Tidak beriman salah seorang diantara kalian hingga hawa nafsu (jiwa)-nya mengikuti apa saja yang aku bawa. (HR Muslim).

Gambaran kepribadian Islami yang dimiliki kaum Muslim generasi awal hasil didikan Rasulullah ﷺ. Pertama-tama Beliau mengajak mereka untuk memeluk akidah Islam. Setelah mereka memeluk akidah Islam, Beliau kemudian memperkuat akidah mereka pemikiran dan hukum-hukum Islam seraya memperhatikan kecenderungan mereka berlandaskan akidah Islam.

  1. Membentuk Kepribadian Islami

Islam telah memberikan solusi terhadap manusia dengan solusi yang sempurna untuk mewujudkan kepribadian (syakhshiyyah) istimewa yang berbeda dengan kepribadian lainnya. Islam memberikan solusi berdasarkan akidah, yang dijadikan sebagai kaidah berpikir, yang di atas akidah tersebut dibangun seluruh pemikiran, dan dibentuk persepsi-persepsi (mafahim) nya. Dengan itu, ia dapat membedakan mana pemikiran yang benar dan mana pemikiran yang salah, ketika suatu pemikiran yang dibangun di atasnya diukur dengan akidah Islam sebagai kaidah berpikirnya, hingga terbentuklah aqliyahnya berdasarkan akidah tadi. Dengan demikian dia memiliki aqliyah yang istimewa berlandaskan kaidah berpikir tersebut. Ia memiliki tolok ukur yang benar terhadap berbagai pemikiran. Dia akan selamat dari kegoncangan berpikir dan terhindar dari kerusakan berbagai pemikiran. Dan dia tetap benar dalam berpikir dan selamat dalam memahami sesuatu.

Pada waktu yang sama Islam telah  memberikan solusi atas perbuatan-perbuatan manusia yang timbul dari kebutuhan jasmani dan nalurinya dengan hukum-hukum syariah yang terpancar dari akidah dengan solusi yang benar; mengatur gharizah (naluri), bukan mengekangnya; mengarahkannya secara teratur, bukan mengumbarnya (tanpa kendali); mempersiapkannya dengan memenuhi seluruh kebutuhannya dengan pemenuhan yang harmonis yang membawa ketenteraman dan ketenangan. Islam telah menjadikan akidahnya sebagai akidah ‘aqliyyah, sehingga menjadikannya layak sebagai kaidah berpikir yang digunakan sebagai standar terhadap seluruh pemikiran yang ada, yang dijadikan pula sebagai pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia dan kehidupan. Karena manusia adalah sosok yang hidup di alam semesta, maka pemikiran yang menyeluruh ini telah memecahkan seluruh simpul yang ada, baik di dalam maupun di luar alam ini, sehingga layak menjadi persepsi (yang bersifat) umum; yaitu sebagai tolok ukur yang digunakan secara alami ketika terjadi penggabungan dorongan-dorongan dengan mafahim; sebagai standar yang menjadi asas dan membentuk muyul (kecenderungan). Dengan demikian, terwujudlah pada diri manusia kaidah yang pasti, yang menjadi tolok ukur bagi mafahim dan muyul secara bersamaan; sebagai tolok ukur bagi ‘aqliyyah dan nafsiyyah-nya. Dari sini terbentuklah kepribadian (syakhshiyyah) yang berbeda (khas) dengan kepribadian-kepribadian yang lainnyannya.

Berdasarkan hal ini, kita menemukan bahwa Islam membentuk syakhshiyyah Islam dengan akidah Islam. Dengan akidah itulah terentuk ‘aqliyyah dan nafsiyyah-nya. Oleh karena itu, tampak jelas bahwa ‘aqliyyah Islam adalah berpikir berdasarkan Islam, yaitu menjadikan Islam satu-satunya tolok ukur umum terhadap seluruh pemikiran tentang kehidupan; artinya bukan sekedar untuk mengetahui atau untuk (kepuasan berpikir) seorang intelek. Selama seseorang menjadikan Islam sebagai tolok ukur atas seluruh pemikirannnya secara praktis dan secara real berarti ia telah memiliki ‘aqliyyah (pola pikir) Islam.

