Setiap individu Muslim yang mementingkan urusan agamanya harus mengetahui bahwa satu ayat ataupun satu hadis yang dibacanya bukanlah dimaksudkan untuk dirinya semata, tetapi juga ditujukan untuk seluruh umat manusia. Bahkan kalaupun seruan Allah itu ditujukan kepada Rasulullah ﷺ maka hakikatnya ia ditujukan bagi seluruh umatnya, selama tidak ada dalil yang menyatakan bahwa seruan tersebut khusus untuk Beliau. Oleh karena itu, ketika Allah SWT memerintahkan seorang Muslim untuk beriman, maka perintah itu berlaku bagi dirinya dan yang lainnya. Ketika Allah SWT memerintahkan seorang Muslim untuk hanya menyembahNYA, maka perintah itu berlaku untuk dirinya dan yang lainnya. Demikian pula, ketika Allah SWT memerintahkan seorang Muslim untuk hanya berhukum dengan hukum Allah, maka perintah itupun berlaku bagi dirinya dan yang lainnya.

Definisi Dakwah

Dakwah, menurut makna bahasa (etimologis), adalah panggilan, ajakan, undangan, seruan, himbauan ataupun propaganda (Al-Mu’jam al-Wajiz, halaman 228). Adapun menurut konotasi syariah, dakwah adalah menyeru manusia pada Islam. Dakwah juga bisa bermakna menegakkan kemakrufan dan mencegah kemunkaran; bisa juga didefinisikan sebagai usaha untuk mengubah keadaan yang rusak, yang tidak Islami, menjadi baik sesuai dengan Islam.  Berikut adalah beberapa istilah dakwah di dalam al-Quran:

  1. Syahadah (Kesaksian)

Allah SWT berfirman:

Demikianlah, KAMI menjadikan kalian sebagai umat pertengahan agar kalian menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul pun menjadi saksi atas kalian.

(QS al-Baqarah [2]: 143).

 

Rasulullah ﷺ juga bersabda demikian:

Kaum Mukmin merupakan kesaksian Allah di bumi. (HR Ibn Majah).

 

Hendaklah yang menyaksikan (baca: hadir) menyampaikan kepada yang tidak hadir

(HR al-Bukhari).

 

  1. Tabligh

Allah SWT berfirman:

Wahai Rasul, sampaikanlah apa saja yang turun kepadamu dari Tuhanmu. Jika engkau tidak melakukannya, tentu risalahNYA tidak akan pernah sampai. Allah akan memeliharamu dari manusia.

(QS al-Maidah [5]: 67).

 

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

Sampaikanlah apa saja diriku walaupun satu ayat. (HR al-Bukhari).

 

  1. Tawshiyah (wasiat)

Allah SWT berfirman:

Mereka senantiasa saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran.

(QS al-‘Ashr [103]: 1-3).

 

  1. Bisyarah wa Nidzarah (kabar gembira dan ancaman)

Allah SWT berfirman:

Tidaklah KAMI mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi kabar peringatan bagi seluruh umat manusia.

(QS as-Saba’ [34]: 28).

 

  1. Zikr (peringatan)

Sesungguhnya dia itu tidak lain merupakan pembawa peringatan bagi seluruh alam.

(QS at-Takwir [81]: 27).

 

  1. Nasihat

Dalam sebuah hadis diriwayatkan:

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya agama itu nasihat.” Kami bertanya, “Bagi siapa, wahai Rasulullah?” Rasul menjawab, “Bagi Allah, KitabNYA, RasulNYA, serta bagi para imam dan umat Islam seluruhnya.”

(HR Muttafaq ‘alaih).

 

  1. Amar ma’ruf nahi munkar

Rasulullah ﷺ bersabda, sebagaimana dituturkan Abu Said al-Khudri:

Siapa saja diantara kalian melihat kemunkaran, hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, hendaklah dia mengubahnya dengan lisannya; jika tidak mampu, hendaklah dia mengubahnya dengan hatinya. Sesungguhnya itu adalah selemah-lemahnya iman.

(HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmizi, an-Nasa’i dan Ibnu Majah).

 

Urgensi Dakwah

Berdakwah merupakan kewajiban sekaligus ibadah yang bisa mengantarkan pelakunya untuk dekat (taqarrub) dengan Tuhannya. Dakwah juga mengajari pelakunya bahwa kedudukannya di hadapan Allah adalah sangat tinggi; Allah akan mengangkat kedudukannya di dunia maupun di akhirat. Dakwah di jalan Allah juga merupakan aktivitas terpenting dari para Nabi. Mereka semuanya senantiasa menjalankan aktivitas dakwah. Melalui jalan dakwah, mereka berupaya meneggakkan agama Allah.

