Barangsiapa diantara kalian yang diberi umur panjang maka ia akan melihat perbedaan yang banyak. Dan berhati-hatilah kalian dari membuat-buat perkara yang baru. Sesungguhnya setiap perkara itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah berada di neraka. Kalian wajib mengikuti Sunnahku dan sunnah khulafa ar-rasyidin yang telah mendapat petunjuk. Dan berpegang teguhlah kepadanya seperti menggigit dengan gigi geraham. (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Apa yang dimaksud dengan tadarruj? Mencakup apa saja didalam teori orang-orang yang membolehkannya? Kemudian, apa alasan-alasannya? Dan bagaimana pandangan syara terhadap hal tersebut?

Kami ingin memfokuskan dan menjelaskan kerusakan ide tentang tadarruj dalam pengambilan dan penerapan (hukum) Islam, termasuk derivatnya, yaitu (antara lain) dibolehkannya kaum Muslim turut serta di dalam sistem pemerintahan yang ada sekarang ini. Juga pendapat yang mengatakan bahwa demokrasi merupakan bagian dari Islam, termasuk usaha mendekatkan Islam dengan akal manusia. Alasan perlunya pemaparan bab ini karena adanya hubungan erat antara pemikiran-pemikiran tersebut dengan aktivitas yang dilaukan oleh sebagian jamaah yang melakukan aktivitas taghyir (perubahan).

Apa yang dimaksud dengan tadarruj? Dan apa yang ada didalam pandangan orang-orang yang membolehkannya? Serta apa pula alasan-alasannya dan bagaimana hukum syara’ meniyikapi masalah ini?

Ketika kaum Muslim mengalami kemerosotan yang amat dalam dibidang ruhiyah, keterbelakangan dibidang materi, kemunduran dibidang pemikiran dan politik, maka pemikiran mereka menjadi sejalan dengan kenyatan-kenyataan buruk yang menimpa mereka. Akibatnya, di tengah-tengah orang yang memiliki komitmen kepada Islam muncul pemikiran-pemikiran yang tidak  menggambarkan hakekat Islam yang sebenarnya dan pandangan Islam tentang kehidupan. Pemikiran mereka lebih menggambarkan tentang buruknya pemahaman dan ketidaktahuan terhadap Islam dan pentunjuk-petunjuk Islam di dalam kehidupan. Pihak kafir imperialis yang mengusasai urusan kaum Muslim dan mampu membolak-baliknya sekehendak hati, telah berhasil menanamkan pemahaman dan tolok ukur mereka di kalangan kaum Muslim. Mereka (kaum kafir) berhasil menanamkan berbagai pemikiran dengan berbagai citarasa yang terasa enak di mulut musuh-musuh kaum Muslim dan terasa manis diucapkan. Semua itu untuk kepentingan kaum kafir. Penyhebabnya bukan karena Islam, melainkan terpulang kepada para penganutnya yang telah kehilangan ikatan kuat  terhadap Islam, dan hilangnya pemahaman yang benar di dalam diri mereka. Sebagian kaum Muslim itu berusaha melakukan perlawanan dengan bermodalkan pemahaman yang telah dipengaruhi oleh realita dan tunduk kepada (kepentingan) maslahat. Sayangnya perlawanan itu hanya usaha-usaha yang gagal dan langkah-langkah yang tertatih-tatih yang berakhir pada kegagalan, berujung pada kehinaan dan kepasrahan yang menakutkan. Orang-orang kafir masih bercokol di negeri-negeri kita. Tidak ada yang bisa menghalangi mereka dan tidak ada yang mampu mencegah mereka. Bagaimana sebenarnya cara orang-orang kafir imperialis itu menyerang Islam? Dan bagaimana reaksi kaum Muslim?