Adapun yang dimaksud dengan nafsiyyah (pola jiwa) Islami adalah menjadikan seluruh kecenderungan (muyul)nya bertumpu pada asas Islam, yaitu menjadikan Islam sebagai satu-satunya tolok ukur umum terhadap seluruh pemenuhan (kebutuhan jasmani maupun naluri); artinya bukan hanya bersikap keras atau menjauhkan diri dari dunia. Selama seseorang menjadikan hanya Islam saja sebagai tolok ukur atas seluruh pemenuhannya secara praktis dan secara real berarti ia telah memiliki nafsiyyah (pola sikap) Islami. Dengan ‘aqliyyah dan nafsiyyah semacam ini berarti ia telah memiliki kepribadian (syakhshiyyah) Islam, tanpa memperhatikan lagi apakah ia orang yang berilmu atau tidak; apakah dia melaksanakan perkara-perkara yang fardhu, manduh (sunnah) dan meninggalkan yang haram maupun yang makruh; ataukah ia melakukan perkara-perkara lebih dari itu berupa ketaatan yang bersifat mustahabbah (amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah) serta menjauhi perkara-perkara syubhat (yang tidak dapat dipastikan hukumnya secara pasti). Semua itu tetap disebut kepribadian Islami. Artinya, setiap orang yang berpikir berdasarkan Islam dan hawa nafsunya dikendalikan oleh Islam memiliki kepribadian (shakhshiyyah) Islami.

 

  1. Mengembangkan Kepribadian Islami

Untuk mengembangkan kepribadian Islami yang telah terbentuk, Islam memerintahkan setiap Muslim untuk memperbanyak pengetahuan (tsaqofah) Islam untuk mengembangkan pola pikir Islami (‘aqliyyah Islamiyyah) nya yang sudah terbentuk dalam dirinya. Dengan itu, dia akan selalu mampu merespon setiap realitas yang dihadapinya dengan sudut pandang Islam. Betapa banyak nas al-Quran maupun as-Sunnah yang memerintahkan dan mendorong setiap Muslim untuk mencari dan meraih ilmu dalam rangka mendalami ilmu agama (tafaqquh fi ad-din). Contohnya adalah nash-nash berikut:

 

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.

(QS al-Mujadalah [58]: 11).

 

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. (QS al-‘Alaq [96]: 1).

 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal. (QS Ali Imron [3]: 190).

 

Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS az-Zumar [39]: 9).

 

Rasulullah ﷺ:

Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim. (HR Ibnu Adi dan al-Baihaqi dari Abnas ra dan al-Khatib dari al-Husain bin Ali).

 

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

Didiklah anakmu dan baguskanlah akhlaknya. Apabila anak telah mencapai 6 tahun maka hendaklah diajarkan adab sopan santun. (HR Ibnu Hibban).

 

Siapa saja yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu maka Allah akan memudahkan jalan baginya untuk menuju surga. (HR Muslim dari Abu Hurairah ra).

 

Yang paling baik diantara kalian adalah orang yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya. (HR al-Bukhari).

 

Tidak boleh iri hati kecuali terhadap dua orang, yaitu: terhadap seseorang yang dikaruniai Allah harta kekayaan dan dia memanfaatkannya untuk urusan kebenaran (kebaikan); terhadap seseorang yang diberi ilmu pengetahuan oleh Allah lalu dia memanfaatkannya (dengan kebenaran) serta mengajarkannya kepada orang lain.  (HR al-Bukhari dan Muslim).

 

Islam juga memerintahkan setiap Muslim untuk melaksanakan perbuatan-perbuatan yang wajib dan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang haram guna memperkuat pola jiwa Islami (nafsiyyah Islamiyyah) nya. Islam telah mewajibkan kepada setiap Muslim untuk menunaikan shalat wajib, shaum Ramadhan, membayar zakat, berbakti kepada orang tua, menunaikan haji, menuntut ilmu, berdakwah dan ber-amar makruf nahi mungkar, bahkan berjihad (berperang/memperjuangkan penegakkan hukum Islam) di jalan Allah melawan (tidak tunduk kepada hukum) orang-orang kafir. Sebaliknya, Islam melarang setiap Muslim untuk meninggalkan semua itu; di samping melarang sejumlah makanan haram, melarang riba, melarang judi, mabuk, zina, korupsi, menggunjing, menyakiti orang lain dan lain-lain.

