Di suatu negeri, ada satu keluarga besar yang jumlah keluarganya sangat banyak. Keluarga ini mempunyai warisan dari nenek moyangnya sebuah kebun cabe. Karena keluarga ini sangat menyukai makanan pedas, tiada hari tanpa makan pedas, jadi tiada hari tanpa cabe.

Karena suatu hal, pengelolaan perkebunan cabe ini pun diambil alih dan dikelola oleh satu orang. Kemudian, orang ini menjadi sukses sendiri dan sangat perhitungan sekali terhadap keluarganya. Karena meng-claim memiliki perkebunan cabe tersebut, maka peraturan-peraturan yang diterapkan tidak lagi rasional, lebih kepada mengikuti hawa nafsunya.

Suatu hari, si penjual cabe sedang menghitung biaya dari mulai menanam bibit sampai panen cabe. Setelah dihitung-hitung, akhirnya diketahui total biaya cabe yaitu Rp. 1.000/kg. atau Rp. 1.000.000/ton, sekali panen.

Setiap kali panen menghasilkan kurang-lebih sekitar 1 ton. Harga pasaran cabe di luar saat ini di angka Rp. 15.000/kg. Jadi JIKA DIJUAL di pasar, maka estimasi pendapatan bruto sekitar Rp. 15.000.000/ton.

Penjual cabe ini memiliki keluarga yang banyak, dan membutuhkan cabe tersebut. Maka mau tidak mau harus dijual ke keluarga saja. Karena DIJUAL kepada keluarga sendiri, maka seluruh keluarga besarnya meminta SUBSIDI, karena harga Rp. 15.000/kg dinilai terlalu mahal. Dengan berat hati Penjual Cabe pun MENSUBSIDI Cabe itu sebanyak Rp. 8.200/kg, maka harga jual cabe tersebut menjadi Rp. 6.800/kg.

Keluarga besar, walaupun merasa keberatan membayar apa yang sebenarnya juga milik mereka, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Terpaksa seluruh keluarga besar membeli cabe milik dia sendiri (milik sendiri kok bayar?). Si Penjual cabe, tidak pernah transparan, tidak pernah memberitahukan berapa sebenarnya biaya modal pengelolaan cabe, yang keluarga besar ketahui hanyalah keluhan dari si penjual cabe “Saya rugi, harus mensubsidi kalian terus!” atau keluhan lainnya “Saya kurangi subsidi kalian ya? Biar saya gak terlalu rugi banyak!”

Sekarang pertanyaannya. Apakah si penjual cabe itu benar-benar rugi???
Mari kita hitung:

Dijual ke keluarga Rp. 6.800/kg
Biaya/modal cabe Rp. 1.000/kg    _
——————————————
Selisih penjualan  Rp. 5.800/kg
Dikalikan dengan        1.000 kg x
——————————————
Total Keuntungan Rp. 5.800.000

JADI RUGINYA DIMANA???
Inilah keserakahan si penjual cabe. Kerugian yang dia gadang-gadangkan ternyata kerugian fiktif belaka. Beruntunglah si penjual karena seluruh keluarga besarnya belum menyadari keraskusannya.

Serapat apapun kebusukan ditutup-tutupi, pasti akan tercium juga. Begitulah cerita si pedagang cabe yang untungnya sampai berlipat-lipat ganda dari modal, tetapi merasa rugi. Cerita ini belum ada terusannya, karena sampai saat ini, dari generasi ke generasi masih terjadi seperti itu.
Yang diganti hanya orangnya saja, dari si A ke si B, dari si B ke si C, begitu seterusnya.

Solusi untuk mengatasi pengambil alihan hak milik umum yang dimiliki oleh pribadi (swasta) ini hanya satu, yaitu perubahan dasar sistem yang bobrok, yang merugikan keluarga besar.

Ibarat sebuah rumah tua reyot, kalau hanya diganti sebagian-sebagian saja, tidak akan menyelesaikan masalah. Harus dirobohkan dulu, lalu dibangun lagi dari nol, dengan pondasi yang kuat dan kokoh.

Sekian…