Kehidupan Rasulullah ﷺ adalah kehidupan dakwah, yakni kehidupan mengemban risalah Islam untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia secara kaffah serta perjuangan menghadapi segala bentuk pemikiran kufur dan kehidupan jahiliyah.

Selama 23 tahun, Rasulullah ﷺ berjuang dengan sungguh-sungguh, tak kenal lelah, berdakwah terus-menerus, mengajak manusia pada Islam dengan dakwah fikriyah, dakwah siyasiyyah dan dakwah askariyyah.

Disebut dakwah fikriyyah karena Beliau memulainya dengan menyebarkan akidah, pandangan hidup, pemikiran dan pemahaman Islam. Itu dilakukannya berbarengan dengan upaya mendobrak segala bentuk pemikiran kufur, pandangan hidup sesat serta menghancurkan semua bentuk kepercayaan (tradisi) jahiliyah. Selama 13 tahun Rasulullah ﷺ mendakwahkan fikriyyah Islam, pemikiran Islam, tauhid. Dalam fase awal ini Rasulullah ﷺ hanya fokus mendakwahkan Islam, memperkenalkan Islam kepada umat yang ada di Mekkah, menjelaskan kekufuran-kekufuran yang mereka lakukan, kekufuran sistem yang mereka jalankan. Pada saat itu, mereka tahu bahwa Tuhan mereka adalah Allah, tetapi mereka tidak mau menyembah Allah, yang mereka sembah adalah berhala-berhala (buatan manusia). Mereka melanggar syariat-syariat yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ.

Ketika Rasulullah ﷺ menjelaskan kebenaran dalam menyembah Allah, mereka pun menolak. Walaupun mereka tahu Tuhan mereka adalah Allah, tetapi keimanan mereka berdasarkan warisan nenek moyang mereka dan perkataan ulama-ulama mereka. Mereka menyembah ulama-ulama mereka dengan cara mengikuti apa yang ulama-ulama mereka ajarkan, sedangkan ulama mereka itu mengharamkan yang telah Allah halalkan dan menghalalkan yang telah Allah haramkan, itulah bentuk penyembahan mereka kepada ulamanya.

Ketika Rasululah ﷺ hendak meluruskan kesesatan itu, mereka malah menghujat, menghina, menyerang Rasulullah bahkan mereka mengatakan kepada Beliau, bahwa Rasulullah ﷺ telah murtad dari agama nenek moyangnya (founding father) yang membentuk kabilah-kabilah mereka. Mereka menganggap pemikiran nenek moyangnya (Thaagut) dan wilayah kekuasaan yang mereka miliki adalah harga mati. Tak bisa dan tak mungkin dapat dirubah sampai kapanpun. Dengan tidak mengikuti perkataan Rasulullah ﷺ, mereka menyepelekan Kekuasaan Allah SWT, menganggap Allah tidak mampu untuk merubah keadaan mereka saat itu, sedangkan mereka yakin Tuhan mereka adalah Allah SWT. Itulah sebabnya zaman itu disebut zaman jahiliyyah. Karena mereka fanatik buta dan tidak mau menggunakan akalnya untuk berpikir.

Kondisi di Mekkah pada saat itu, banyak sekali kemaksiatan, banyak sekali kejahilan yang mereka lakukan, seperti dalam hal kebudayaan, sosial, politik kepemimpinan, perekonomian dan lain-lain. Rasulullah ﷺ ketika itu tidak bisa berbuat apa-apa, karena tidak ada kekuatan yang menopang dakwahnya, hanya beberapa orang Sahabat yang terus dibina dan setia menemani Beliau dalam berdakwah. Tidak satu aspek kehidupan pun (ekonomi, sosial, kebudayaan dan lain-lain) yang Rasulullah ﷺ rubah atau perbaiki di Mekkah (secara parsial), Rasulullah ﷺ tetap fokus berdakwah dengan cara (marhalah):

  1. Membina Sahabat

Disebut dakwah fikriyyah karena Beliau memulainya dengan menyebarkan akidah, pandangan hidup, pemikiran dan pemahaman Islam. Pada saat itu, jumlah Sahabat yang dibina hanya sedikit, walaupun jumlahnya sedikit Rasulullah ﷺ membina orang-orang yang berkualitas, orang yang hebat, orang-orang pilihan, yang dengan potensinya mereka mau menerima ajakan dan ajaran Rasulullah ﷺ. Sehingga mereka layak menjadi pengemban dakwah meneruskan risalah Rasulullah ﷺ.

 

  1. Berinteraksi dengan Umat

Setelah turunnya ayat tentang dakwah secara terang-terangan, maka Rasulullah ﷺ pun mulai berdakwah dan berinteraksi dengan umat. Penolakan-penolakan pun muncul dari banyak pihak, tetapi Rasulullah tetap konsisten menjelaskan kekufuran sistem yang mereka gunakan dan memberikan solusi dari masalah mereka yaitu risalah yang diturunkan Allah SWT, syariat Islam.