Lebih dari itu, Islam telah mendorong setiap Muslim untuk banyak melakukan amalan-amalan sunnah/nafilah seperti shalat tahajud, shalat dhuha, shalat rawatib, shaum senin-kamis, shaum Dawud, bersedekah, menolong sesama dan lain-lain. Bahkan Islam juga mendorong setiap Muslim untuk sebanyak mungkin meninggalkan perkara-perkara mubah yang memang tidak bermanfaat. Rasulullah ﷺ bersabda:

 

Diantara kebajikan seorang Muslim adalah meninggalkan perkara-perkara yang tidak berguna. (HR Muslim).

 

Semua ini tidak lain agar setiap Muslim memiliki kepribadian Islami (syakhshiyyah Islamiyah) yang kuat dan unggul sebagai cara untuk meraih kedudukan tinggi dihadapan Allah SWT.

Setiap Muslim sejatinya memiliki kepribadian Islam. Hanya saja, kualitasnya berbeda-beda; ada yang tinggi, sedang, dan rendah; bergantung pada kuat-lemahnya pola pikir dan pola jiwanya. Namun yang pasti, seorang Muslim yang berkepribadian Islami bukan berarti tampil seperti malaikat yang tidak pernah salah. Ia bisa saja salah dan mungkin untuk berbuat dosa. Ini adalah manusiawi dan juga diakui oleh Islam. Rasulullah ﷺ bersabda:

Manusia itu tempat salah dan lupa. (HR Muslim).

 

Namun demikian, pada seorang Muslim yang berkepribadian Islami kuat, kesalahan dan dosa yang diperbuat tidak menjadi kebiasaan dirinya. Bahkan dia akan segera bertobat dan kembali saat dia berbuat dosa atau kesalahan. Disinilah makna bahwa, “Orang Muslim yang baik itu bukanlah yang tidak pernah berbuat dosa (karena hanya nabi/rasul yang ma’shum [terpelihara dari dosa dan kesalahan]), namun mereka yang ketika berbuat dosa/salah segera sadar, lalu bertobat dan kembali kepada Allah.” Demikianlah sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

Sebaik-baiknya pendosa adalah orang yang segera bertobat dari dosanya. (HR Muslim).

 

  1. Gambaran Kepribadian Islami dalam al-Quran

Allah SWT telah menyebutkan beberapa ciri kepribadian Islami di dalam al-Quran dalam sejumlah ayatnya. Allah SWT, misalnya, menyebutkan sifat-sifat para Sahabat Rasulullah ﷺ orang Mukmin, hamba Allah (‘ibad ar-Rahman), dan mujahid:

 

Muhammad adalah utusan Allah; orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka.

(QS al-Fath [48]: 29).

 

Orang-orang yang terdahulu dan yang pertama-tama masuk Islam diantara kaum Muhajirin serta Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik itu Allah ridhai dan mereka pun ridha kepadaNYA.

 (QS at-Taubah [9]: 100).

 

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang Mukmin, yaitu orang-orang yang khusuk dalam shalatnya; yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan yang menunaikan zakat.

(QS al-Mukminun [23]: 1-4).

 

Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu ialah mereka yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati—yang jika orang-orang jahil menyapa mereka maka mereka mengucapkan kata-kata yang baik—dan yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.

(QS al-Furqon [25]: 63-64).

 

Namun, Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berjihad dengan harta dan diri mereka. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan; mereka pula yang beruntung. Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.

(QS at-Taubah [9]: 88-89).

 

Mereka itu adalah orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah kemungkaran, dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Gembirakanlah orang-orang Mukmin itu.

(QS at-Taubah [9]: 112).

 

Inilah beberapa gambaran kepribadian Islami yang dimiliki kaum Muslim generasi awal. Merekalah generasi hasil didikan Rasulullah ﷺ. Pertama-tama Beliau mengajak mereka untuk memeluk akidah Islam. Setelah mereka memeluk akidah Islam, Beliau kemudian memperkuat akidah mereka pemikiran dan hukum-hukum Islam seraya memperhatikan kecenderungan mereka berlandaskan akidah Islam. Sabda Rasulullah ﷺ:

Tidak beriman salah seorang diantara kalian hingga hawa nafsu (jiwa)-nya mengikuti apa saja yang aku bawa. (HR Muslim).