Orang-orang kafir menyerang Islam dengan mengatakan bahwa Islam tidak mampu menyesuaikan diri dengan zaman dan Islam tidak mampu menyelesaikan masalah-masalah kontemporer yang bermunculan. Reaksi kaum Muslim terhadap lontaran ini adalah menciptakan solusi-solusi Islami dari berbagai perkara yang dilontarkan sistem kapitalis. Karena asas yang mendasari tegaknya sistem kapitalis berlawanan dengan asas tempat tegaknya Islam maka mereka pun menyegaja mengkompromikan antara dua perkara yang (sesungguhnya) saling berlawanan. Mereka juga secara sengaja membuat-buat takwil (interpretasi) yang salah, yang pada gilirannya akan melahirkan pemahaman-pemahaman dan tolok ukur yang salah pula yang disandarkan kepada syara’ secara zalim dan dusta. Semua itu bertujuan untuk menciptakan keharmonisan diantara keduanya dan memberikan gambaran bahwa Islam mampu mengikuti perkembangan zaman. Akibatnya, pemahaman-pemahaman dan tolok ukur semacam itu dianggap Islami dan digunakan untuk memahami Islam. Padahal, hakekatnya jika kita mengambil (pemahaman dan tolok ukur semacam itu) berarti sama saja dengan meninggalkan Islam dan mengikuti sistem kapitalis. Setiap seruan untuk kompromi atau apapun yang dipengaruhi oleh seruan kompromi ini hakekatnya adalah seruan untuk mengambil kekufuran dan meninggalkan Islam. Ini berarti juga mengemban pemikiran kafir kepada kaum Muslim dan mengajak mereka untuk mengambilnya, seraya meninggalkan dakwah kepada Islam yang sebenarnya.

Dengan demikian, jika kaum Muslim sepanjang masa kamundurannya berusaha untuk membangkitkan umat dengan pemikiran-pemikiran yang semodel ini, maka usaha-usaha itu ibarat seberkas cahaya yang tidak mampu menerangi umat dan tidak sanggup menariknya dari kemunduran umat.

Dari sinilah kita mulai mendengar berbagai perbincangan yang melampaui batas-batas syari’at Islam, baik disertai dengan niat atau secara tidak sengaja, lalu menyatakan bahwa tidak masuk akal jika kita yang hidup pada masa lebih dari empatbelas abad sejak masa Rasulullah ﷺ masih berpegang dengan pola pikir yang sama dengan pola pikir masa kenabian. Jadi harus dilakukan upaya tajdid (pembaruan) kembali syari’at Islam agar bisa menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi. Hal ini mampu meletakkan Islam di garda paling depan (diantara umat-umat lain). Menurut mereka, Islam harus diberi pakaian dengan busana modern, disuntikkan ke dalamnya pemikiran-pemikiran kontemporer sehingga Islam mampu mempersatukan kembali jiwa-jiwa. Dan agar Islam keluar dari kepompongnya, serta keluar dari tuduhan-tuduhan pihak lain yang dilontarkan kepadanya disebabkan pakaian buruknya tidak bisa diterima (orang banyak).

Bertolak dari sini sebagian kaum Muslim mengeluarkan sejumlah pemikiran yang menjadi bentuk kaidah-kaidah pemikiran mereka, yang membatasi gerak orang-orang yang mengadopsinya dan menetapkan perspektif baru dalam kehidupan mereka. Pemikiran-pemikiran itu disepakati bernama pemikiran-pemikiran masa kemunduran, yang dimulai kemunculannya sejak bangkitnya pemikiran-pemikiran Barat yang rusak di negeri-negeri kita. Itu terjadi ketika sebagian kaum Muslim beranggapan bahwa mengikuti perkembangan zaman dan mengambil manfaat dari pemikiran Barat yang sedang bangkit merupakan suatu keharusan yang Islami agar Islam tetap berada pada kemodernannya.