 

  1. Meminta Kekuasaan (Thalabun Nushroh)

Disebut dakwah siyasiyyah karena didalam dakwah ini Beliau mengarahkan umat pada terbentuknya suatu kekuatan sebagai pelindung dan pendukung agar Islam menjadi rahmat dan tersebar ke seluruh dunia.

Rasulullah ﷺ mendatangi seluruh kabilah-kabilah di Mekkah satu per satu untuk meminta kekuasaan mereka (wilayah, pasukan, aturan, rakyat) secara penuh kepada ahlul quwwah (pemilik kekuasaan). Hampir seluruh kabilah di Mekkah tidak ada yang mau memberikan kekuasaan mereka, untuk menopang dakwah Rasulullah ﷺ dan untuk dijadikan daulah Islam. Ada satu kabilah di Mekkah yang mau memberikan kekuasaannya, tetapi dengan syarat, kelak setelah Rasulullah ﷺ meninggal dunia, kekuasaannya itu harus diteruskan oleh keturunannya. Rasulullah ﷺ pun menolaknya dengan tegas. Rasulullah ﷺ menginginkan keikhlasan dan keteguhan hati dari ahlul quwwah dalam mendakwahkan syariah dan mendirikan daulah Islam.

Pada suatu ketika, ada dua kabilah dari Madinah, suku Aus dan Khazrat yang mengadakan perjalanan ke Mekkah. Mereka sebelumnya sudah mendengar bahwa telah datang seorang Nabi dan Rasul di Mekkah. Setelah bertemu dengan Rasulullah ﷺ akhirnya mereka pun bersedia menyerahkan kekuasaannya secara penuh kepada Rasulullah ﷺ, maka mulailah persiapan hijrah untuk mendirikan daulah Islam di Madinah.

 

Adapun dakwah askariyyah adalah dakwah yang dilancarkan melalui strategi dan taktik dalam jihad fi sabilillah oleh negara (dawlah). Setelah berdirinya daulah Islam di Madinah, dalam kurun waktu 10 tahun, perkembangan Islam sangat pesat. Dan pada saat Beliau meninggal dunia, maka SEMPURNA sudah ISLAM sebagai aturan kehidupan di dunia dan sebagai agama (keakhiratan). Dengan adanya daulah Islam, maka Rasulullah ﷺ dapat menyebarkan Islam ke negara-negara lain, dengan cara mengirim utusan dengan membawa pesan agar pemimpin di negara tersebut mau menerima dan masuk agama Islam, jika tidak mau maka mereka diminta untuk membayar jijyah (pajak) kepada Rasulullah, jika tidak mau juga maka penguasa (pemimpin pemerintahan dan militernya) akan diperangi, sehingga cahaya Islam dapat masuk ke negara tersebut dan rakyatnya dapat memilih untuk masuk agama Islam atau menjadi kafir jimni (kafir yang tunduk pada hukum Islam). Sehingga Islam dapat tersebar ke penjuru dunia.

 

Rasulullah ﷺ sukses dalam mengemban dakwah, membina dan membentuk masyarakat Islam, mendidirikan daulah serta menghimpun umat manusia yang sebelumnya terpecah-belah dalam berbagai kabilah (nasionalisme/kebangsaan/negara) menjadi umat yang satu dibawah bendera Islam. Segala permasalahan umat teratasi, tidak ada lagi pelanggaran syariah (hukum), tidak ada lagi ketidakadilan, yang ada adalah keamanan dan kesejahteraan, kejayaan, kehormatan dan wibawa umat Islam yang tersebar ke seantero bumi. (Jadi Daulah Islamlah yang meng-Islamkan Bumi Nusantara).

Kesuksesan Rasulullah ﷺ dalam mengemban dakwah tentunya karena apa yang Beliau lakukan merupakan wahyu dari Allah SWT, Zat Yang Maha Mengetahui kebutuhan hambaNYA. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

إِنْ أَتَّبِعُ إِلا مَا يُوحَى إِلَيَّ 

Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. (QS al-An’am [6]: 50).

Oleh karena itu, umat Islam yang ingin bangkit harus menempuh jalan dakwah yang lurus dengan metode (thariqoh) yang benar dengan cara memahami perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ secara keseluruhan. Dengan cara ini kejayaan Islam, insya Allah, akan dapat dicapai untuk kedua kalinya. Allahlah yang menurunkan agama ini sebagai din al-haq. DIA pula lah yang mengokohkan dan memenangkannya dari musuh-musuh Islam, sekalipun mereka berusaha sekuat tenaga untuk melenyapkannya.