يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka . (at-Tahrim: 6)

Jadi siapa sebenarnya keluarga kita? Siapa yang harus kita jaga dari api neraka? Apakah hanya keluarga sedarah kita? Egois sekali jika kita (Muslim) hanya memikirkan diri sendiri tetapi tidak peduli keluarga Muslim lainnya (Indonesia & dunia).

Sahih Bukhari mengartikan kata “saudara” sebagai saudara sedarah yang berasal dari satu ayah atau satu ibu dan arti lainnya adalah: Muslim lain. Sebanyak 209 Hadis merujuk pada kata “saudara” dari mereka, 96 hadis merujuk pada saudara satu keturunan. Sisanya adalah 209–96 = 113 Hadis tentang persaudaraan spiritual, se-akidah/saudara seiman. Itu berarti Muslim adalah satu keluarga, satu kaum, satu umat dihadapan Allah.

Prinsip ini penting sekali untuk diingat karena ini menunjukkan bahwa cinta seorang Muslim tidak mencakup Kafir. Oleh karena itu, Hadis tidak menerapkan Golden Rule (Prinsip Emas), bahwa Muslim memberlakukan SEMUA orang sebagai saudara. Kafir berada diluar persaudaraan Muslim. Dalam Islam, Prinsip emas hanya dibatasi pada sesama Muslim.

Contoh pentingnya keluarga se-akidah:
Nabi Nuh AS, ketika anaknya Khan’an menolak ikut Ayahnya naik perahu berkata “Yaa Allah, anakku… anakku…” kemudian Allah menjawab “Dia bukan anakmu…”

Istri Nabi Luth AS, ketika berkhianat kepada suaminya dan tidak mengikuti jalan suaminya, sehingga istri Nabi Luth pun terkena ketika Allah menurunkan azabNYA.

Sesungguhnya, hati setiap Muslim itu mempunyai hubungan khusus. Mungkin bagi kita yang tinggal di negara mayoritas Muslim, tidak akan terlalu merasakannya, tetapi bagi saudara-saudara kita yang tinggal di negara mayoritas non-Muslim dan tinggal di daerah konflik pasti akan sangat merindukan rangkulan dari saudara se-akidahnya.

Sungguh mengkhawatirkan, kenyataan saat ini Muslim seperti anak jalanan yang tidak mempunyai arah dan tujuan hidup. Tidak ada orang tua sebagai panutan, tidak ada tempat berlindung, tidak ada yang menjamin keamanannya, tidak ada yang menjamin kebutuhan hidupnya, tidak ada yang menjamin kesehatan dan kesejahteraannya. Setelah runtuhnya Khilafah Turki Ustmani tahun 1924, seluruh negara-negara Islam dibagi-bagi, Indonesia milik Belanda, Malaysia milik Inggris, Filiphina milik Spanyol dan lain-lain. Negara-negara Muslim kemudian dicekoki dengan paham Sekularisme, generasi muda Muslim dididik dengan kurikulum Sekular, Sejarah Islam dihapuskan lalu dimanipulasi, dalam kurikulum Sekular pelajaran agama Islam nyaris ditiadakan karena dianggap tidak penting. Sehingga lahirlah generasi individualis, generasi materialis, hedonis, liberalis, nasionalis, rasis yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan keluarga terdekatnya saja. Keuntungan/manfaat menjadi landasan berpikir sebelum bertindak, jika ada manfaat baginya, dia akan lakukan, jika tidak maka mereka tidak akan peduli dengan hal itu.

youtube-haji-live

Manusia yang serba lemah, serba terbatas, serba kekurangan, serba ketergantungan yang memiliki naluri menyembah ini, sok tahu, ingin mengatur sendiri kehidupan dunia dan mengabaikan aturan dari Pencipta Dunia yang sebenarnya. Allah hendak menguji kita, tetapi jika kita tidak segera kembali ke jalanNYA maka azab demi azab akan terus menghampiri kita. Berhentilah memikirkan diri sendiri saja, pikirkan keluarga besar kita juga, jangan takut dengan manusia, takutlah hanya kepada Allah saja. Mari kita buang jauh-jauh egoisme diri kita, ketidakpedulian kita. Sudah saatnya kita peduli dengan saudara se-akidah kita, keluarga besar kita, bersatulah Muslim semua.

Umur kita yang sedikit, dan ibadah kita yang tidak ada apa-apanya tidak akan cukup membawa kita ke surgaNYA. Pernahkah kita berpikir, ibadah kita yang sedikit ini ditolak oleh Allah??? Pikirkanlah saudaraku. Kebanyakan dari kita sudah merasa banyak ibadah, banyak pahala dan layak masuk surga, bagaimana jika ketidakpedulian kita terhadap saudara se-akidah kita mengeluarkan kita dari kelompok/kategori orang yang beriman? Kita hidup untuk mencari RidhoNYA, jika hanya mengurusi shalat, zakat, puasa, haji dan nikah saja al-Quran tidak akan setebal itu (30 juz), mungkin cukup 10 lembar saja. Al-Quran mengatur ibadah hanya -+ 5%, sisanya yang 95% mengatur muamalah. Al-Quran adalah sumber hukum yang lengkap, lalu mengapa kita masih menggunakan hukum Belanda, wong Belanda aja udah kagak pake lagi itu kitab hukumnya. Bayangkan umat yang besar ini memiliki satu pemikiran yaitu pemikiran Islam, satu ideologi yaitu Ideologi Islam, maka akan jayalah umat ini. Kita bersama-sama melakukan penyadaran umat akan pentingnya menerapkan syariah secara kaffah, dan tidak ada metode yang mampu menerapkan syariah secara kaffah kecuali tegaknya Daulah Khilafah. Wallahu ‘alam bishowab.