Jika kita hendak bepergian, apa hal yang paling penting kita ketahui?

Hal yang paling penting pertama adalah tujuan. Mau kemana?
Hal yang paling penting kedua adalah tahu jalan menuju ke tujuan. Dari mana lewat mana sampe kemana?
Hal yang paling penting berikutnya adalah menggunakan alat transportasi apa. Lewat darat, laut atau udara?
Hal yang juga sangat penting adalah, setelah sampai tujuan apa yang akan dan harus dilakukan? Mau ngapain disana?

Jika kita tidak tahu tujuan, tentu selama diperjalanan kita tidak akan tentu arah. Saya ambil contoh tentang pendidikan. Di Indonesia, apa hal yang paling penting dalam pendidikan? Tujuan sekolah, sekolah dimana, bagaimana kurikulumnya, setelah lulus mau kerja apa? Semua jawabannya tidak tahu! Kenapa? Karena pendidikan di Indonesia tidak jelas. Kurikulum pendidikan tidak terkonsep dengan baik, dari tahun ke tahun perubahan kurikulum hanya memindahkan BAB I ke BAB II, BAB III ke BAB IV, apa bedanya kurikulum 2006 dengan kurikulum 2013? Ya betul, yang beda hanya tahunnya, konsepnya tetap tidak jelas. Kenapa bisa terjadi, karena pendidikan berdasarkan Sekularisme hanya teoritis semata, bukan pendidikan praktis.

Dalam Islam, pendidikan diatur sangat sempurna. Contoh dalam hal mendidik anak—mungkin dalam dunia Sekularisme pendidikan anak dimulai ketika si anak mulai masuk usia Taman Kanak-kanak—di dalam Islam, jauh sebelum anaknya lahir, mulai dari memantaskan diri untuk menjadi Ayah yang amanah, juga sejak mencarikan calon Ibu dari anak kita, karena ketika si Ayah mencari nafkah, si Ibu lah yang mendidik anak kita di rumah.

Peran Ibu dalam pendidikan awal anak adalah dengan memperbanyak tilawatu al-Quran pada saat mengandung, menyusui sampai balita, sehingga si anak sangat “familiar” dengan lantunan ayat Allah. Rumah adalah madrasah pertama bagi anak, dan gurunya orang tua. Ada istilah “Orang tua itu lebih baik dari pada 100 orang guru”, kenapa karena si anak akan menduplikasi apa yang dilakukan orang tuanya di rumah.

Pendidikan dasar dalam Islam adalah Aqidah Akhlak, al-Quran Hadis dan Fiqih Syariah. Jika pola didik seperti ini sudah diterapkan, maka dalam suatu generasi, pasti lahir generasi penghafal Quran dan Hadist sebelum akhil baligh, Aqidahnya kuat, akhlaknya baik, ibadahnya benar (sesuai dalil), pola hidup yang sehat, cerdas wawasannya, mandiri, pintar memanfaatkan waktu, pandai melawan hawa nafsu dan ketika dewasa pasti bermanfaat bagi umat.

Jadi, anak-anak Muslim sejak kecil sudah terbiasa dengan kebiasaan baik (good habbit). Mau menjadi apapun kelak, in sya Allah akan menjadi pribadi yang hebat. Pada saat tiba menjadi mukallaf (masuk akhil baligh/terikat oleh hukum syariat) maka dia sudah terbiasa hidup dengan syariat, tidak akan terkejut dengan terikat oleh syariat, menjalani syariat dengan senang hati dan tanpa merasa terbebani. Yang terjadi di masyarakat Indonesia saat ini malah sebaliknya.

Contoh:
Pada saat mencuci pakaian, si Ibu memanggil anak laki-lakinya: “Nak, kamu sudah mimpi basah ya? Berarti kamu sudah baligh. Mulai besok kamu wajib bangun shalat shubuh dan 5 waktu, kalau tidak shalat kamu dosa!”
Anak menjawab: “Kok tiba-tiba kalo gak shalat saya berdosa, kemaren-kemaren saya gak shalat shubuh aja gak apa-apa Bu!”

