Perlu disadari oleh setiap individu Muslim, apa yang terjadi di dunia pada saat ini? Ada perang besar di dunia yaitu perang pemikiran. Sejarah mencatat ada tiga asas ideologi besar, Islam, Komunisme, Sekularisme. Islam sudah runtuh pada tahun 1924, dan Komunis runtuh pada tahun 1991, tinggalah satu-satunya yang ada adalah Sekularisme. Apapun dilakukan untuk menjaga Sekularisme ini tetap ada, dan yang menjadi ancaman terbesarnya adalah Islam. Apapun dilakukan juga untuk membendung tegaknya kembali kejayaan Islam.

Upaya pencegahan bangkitnya umat Islam salah satunya adalah dengan menebar paham Sekularisme di tengah-tengah umat Islam. Yaitu pemisahan agama dari kehidupan, agama hanya ada pada individu saja. Saai ini, virus Sekularisme sudah berevolusi menjadi mahluk baru, setelah virus itu menggerogoti induk-induk (nenek moyang)nya beberapa generasi yang lalu. Saat ini bentuk virus Sekularisme sudah tidak ada lagi, tetapi sudah menjadi mahluk baru yang built-in didalam pemikiran mayoritas manusia di dunia. Hal ini dibuktikan dengan penurunan kualitas individu Muslim dari generasi ke generasi. Kenapa dengan mudahnya virus itu menyebar? Karena virus itu disebarkan melalui hal-hal yang memang disenangi oleh manusia, seperti: media bacaan (majalah, tabloid, komik), film, musik, tv, gaya hidup hedonis, materi yang melenakan, aurat wanita yang menyilaukan mata, khamr  dan lain-lain. Dan untuk mendapatkan itu semua dibutuhkan materi, sehingga lahir pemikiran materi adalah prioritas utama dalam hidup, dan menjadikannya sebagai standar kesuksesan dengan mengabaikan syariat Islam dalam mendapatkannya, hal ini juga berhasil ditanamkan kepada umat Muslim. Di era 70’an ada istilah yang trend dikalangan anak muda saat itu, yang sebenarnya adalah rumusan sekularisme yaitu,”sex, drugs & rock ‘n roll” atau seks bebas, alkohol dan narkotika dan musik sebagai gaya hidup manusia modern (hedonis) yang menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. Dengan tujuan menghancurkan ke-Islam-an seluruh Muslim dari dalam (internal) orang Islam sendiri. Karena sedikit-banyak pengaruhnya, hal-hal yang melenakan tersebut dapat menjauhkan umat dari kesadaran bahwa dirinya terikat oleh syariat. Hingga sampai pada tahap “ketidaksadaran diri” umat bahwa sebenarnya dirinya adalah orang yang berpaham Sekular.

Sekularisme ini menyerang Islam dengan pernyataan, “Islam itu tidak dapat menyesuaikan zaman”. Ketika pemuka Islam diberi pertanyaan, “Apakah Islam dapat menyesuaikan dengan zaman?” Maka demi menjawab pertanyaan itu, “orang-orang berilmu agama” pun berani menyederhanakan hukum dengan interpretasi dalil yang dianggap sesuai untuk kondisi yang ada. Ketika membuat ijtihad/interpretasi itu entah mereka dalam keadaan takut (dalam tekanan) atau memang mengikuti hawa nafsunya sendiri. Sampai saat ini (saking sudah terbiasanya), manusia tidak lagi merasa berdosa membuat hukum-hukum untuk diterapkan kepada masyarakatnya. Mengabaikan syariat yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Ada pendapat bahwa keyakinan terhadap Tuhan (agama) itu berbahaya bagi kehidupan. Dalam bahasa Lenin, keyakinan terhadap agama adalah “candu” masyarakat dan “minuman keras” spiritual. Dalam manifesto politiknya, Lenin secara ekstrem menyebut agama sebagai salah satu bentuk penindasan spiritual yang dimana pun dia berada, amat membebani masyarakat (Lenin, 1972: 83-87)

Jika kita membandingkan kondisi saat ini dengan siroh, maka akan kita dapati kondisi yang sama persis dengan fase Mekkah (bahkan menurut saya lebih jahil lagi saat ini). Rasulullah ﷺ (Muslim) direndahkan, dihina, didzolimi, bahkan Rasulullah Saw hampir dibunuh, karena mengungkapkan kekufuran sistem pada waktu itu dan menawarkan solusi Islam. Sedikit sekali yang beriman selama 13 tahun di Mekkah, yang beriman dan mengikuti jalan Islam hanya -+ 200 orang. Rasulullah Saw berdakwah untuk menerapkan syariah Islam (bahasa orang saat ini: utopia, hayalan tingkat tinggi, ngomong doang, gak ada action-nya dan lain-lain). Walaupun demikian, tetap Rasulullah ﷺ dengan sabar dan istiqomah menjalankannya sambil terus mendatangi Ahlul Quwwah untuk Tolabun Nushroh. Terbukti, ketika Daulah Islam tegak di Madinah, dalam kurun waktu 10 tahun sudah dapat membebaskan dan mempersatukan bangsa-bangsa Arab, dan 12 tahun setelah Rasulullah ﷺ wafat, Islam sudah masuk ke bumi Nusantara dan Islam menaungi 2/3 bumi. Sejarah mencatat, tidak pernah ada peradaban sebesar peradaban Islam. Hanya dengan sistem Islam lah, bumi ini jadi barokah, umat Islam adil dan sejahtera, kafir dzimmi dilindungi, bahkan sejarah juga telah mengatakan, bahwa banyak kaum kafir yang ingin tinggal di negara Islam, hal itu karena jaminan adil dan jaminan kesejahteraan yang ditawarkan oleh Islam.