Walhasil, dakwah Islam merupakan aktivitas yang diwariskan Nabi ﷺ kepada umatnya. Kita tentu harus menjaga dan memeliharanya jika kita memang ingin menjaga dan memelihara keberlangsungan Islam di tengah-tengah kita. Pasalnya, kita tidak bisa membayangkan Islam memiliki pengaruh tanpa adanya aktivitas dakwah yang justru dimaksudkan untuk mewujudkan pengaruh tersebut. Kita tidak bisa membayangkan kemurnian Islam terasakan dalam jiwa-jiwa para pengikutnya tanpa adanya perjuangan dakwah yang justru dimaksudkan untuk membersihkannya dari berbagai kotoran pemikiran yang menyimpang dan bisa mempengaruhinya. Kita tidak bisa membayangkan Islam bisa ditegakkan tanpa adanya perjuangan dakwah yang justru ditujukan untuk menegakkannya. Kita pun tidak bisa membayangkan kekuatan Islam dapat tersebar tanpa adanya perjuangan dakwah yang justru ditujukan untuk menyebarkannya. Artinya, seandainya tidak melalui perjuangan dakwah, Islam tidak mungkin memiliki kekuatan; tidak mungkin akan tersebar luas; tidak mungkin dapat dijaga; dan tidak mungkin pula hujjah Allah bisa ditegakkan atas para mahklukNYA.

Aktivitas semacam ini pula yang senantiasa dilakukan oleh umat Islam generasi awal pada masa lalu, terutama pada masa Nabi ﷺ. Mereka senantiasa menjaga konsistensi perjuangan dakwah Islam sekaligus memelihara eksistensi agama mereka. Seandainya tidak ada perjuangan dakwah Islam, Islam mustahil bisa sampai ke tengah-tengah kita sekarang, jika kita bayangkan teknologi kala itu (zaman Rasulullah) dengan jarak antara Arab ke Indonesia, tentu mustahil, tetapi kenyataannya mayoritas penduduk kita beragama Islam, dan mustahil pula ratusan juta manusia bisa memeluk akidah Islam, karena banyaknya tantangan yang menghadang keimanan terhadap Rasulullah ﷺ. Oleh karena itu, wahyu yang pertama kali turun kepada Rasulullah ﷺ adalah firmanNYA yang menyatakan, “Iqra (bacalah)!” (QS al-‘Alaq [96]: 1). Artinya Allah SWT memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk membaca demi dirinya sendiri dan demi manusia seluruhnya. Diantara wahyu yang pertama-tama kali turun juga adalah firmanNYA yang berbunyi, “Qum fa andzir (Bangunlah, kemudian berilah peringatan!)” (QS al-Mudatstsir [74]: 2).

Walhasil, dakwah Rasulullah ﷺ adalah dalam rangka mewujudkan Islam dalam berbagai aspeknya serta membentuk umat Islam generasi awal. Generasi ini merupakan generasi terbaik, setelah wafatnya Rasul, di dalam mengemban Islam sebagai risalah. Dakwah umat Islam generasi awal ini ditujukan dalam rangaka menyebarkan Islam kepada generasi selanjutnya setelah mereka. Demikianlah, aktivitas semacam ini terus berlangsung hingga saat ini, dan wajib terus dilangsungkan sampai Hari Kiamat.

Dari sini dapat dipahami, bahwa dakwah dan Islam adalah laksana air dengan orang yang mengalirkannya. Air, sebagaimana diketahui, dapat mengalir, memberi minum, dan memberi kebajikan bagi umat manusia. Akan tetapi, ia butuh manusia yang mengalirkannya. Demikanlah pula Islam sebagai agama yang benar dan merupakan representasi kehidupan yang shahih; ia membutuhkan orang yang “mengalirkannya”, yakni mengalirkan kebaikannya agar umat manusia seluruhnya—yang memang mengharapkan keridhoan Allah—bisa teraliri, dapat merasakannya, dan mendapatkan petunjuk melalui dakwah.

Dari sini pula kita melihat secara jelas adanya hubungan yang erat antara Islam dan upaya untuk mendakwahkannya. Dakwah merupakan pilar yang kokoh dan perkara yang dinamis dalam Islam. Keniscayaan dan keberlangsungan dakwah Islam akan menjamin adanya pengaruh dan penyebaran Islam itu sendiri. Artinya, usia dakwah sangat menentukan usia Islam; yakni sejak kemunculannya sampai Allah mewariskan bumi ini dan para penghuninya untuk Islam. Oleh karena itu, dakwah Islam wajib terus disosialisasikan di tengah-tengah umat Islam dan umat manusia seluruhnya, dan wajib dijadikan sebagai prioritas dalam pikiran mereka (umat Islam). Sebaliknya, umat Islam wajib mengorbankan waktu, tenaga, harta dan bahkan jiwanya serta mengerahkan segenap kesungguhannya demi keberlangsungan dakwah Islam. Allah SWT berfirman:

Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan ke tengah-tengah umat manusia agar untuk memerintahkan kebajikan dan mencegah kemunkaran sementara kalian beriman kepada Allah.