Sejak itu muncul pemikiran kontemporer yang melayani tujuan ini, seperti: inna ad-dina marinun wa mutathawwir (agama Islam itu elastis dan mengikuti perkembangan), khudz wa thalib (ambil dan tuntutlah hak Anda), al-qabul bima yuwafiqu asy-syar’i aw bima la ykhalifu as-syar’i (menerima apa pun yang sesuai dengan syara’ atau apa pun yang tidak bertentangan dengan syara’), irtikabu akhaffu adh-dhararain wa ahwanu asy-syarrain (pelaksanaan yang lebih ringan bahayanya dan yang lebih sedikit keburukannya), ma la yu’khadzu kulluhu la yutraku jalluhu (apa yang tidak bisa dilaksanakan seluruhnya maka jangan ditinggalkan semuanya), at-tadarruj fi akhzi al-Islam (bertahap dalam penerapan Islam), ad-dimuqrathiyyah min al-Islam (demokrasi adalah bagian dari Islam), la yunkaru taghayyur al-ahkam bi taghayyuri az-zaman wa al-makan (tidak diingkari perubahan hukum dengan berubahnya waktu dan tempat), haitsuma takunu al-maslahah fatsamma syar’ullah (dimana ada maslahat disana ada hukum Allah). Pemikiran-pemikiran seperti ini menjadi titik tolak pemikiran atau kaidah berpikir bagi apa yang mereka namakan dengan “kebangkitan Islam modern” yang dimotori oleh tokoh terpenting dalam masalah ini, yaitu Jamaluddin al-Afghani dan muridnya yang menjadi anggota organisasi Freemasonri, Muhammad Abduh, yang saat itu digelari syaikhul Islam.

Sesungguhnya perkataan semacam ini diucapkan oleh orang-orang yang memiliki niat buruk dan kebusukan yang tersembunyi, dengan maksud bisa memisahkan kaum Muslim dengan sebab-sebab kekuatan mereka dan mewariskan kepada mereka kelemahan yang membuatnya berdiam diri terhadap penerapan hukum-hukum Allah untuk kedua kalinya.

Perkataan tersebut juga dilontarkan oleh orang-orang yang berniat atau bermaksud baik, tetapi mereka mengira bahwa pemikiran tersebut merupakan obat mujarab  yang menyembuhkan apa saja yang diderita kaum Muslim saat ini, yaitu berupa kemunduran dan kemerosotan.

Perkataan seperti ini, baik diucapkan dengan niat buruk atau baik, pengaruhnya terhadap realita kaum Muslim sama saja. Kami, bagaimanapun juga memperingatkan kepada kaum Muslim tentang tipu daya orang-orang kafir terhadap agama ini. Kami menasehati mereka agar mencabut pemikiran semacam ini, yang pasti kegagalannya secara riil, yang tidak melahirkan kebaikan dan tidak mampu mengusir keburukan. Allah SWT telah  menjadikan kita umat yang paling kaya, karena Islam telah cukup dan tidak perlu mengambil dari umat yang lain. Tabiat Islam telah menentukan metoda pengambilannya. Dan agama Islam diturunkan Allah untuk untuk menyelesaikan seluruh problematika kehidupan. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh seorang Muslim kecuali berijtihad, menggali nash-nash syara’ yang telah diturunkan. Bukan mencari selainnya untuk mengetahui hukum-hukum Allah SWT. Kaedah berpikir seorang Muslim—yang mengharuskan kehidupannya terikat dengan dalil-dalil syara’—itulah yang disebut dengan hukum-hukum syara’ yang memiliki dalil-dalil yang rinci. Metode ijtihad ini bersifat tetap dan tidak berubah. Dengan alasan apapun tidak boleh menggantikannya. Dari sinilah betolaknya asas kebangkitan kita secara sempurna, sebagaimana telah bertolak sebelumnya.

Tidak ada salahya menyebutkan kaedah-kaedah dan pemikiran-pemikiran yang terikat dengan dalil-dalil syara’ yang wajib menguasai benak kaum Muslim untuk mengatur arah dan cara pandang mereka agar mereka berbuat sesuai syariat. Contohnya:

حيثما يكون الشرع تكون المصلحة، وليس العكس

Dimana ada hukum syara’ disitu ada maslahat, dan bukan sebaliknya

الأصل في الا فعل التقبد با لحكم الشرعي

Asal suatu perbuatan terikat dengan hukum syara

 الأصل في الا شياء الا با حة ما لم يرد دليل التحريم 

Asal segala sesuatu (benda-benda) adalah mubah selama tidak terdapat dalil yang mengharamkannya

الحسن ما حسنه الشرع، والقبح ما قبحه الشرع

Kebaikan (hasan) itu adalah apa-apa yang dikatakan baik oleh syara, dan keburukan (qabih) itu adalah apa-apa yang dikatakan buruk oleh syara

الخير هو ما ارض الله، والشر هو ما اسخطه

Kebaikan (khair) itu adalah apa-apa yang diridhai Allah, dan keburukan (syarr) itu adalah apa-apa yang dibenci Allah

