Kepribadian/jatidiri (syakhshiyyah) manusia pada dasarnya dibentuk oleh ‘aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola jiwa). Jika dia Muslim dan pemahamannya Islami (bersumber dari akidah Islam) maka kepribadiannya berpotensi menjadi Islami. Sebaliknya, jika dia Muslim tetapi pemahamannya tidak Islami (tidak bersumber dari akidah Islam) maka secara pasti kepribadiannya tidak Islami; apalagi jika dia orang kafir.

Ada dua fenomena yang secara fisikal tampak pada manusia. Pertama: Performance (penampilan fisik) yang mencakup hal-hal mendasar seperti bentuk/struktur tubuh (tinggi, sedang, pendek; gemuk, kurus, proporsional; sempurna atau cacat), warna kulit (putih, sawo matang, coklat, hitam), bentuk wajah (cantik, manis, jelek) maupun mencakup aksesoris seperti pakaian dan perhiasan. Kedua: Perilaku yang mencakup semua ekspresi, tindakan dan aktivitas keseharian manusia. Dalam hal ini, jelas bahwa kepribadian manusia tidak dipengaruhi oleh performancenya, sebagaimana banyak disangka orang; tetapi lebih terkait dengan—atau dipengaruhi oleh—perilakunya.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani (2004), dalam salah satu masterpiecenya, Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah (jilid 2), memaparkan secara cerdas dan mudah dipahami ihwal kepribadian manusia ini. Menurut beliau, kepribadian/jatidiri (syakhshiyyah) manusia pada dasarnya dibentuk oleh ‘aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola jiwa). Kepribadian manusia ini tidak ada kaitannya dengan performance manusia. Semua itu hanya kulit luarnya saja. Kepribadian manusia hanya bisa dinilai dari pemikiran dan perilakunya. Perilakulah yang menunjukkan tinggi-rendahnya derajat manusia. Pasalnya, perilaku manusia bergantung pada pemahaman (mafahim)nya, yang terbentuk dari pemikirannya. Walhasil, perilaku manusia terkait erat dengan pemahaman (mafahim)nya dan tidak bisa dipisahkan. Perilaku (suluk) manusia tidak lain lahir dari dorongan—baik dari dalam maupun luar dirinya—untuk memenuhi kebutuhan jasmaniah (hajah udhawiyyah) maupun naluriah (gharizah)nya, yang lalu membentuk kecenderungan (muyul), yang kemudian dipengaruhi oleh pemahaman (mafahim)nya. Inilah pada akhirnya yang membentuk kepribadian manusia. Jika dia Muslim dan pemahamannya Islami (bersumber dari akidah Islam) maka kepribadiannya berpotensi menjadi Islami. Sebaliknya, jika dia Muslim tetapi pemahamannya tidak Islami (tidak bersumber dari akidah Islam) maka secara pasti kepribadiannya tidak Islami; apalagi jika dia orang kafir.

Pembentukan Kepribadian Manusia

Pembentukan Kepribadian Manusia

 

  1. ‘Aqliyyah (Pemikiran)

Mafahim (pemahaman) tidak lain merupakan pengertian yang dibangun atas dasar sebuah pemikiran (ma’ani al-fikr) yang memang faktual, bukan bersifat asumsi, apalagi fantasi. Contoh: Pemikiran tentang keberadaan Tuhan (sebagaimana diyakini kaum beragama) adalah bisa dipahami (mafhum). Sebaliknya, pemikiran tentang ketiadaan Tuhan (sebagaimana diyakini kaum ateis) adalah tidak bisa dipahami (ghayr mafhum) keberadaanNYA, karen mereka menganggap semuanya (manusia, alam semesta dan kehidupan) hanya dialektika materi semata. Mengapa? Sebabnya, keberadaan Tuhan adalah faktual (nyata); bisa dibuktikan melalui keberadaan manusia, alam raya dan kehidupan ini yang mustahil ada dengan sendirinya secara kebetulan. Kemustahilan ini sekaligus memustahilkan ketiadaan Tuhan sebagai sang Pencipta dan Pengatur manusia, alam raya dan kehidupan ini. Dengan kata lain, pemikiran tentang ketiadaan Tuhan hanyalah asumsi—bahkan fantasi—orang yang meyakininya (ateis); bukan sesuatu yang faktual (nyata).

