fdtrfedtr

Pacaran Islami, Maksiat atas Nama Agama

Sobat muda, pernah nggak kalian mendengar istilah pacaran islami? Pasti pernah kan? Yupz, pacaran islami, istilah ini sebenarnya biasa dipakai oleh remaja yang nggak mau diklaim sebagai aktivis pacaran seperti anak-anak muda kebanyakan. Mereka mengaku pacarannya masih dalam batas koridor-koridor agama.

Nah, aktivis pacaran islami, mengklaim tidak berbuat maksiat malah justru katanya, pacaran mereka itu bisa menambah kualitas keimanan pasangan loh? Apa contohnya? “Contohnya, shalat 5 waktu ada yang ingetin, suka dibangunin untuk shalat tahajud malem-malem, ngajak ngaji, dll”. Itu ibadahnya karena Allah apa karena takut sama pacar? “Eh, kami nggak pacaran ding, tapi ta’arufan”. Ta’arufan kok masih sekolah? Mau berapa lama ta’arufan-nya? 6 tahun lagi? “-_- Aneh-aneh ajah, maksiat kok maksa.

Sobat, Islam nggak ngajarin aktivitas pacaran, apapun alasannya, meskipun ada embel-embel unsur keagamaan. Nggak ada istilah pacaran islami, pacaran Qur’ani, apalagi pacaran lintas agama. Semua aktivitas yang berbau badan, eh maksudnya yang berbau unsur berpacaran jelas dilarang dalam islam. Allah berfirman: “Dan janganlah kalian mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(Al-Israa’:32)

images

Pacaran adalah salah satu pintu gerbang untuk menuju jalan perzinahan, sekalipun itu berstatus LDR (Long Distance Relationship) alias pacaran jarak jauh. Sama halnya dengan yang lain, pacaran islami pun tidak ada dalam islam, tidak ada satu ayat dan hadist pun yang membenarkan pacaran islami. Karena, ya memang nggak ada tuh yang namanya pacaran islami, kalo pengobatan islami banyak.

Bagi yang saat ini masih menggeluti dunia perpacaran, mau apapun itu namanya, coba simak hadist berikut ini:

“Ditikam seseorang dari kalian di kepalanya dengan jarum dari besi, itu lebih baik daripada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.” (HR. ath-Thabrani).

Walaupun para aktivis pacaran islami mengklaim tidak melakukan sentuhan langsung dengan lawan jenisnya, namun tetap saja, apapun namanya, pacaran itu dilarang. Karena meskipun ada embel-embel islami-nya, tidak menjadi jaminan untuk pelakunya menghindari kemaksiatan.

1460112_325951967544699_274767461_n

Nah, sobat muda yang saat ini sudah terlanjur terjun dalam aktivitas pacaran, entah itu pacaran islami, pacaran syariah, pacaran qur’ani atau yang lain sebagainya. Mumpung nyawa masih di kandung badan, masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri dan melepaskan jerat-jerat fatamorgana dunia yang melenakan.

Yuk kita sama-sama segera mohon ampunan kepada Allah SWT, dan jangan lagi pernah ikut-ikutan dengan yang namanya pacaran. Contohlah generasi-generasi para sahabat, yang diusia belia tidak memilih untuk pacaran, justru malah menjadi pionir-pionir dakwah islam.

Usama bin Zaid, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, dan para sahabat Rasul lainnya, meskipun berusia masih sangat muda, waktu yang mereka habiskan tidaklah untuk berpacaran, justru beliau-beliau inilah yang pada saat itu menjadi tokoh pemuda yang kehadirannya mampu membawa Islam Berjaya. Lah, kalau kita?

Sobat, daripada pacaran islami, lebih baik menjadi kader dakwah islami, yang menjadikan islam sebagai nafas dalam melakukan aktivitas-aktivitasnya. Memperjuangkan kembali tegaknya kejayaan Islam, karena Islam saat ini sedang diserang oleh musuh-musuh Allah, baik fisik maupun pemikirannya. Sesungguhnya pacaran itu adalah alat yang dipakai oleh musuh-musuh Allah untuk menjebak pemuda-pemudi Islam, agar tidak memperjuangkan Islam sebagaimana generasi awal umat islam.

So, untuk sobat muda di manapun kalian berada, jangan mudah tertipu dengan tipu daya setan dan sekutunya. Alih-alih ingin menambah keimanan dengan alasan pacaran ala islam, yang ada malah kita terjerat pada lembah hitam kemaksiatan. Karena istilah “pacaran islami hanya topeng untuk melanggengkan kemaksiatan atas nama agama”. Nah, maka dari itu, mari sobat muda, kita perjuangkan Islam, agar Islam kembali Berjaya di atas Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya. [sumber: mediaumat edisi 142, hal 13]