لا حكم  قبل ورود الشرع

Tidak ada hukum sebelum datangnya syariat

من اعرضى عن ذكر الله فان له معيشة ضنكا

Barangsiapa yang berpaling dari hukum Allah maka baginya kehidupan yang sempit

 إن الامة الاسلا مية هي امة واحدة من دون الناس

Sesungguhnya umat Islam adalah umat yang satu tidak seperti umat yang lain

 إن الإسلام لا يقر الوطنية ولا القومية ولا الاشتراكية ولا الديمقراطية

Sesungguhnya Islam tidak mengakui wathaniyah (nasionalisme), qaumiyah (kebangsaan), istirakiyyah (sosialisme) dan demokrasi

إن الإسلام طراز معين في العيش يختلف عن غيره كل الا ختلاف

Islam adalah gaya hidup yang unik, yang berbeda dengan gaya hidup lainnya secara diametral

 Jika sebagian nash-nash syara diperhatikan dengan seksama maka akan menunjukkan dengan jelas tentang pentingnya keterikatan terhadap apa yang telah dipegang oleh generasi salafus shalih. Kita tidak boleh keluar dari keterikatan tersebut dengan membuat sesuatu yang baru (bid’ah), karena berlaku bid’ah di dalam agama adalah perbuatan yang tercela.

Rasullullah ﷺ bersabda:

 وقد تركت فيكم ما إن اعتصمتم به فلن تضلو ابدا، امرا بينا، كتاب الله وسنة نبيه

(سيرات ابن هشام)

Sungguh aku telah meninggalkan bagi kalian suatu perkara yang kalian berpegang teguh kepadanya maka kalian tidak akan tersesat selamanya, sesuatu yang telah jelas, (yaitu) Kitabullah dan Sunnah RasulNYA
(Sirah Ibnu Hisyam)

Lafadz abada (selamanya) juga mencakup kita semua.

Rasullullah ﷺ bersabda:

 وتفترق امتي على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النرالا واحدة قلوا: “و من هي يا رسول الله؟ قل: من أنا عليه واصحابي اليم  “.
(أبو داود وابن ماجه وترمذ وابن حنبل)

Dan umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya berada di neraka, kecuali satu. Dan mereka (para sahabat) bertanya: “Siapa orang-orang yang termasuk golongan yang selamat itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: (Yaitu) yang mengikuti jalanku dan jalan para sahabatku sekarang ini”. (HR Abu Dawud, Turmudzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hanbal)

 

Telah aku tinggalkan bagi kalian hujjah-hujjah yang putih bersih, yang tidak akan menyimpang daripadanya sesudahku kecuali orang-orang yang sesat. (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hanbal)

Sabda Rasulullah ﷺ:

 

Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada zamanku, kemudian orang-orang sesudah mereka, kemudian orang-orang sesudah mereka…. (HR Muslim)

Sabda Rasulullah ﷺ:

 

Barangsiapa diantara kalian yang diberi umur panjang maka ia akan melihat perbedaan yang banyak. Dan berhati-hatilah kalian dari membuat-buat perkara yang baru. Sesungguhnya setiap perkara itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah berada di neraka. Kalian wajib mengikuti Sunnahku dan sunnah khulafa ar-rasyidin yang telah mendapat petunjuk. Dan berpegang teguhlah kepadanya seperti menggigit dengan gigi geraham. (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

 

Beliau Rasulullah ﷺjuga bersabda:

 

Setiap perbuatan yang tidak Kami perintahkan sesungguhnya (perbuatan itu) tertolak. (HR Bukhari dan Muslim)

 