(QS Ali Imran [3]: 110).

Orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lainnya. Mereka melakukan amar ma’ruf nahi munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan RasulNYA. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah dan sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

(QS at-Taubah [9]: 71).

Urgensi dakwah bagi kehidupan manusia juga telah digambarkan oleh Rasulullah ﷺ di dalam sebuah hadisnya:

Perumpamaan orang-orang yang mencegah berbuat maksiat (pelaku dakwah) dan yang melanggarnya adalah seperti kaum yang munumpang kapal. Sebagian dari mereka berada di bagian atas dan yang lain berada di bagian bawah. Jika orang-orang yang berada di bawah membutuhkan air, mereka harus melewati orang-orang yang berada di atasnya. Lalu mereka berkata, “Andai saja kami lubangi (kapal) pada bagian kami,  tentu kami tidak akan merepotkan orang-orang yang berada di atas kami.” Jika orang-orang yang berada di atas membiarkannya, padahal mereka tidak menghendaki, akan binasalah seluruhnya. Namun, jika mereka mencegahnya, akan selamatlah semuanya.

 (HR al-Bukhari).

Dari sini kita bisa menyimpulkan, bahwa dakwah adalah aktivitas yang sangat urgen untuk menyelamatkan kehidupan umat manusia dari kehancuran dan kenistaan. Dakwah tidak hanya menyelamatkan orang-orang yang bermaksiat saja, tetapi juga akan menghindarkan seluruh umat manusia dari dampak buruk akibat kemaksiatan dan kezaliman. Sebaliknya, jika di tengah-tengah masyarakat sudah tidak ada lagi orang yang mau berdakwah, niscaya kemaksiatan dan kezaliman akan merajalela, sementara Allah SWT akan meratakan azab atas siapa saja yang ada di masyarakat tersebut. Lebih dari itu, Allah tidak akan menerima doa seseorang hingga di tengah-tengah masyarakat itu ada dakwah Islam dan amar ma’ruf nahi munkar. Rasulullah ﷺ sebagaimana penuturan Huzaifah al-Yaman, bersabda:

Demi Zat yang jiwaku berada dalam kekuasaanNYA, kalian mesti melakukan amar ma’ruf nahi munkar, atau Allah akan menurunkan siksa dari sisiNYA atas kalian hingga jika kalian berdoa maka DIA tidak akan mengabulkan doa kalian.

(HR at-Tirmizi).

Jika keimanan merupakan puncak kebajikan dan sekaligus dasar dari seluruh perkara yang ma’ruf maka sebaliknya, kekufuran merupakan puncak kemunkaran dan sekaligus dasar dari seluruh perkara yang munkar. Jika ketaatan merupakan kebajikan yang muncul dari puncak kebajikan, maka sebaliknya, kemaksiatan merupakan kemunkaran yang muncul dari puncak kemunkaran. Jika berhukum dengan hukum Allah merupakan puncak ketaatan yang bisa menjaga keimanan, ketaatan, tegaknya dakwah dan tersebarnya Islam, maka sebaliknya, berhukum dengan hukum kufur merupakan puncak kemaksiatan yang mengikuti syahwat, hawa nafsu dan kesesatan.

Atas dasar ini, umat Islam wajib bersama-sama dan bekerjasama untuk menegakkan kewajiban dakwah ini. Setiap Muslim yang mementingkan urusan agamanya harus mengetahui bahwa satu ayat ataupun satu hadis yang dibacanya bukanlah dimaksudkan untuk dirinya semata, tetapi juga ditujukan untuk seluruh umat manusia. Bahkan kalaupun seruan Allah itu ditujukan kepada Rasulullah ﷺ maka hakikatnya ia ditujukan bagi seluruh umatnya, selama tidak ada dalil yang menyatakan bahwa seruan tersebut khusus untuk Beliau. Oleh karena itu, ketika Allah SWT memerintahkan seorang Muslim untuk beriman, maka perintah itu berlaku bagi dirinya dan yang lainnya. Ketika Allah SWT memerintahkan seorang Muslim untuk hanya menyembahNYA, maka perintah itu berlaku untuk dirinya dan yang lainnya. Demikian pula, ketika Allah SWT memerintahkan seorang Muslim untuk hanya berhukum dengan hukum Allah, maka perintah itupun berlaku bagi dirinya dan yang lainnya.

Ragam Istilah Dakwah dalam al-Quran

Istilah Dakwah