Pemahaman (mafahim) manusia ini, sebagaimana telah dijelaskan, terbentuk karena akal/pemikirannya. Akal manusia itu sendiri terbentuk karena jalinan fakta (waqi’) yang dia indera dengan informasi (ma’lumah) yang dimilikinya, yang didasarkan pada sebuah keyakinan/akidah tertentu sebagai landasan berpikirnya. Karena itulah, aqliyyah berkaitan dengan akal dan sifat-sifatnya. Menurut Muhammad Husain Abdillah (1994), ‘aqliyyah (pola pikir) bisa dikatakan merupakan persepsi seseorang terhadap fakta yang dia indera dari sudut pandang tertentu. Jika sudut pandangnya Islami, yakni didasarkan pada akidah Islam, maka pemikirannya Islami. Jika sudut pandangnya tidak Islami maka pemikirannya juga tidak Islami. Islami atau tidak Islaminya sudut pandang seseorang tentu bergantung pada standar yang dia gunakan dalam mempersepsi/menilai fakta yang dihadapinya. Seorang Muslim tentu akan menjadikan halal-haram sebagai standar persepsi/penilaian atas fakta yang dihadapinya. Sebaliknya, orang kafir mungkin akan menggunakan standar manfaat-keburukan (mudharat) dalam mempersepsi/menilai fakta yang ada dihadapannya. Namun demikian, ada kalanya seorang Muslim menggunakan standar manfaat-mudharat bukan halal-haram.

Seorang Muslim yang pemikirannya Islami akan memandang nasi adalah halal; daging babi, minuman keras (khamr) dan narkoba adalah haram; shalat lima waktu, shaum Ramadhan, ibadah haji, berdakwah melakukan amar ma’ruf nahi munkar, menegakkan syariah dan berjihad fi sabilillah adalah wajib; zina, homoseksualitas, riba dan korupsi adalah haram; dan seterusnya. Sebaliknya, orang kafir atau Muslim yang pemikirannya tidak Islami, mungkin akan memandang halal bunga bank (riba), menghalalkan khamr, membolehkan lokalisasi pelacuran, mengharamkan poligami, memandang semua agama sama, tidak mewajibkan wanita Muslimah berkerudung dan berjilbab, memandang jihad sekedar memerangi hawa nafsu, menganggap menegakkan syariah Islam tidak wajib, dan seterusnya.

 Pola Pikir (‘Aqliyyah)

Pola Pikir

 

  1. Nafsiyyah (Pola Jiwa)

Nafsiyyah berasal dari kata nafsu (jiwa). Jadi, nafsiyyah adalah seluruh hal yang berkaitan dengan nafsu. Jiwa (nafsu) manusia—sebagai sesuatu yang fitri—berpotensi baik atau buruk, bergantung bagaimana ia dibentuk. Karena itu, lebih spesifik lagi, nafsiyyah bisa diartikan sebagai pola pembentukan jiwa (nafsu) hingga menjadi baik atau buruk. Dengan kata lain, nafsiyyah (pola jiwa) adalah cara manusia untuk memenuhi kebutuhan jasmaniah maupun naluriahnya berdasarkan standar pemahaman tertentu.

Sebagaimana telah terpapar di atas, nafsiyyah (pola jiwa) seseorang sangat dipengaruhi oleh pemahaman (mafahim)nya, yang bersumber dari keyakinan/akidah yang dimilikinya. Pemahamanlah yang membentuk ‘aqliyyah (pola pikir)nya sekaligus mempengaruhi pola jiwa (nafsiyyah)nya. Pengaruh pemahaman (mafhum) seseorang terhadap pola jiwa (nafsiyyah)nya sangatlah besar. Contoh: (Zaman Rasulullah ﷺ) Saat belum (turun ayat) khamr diharamkan, kaum Muslim  zaman itu terbiasa meminumnya. Namun, ketika wahyu Allah yang mengharamkan khamr turun (QS al-Maidah [5]: 91), seketika kaum Muslim meninggalkannya. Bahkan diriwayatkan, saat itu banyak jalanan di kota Madinah basah karena khamr yang ditumpahkan/dibuang oleh kaum Muslim saat itu. Begitupun saat wahyu yang mewajibkan kaum Muslimah mengenakan kerudung/khimar (QS an-Nur [24]: 31) dan jilbab (QS al-Ahzab [33]: 59) turun; seketika itu kaum Muslimah menutup seluruh tubuhnya dengan kedua jenis pakaian tersebut (khimar: pakaian menjulur dari atas kebawah kaki, longgar dan tidak transparan dan jilbab: penutup kepala menjulur hingga menutupi dada).

