muslim hidup tanpa syariat Islam menjadi umat terburuk yang terpuruk, dunia celaka akhirat neraka. Naudzubillahi min dzalik!

mencegah dari yang munkar      يَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

Untuk dapat mencegah dari yang munkar, maka tidak cukup dengan individu saja, jika individu munkar, ditegur oleh individu lain, atau suatu kelompok melakukan kemaksiatan, lalu ditegur oleh kelompok lain maka bukannya mencegah kemunkaran, yang terjadi malah bentrok dan pertengkaran diantara mereka. Maka yang mampu mencegah kemunkaran adalah pemerintah, polisi, militer yang mempunyai otoritas untuk menegakkan syariat.

Contoh: Jika pada hari Jum’at, ada yang tidak shalat Jum’at maka Polisi dapat menangkap dan memenjarakan orang tersebut. Jika ada yang mencuri, setelah dibuktikan dan diproses secara hukum, maka hukum Qishosh pun dapat ditegakkan. Sehingga menjadi penebus dosa bagi pelaku, dan juga menjadi contoh agar efek jera bagi pelaku dan masyarakat lainnya timbul, sehingga orang akan berpikir 1000 kali untuk mencuri.

merekalah orang- orang yang beruntung      أُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Beruntung disini adalah beruntung disisi Allah, berarti barang siapa masuk ke dalam kategori kelompok pergerakan yang berjuang mendakwahkan Islam, maka balasannya adalah surgaNYA. Karena mereka telah melaksanakan tiga perintah dalam ayat ini.  Jika kita ingin masuk surga hanya dengan ibadah saja, maka bisa dibilang itu sangat tidak mungkin. Karena sebuah kisah pernah meriwayatkan tentang ibadahnya selama 200 tahun ketika ditimbang hanya sebanding dengan nikmat sebelah (satu) bola matanya saja. Apalagi kita yang umurnya pendek (63 tahun), setengahnya (30 tahun) dipake tidur, paling total umur yang dipakai ibadah hanya 2 tahun. Oleh karena itu, orang-orang yang ikut berjuang menegakkan kalimat Allah, hukum Allah di muka bumi adalah orang-orang yang beruntung. Apalagi jika ada kesempatan mendapatkan syahid tanpa hisab ditambah dengan 40 tiket (freepass) surga bagi siapa saja (sanak saudara, teman) yang kita kehendaki. Beruntunglah orang yang mendapatkannya. Wallahu ‘alam bish showab.

Semoga bermanfaat, mohon maaf jika ada kesalahan itu karena keterbatasan pengetahuan saya. Semoga Allah mengampuni. Sebagai penutup saya ingin menyerukan kepada saudara-saudari sekalian, untuk ikut bergabung dalam perjuangan ini. Dengan cara apa, dengan cara ikut belajar mengkaji Islam bersama kami, sempatkan waktu sekitar 2 jam dalam satu minggu secara rutin. Kami ada di seluruh dunia, dimanapun anda berada. In sha Allah.

Formulir online: https://www.hizbut-tahrir.or.id/gabung