Contoh berikutnya:
Si Ibu sedang mengurus anak perempuannya pada hari pertama haid: “Nak mulai sekarang kalo keluar rumah harus pakai jilbab ya. Kamu gak boleh lagi menampakkan auratmu Nak!”
Kemudian si anak pun terkejut, karena tidak dibiasakan dengan jilbab. “Kok saya tiba-tiba harus pake jilbab, gara-gara saya menstruasi Bu? Kemaren-kemaren saya gak apa-apa gak pake jilbab?”

Jika tidak dibiasakan sejak dini, maka akan ada penolakan-penolakan. Akan ada alasan-alasan keberatan. Malah bisa jadi mereka akan mencari (mengada-ada) dalil yang akan menjadi pembenaran bagi mereka. Alah bisa karena biasa, mungkin istilah itu cocok dengan bagaimana pola didik kita kepada anak kita.

Islam adalah pendidikan praktis, apa yang dipelajari adalah untuk dipraktekkan, dilakukan, diamalkan. Jadi, apabila si anak sudah menyelesaikan dan memahami pendidikan dasar Islam tadi, bisa langsung diarahkan ke arah mana bakat dan kemauan si anak. Sehingga si anak fokus belajar suatu bidang yang akan menjadi pekerjaannya.

Contoh:
Jika ada anak yang menyukai suatu bidang, walaupun belum baligh (kira-kira usia lulus SD-SMP), ketika selesai belajar dasar Islam, maka Negara harus memfasilitasi dan mendukung penuh segala kebutuhan anak itu.
Si A sangat menyukai astronomi, Si B cenderung memilih anatomi, si C memilih menjadi ahli biologi, si D ahli fisika, si E suka kimia, si F bahasa asing dunia dan lain-lain.
Tugas negara dalam hal ini adalah memfasilitasi bibit-bibit unggul ini sejak dini, difokuskan untuk mempelajari apa yang akan menjadi profesinya kelak. Sehingga, pada usia masih relatif muda/dewasa si anak sudah sangat ahli dalam bidangnya.

Inilah yang disebut Islam itu praktis, contoh di atas baru mengenai pendidikan, dan itu berlaku bagi seluruh aspek kehidupan, baik ekonomi, budaya, sosial, politik dan negara. Bukan teori, seperti yang diajarkan Sekularisme, pendidikan (materialisme), sosial (individualis), budaya (hedonis), ekonomi (kapitalis), politik (oportunis), negara (Kapitalisme-Sekular). Hampir seluruh mata pelajaran dari SD sampai SMA tidak terpakai (gak ada gunanya). Hanya menghabiskan umur memperlambat kemajuan si anak.

Intinya adalah asas dari suatu pemikiran sangatlah penting, jika asasnya Sekularisme, segala aturan-aturan, kebijakan-kebijakan, program-program apapun itu turunannya pasti akan bertolak belakang dengan Islam, karena di Indonesia menjalankan Sekularime-nya tidak secara kaffah. Kenapa, karena ideologi Sekularisme ini tidak cocok diterapkan di negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Jika suatu negara ingin maju maka harus sinkron antara ideologi negara dengan ideologi rakyatnya. Contoh: Uni Soviet dengan Sosialis-Komunisnya (walau sudah runtuh pada tahun 1991), Amerika dengan Kapitalisme-Sekularisme-nya (saat ini satu-satunya ideologi yang ada di dunia).

Jadi bagaimana jika ingin negara kita (Muslim) maju dan berkuasa menjadi negara adidaya? Caranya adalah menyingkronkan antara ideologi negara (Islam) dengan ideologi masyarakat (Muslim). Melalui apa? Sistem negara Khilafah (Rasyidah ala minhajin Nubuwah). Dengan tegaknya Khilafah, tidak ada satupun warga yang tidak makan, tidak ada satupun orang yang sakit takut pergi ke rumah sakit, tidak ada satupun orang yang tidak sekolah, tidak ada satupun keluarga yang tidak memiliki rumah.

Wallahu’alam.