 Pola Jiwa (Nafsiyyah)

Pola Jiwa

Kepribadian Unik dan Kepribadian Ganda

Disadari ataupun tidak, kita sering dihadapkan pada dua model kepribadian manusia: kepribadian unik (khas) dan kepribadian ganda (kacau).

  1. Kepribadian Unik

Kepribadian unik (khas) adalah kepribadian yang ditunjukkan oleh menyatunya pola pikir (’aqliyyah) dengan pola jiwa (nafsiyyah) pada seseorang. Kepribadian unik ini biasanya dimiliki oleh orang-orang yang berpegang teguh pada ideologi (aturan hidup) tertentu; baik Islam, Sosialisme-Komunisme maupun Kapitalisme-Sekularisme. Karena itu, kita akan mudah membedakan seorang Muslim yang memegang teguh ideologi Islam dengan seseorang yang berpegang teguh dengan ideologi (aturan hidup) selain Islam. Seorang Muslim, misalnya, hanya akan mencari harta yang halal dalam hidupnya, betapapun sulitnya. Dia tidak akan menjual narkoba, terlibat dalam bisnis pelacuran, berjudi dan lain-lain yang diharamkan/dilarang oleh aturan hidup yang dipegangnya (ideologi) dan agamanya, meskipun itu akan menguntungkan dirinya. Pasalnya, dia selalu menjadikan halal-haram sebagai standar dalam bertindak dan berusaha; bukan manfaat. Sebaliknya, seorang Kapitalis, akan mencari harta dengan cara apapun; tidak peduli dia halal atau haram, juga tidak peduli apakah dibolehkan atau tidak oleh agamanya. Dia mungkin akan menjual narkoba, terlibat dalam bisnis seks, berjudi, menimbun harta dan lain-lain, selama itu mendatangkan keuntungan bagi dirinya. Pasalnya, dia akan selalu menjadikan manfaat-mudharat sebagai standar dalam bertindak dan berusaha; bukan halal-haram atau boleh-tidak boleh menurut agama dan ideologinya (aturan ke-akhiratan dan kehidupan dunia). Dalam berpolitik, misalnya, orang-orang kapitalis terkenal dengan jargon: tidak ada kawan atau musuh abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Akibatnya, hari ini seseorang bisa menjadi kawannya dalam berpolitik selama masih menguntungkan dirinya, namun esok-lusa dia bisa berubah menjadi musuhnya tatkala dianggap telah merugikan dirinya. Demikian juga sebaliknya.

 

  1. Kepribadian Ganda

Kepribadian ganda (kacau) adalah kepribadian yang ditunjukkan oleh tidak menyatunya pola pikir (‘aqliyyah) dengan pola jiwa (nafsiyyah) pada seseorang. Kepribadian ganda (kacau) ini biasanya dimiliki oleh orang-orang yang tidak ideologis. Mereka akan mudah ditemukan dalam komunitas masyarakat yang menganut agama non-Islam atau umat Islam yang hanya menjadikan Islam sebagai agama ritual dan spiritual belaka, tetapi aturan kehidupan di dunia (ideologi)nya tidak menggunakan aturan Islam  (contoh: pakaian, makanan-minuman, perilaku dan lain-lain dari  seorang Muslim tetapi tidak Islami). Di tengah-tengah komunitas masyarakat semacam ini kita akan sulit membedakan kepribadian seseorang dengan orang lain. Dalam dunia hiburan, misalnya, betapa sulit kita membedakan artis yang Muslim dengan non-Muslim. Mereka tidak bisa dibedakan dari cara bertutur kata, berpakaian atau berperilakunya. Pasalnya, artis Muslim banyak yang bertutur kata tidak Islami, mengumbar aurat, bergaul bebas, terlibat narkoba dan lain-lain; sebagaimana halnya artis-artis yang non-Muslim. Padahal mereka banyak yang mengaku Muslim dan tahu bahwa menutup aurat itu wajib, bergaul bebas (pacaran, teman tapi mesra, hubungan tanpa status dll) itu haram, mengkonsumsi narkoba itu terlarang, dan seterusnya. Mereka hanya bisa dibedakan dalam acara-acara ritual dan seremonial keagamaannya saja. Kita sering baru tahu artis itu Muslim saat di bulan Ramadhan, saat Umroh/Haji, saat menikah, saat menghadiri acara kematian keluarganya, dan lain-lain. Sebaliknya, saat mereka menyanyi, main sinetron/film, atau menjadi presenter, mereka tidak bisa dibedakan dengan artis-artis non-Muslim.

Kepribadian Ganda (Kacau)

Kepribadian Ganda