Hadis-hadis tersebut menyerukan untuk mengikuti yang hasan (baik) dan peringatan agar menjauhi perkara bid’ah. Dari sistematika kebaikan yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa keterikatan akan semakin melemah setiapkali zaman bertambah jauh dari masa Rasulullah ﷺ. Hal ini menunjukkan bahwa semakin jauh suatu zaman dengan masa Rasulullah ﷺ maka kita dituntut agar memiliki keterikatan yang lebih kuat, lebih konsisten dan lebih banyak lagi proses pencarian kebenaran, juga membutuhkan keikhlasan yang lebih besar. Apabila yang diminta atas kita adalah berpegang teguh kepada Sunnah Nabi ﷺ dan sunnah khulafa ar-rasyidin yang mendapat petunjuk, dan harus melaksanakan apa pun yang Rasulullah ﷺ dan para sahabat kerjakan, maka kita tidak boleh membuat-buat bid’ah di dalam agama dan tidak keluar lalu terperangkap pada perkara bid’ah. Yang demikian itu tertolak. Lalu, bagaimana jalan yang harus kita tempuh agar kita bisa memperoleh keselamatan dimasa sekarang ini?

  • Kita harus menjaga akidah Islam agar tetap bersih dan suci di dalam jiwa kita sehingga tidak ada satupun faktor yang bisa mengeruhkannya
  • Kita harus mengambil sumber-sumber Islam yang bersih dan suci
  • Kita harus menjaga metoda istidlal (pengambilan dalil) yang akurat, yang bisa mencegah infiltrasi hawa nafsu dan pendapat manusia ke dalam hukum-hukum syara
  • Kita harus menjadikan Islam sebagai perkara yang paling penting dalam kehidupan kita; lebih penting dari diri kita sendiri, anak-anak dan keluarga kita; lebih penting dari segala perkara yang mengikuti hawa nafsu kita dan kalimat Allah-lah yang tertinggi di dalam jiwa kita. Kita tidak melalaikan perintah-perintah Allah dan RasulNYA, sehingga keadaan kita menjadi seperti keadaan salafus shalih
  • Kita harus menanggalkan pemikiran-pemikiran kufur dan segala kotorannya dari jiwa dan akal kita, serta membuang jauh-jauh segala keburukan dan bekas-bekasnya sebagaimana para sahabat ra yang telah melucuti seluruh kotoran jahiliyyah di depan tangga Islam, lalu mereka memasukinya dengan penuh kesucian dan ketakwaan

Semua ini mengharuskan kita untuk memulai segalanya dari awal, karena umat dimasa akhir ini tidak akan baik kecuali dengan (menggunakan) perkara yang menjadikan umat dimasa awal baik. Ini merupakan suatu keharusan dimana kaum Muslim harus memilikinya pada setiap fase kehidupan mereka. Dekat atau pun jauhnya mereka dari perkara tersebut amat menentukan kuat atau lemahnya kondisi mereka.

Berdasarkan paparan di atas maka kita pun bertanya: Apa yang dimaksud dengan tadarruj? Mencakup apa saja didalam teori orang-orang yang membolehkannya? Kemudian, apa alasan-alasannya? Dan bagaimana pandangan syara terhadap hal tersebut?

Tadarruj berarti melaksanakan hukum syara yang dituntut melalui tahapan-tahapan, bukan sekaligus. Para penganutnya menyebutnya sebagai masa transisi (marhaliyah). Pertama-tama—menurut pandangan orang yang membolehkan tadarruj—seorang Muslim menerapkan atau menyerukan hukum selain hukum syara, akan tetapi hukum itu lebih dekat kepada hukum syara dibandingkan yang telah diterapkan sebelumnya. Kemudian—menurut pandangan orang yang membolehkan tadarruj—secara bertahap menyeru atau menerapkan hukum selain syara yang lebih dekat lagi dibandingkan dengan hukum sebelumnya. Setelah itu—menurut pandangan orang yang membolehkan tadarruj—menyeru atau menerapkan hukum selain syara yang lebih dekat lagi hingga menghantarkannya kepada hukum syara yang dituntut.

Tadarruj juga berarti menerapkan hukum syara dengan membiarkan penerapan hukum selain syara untuk sementara waktu, hingga tiba saatnya penerapan hukum syara secara sempurna.

Tadarruj—menurut pandangan orang yang membolehkannya—tidak terkait dengan tahapan-tahapan tertentu. Juga tidak tunduk kepada kaedah-kaedah yang mengikat. Kadang-kadang satu hukum bisa mengambil satu tahap, dua, tiga atau malah lebih. Tadarruj sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi dalam menentukan jumlah tahapan. Terkadang banyak, kadang sedikit. Dan waktu yang dibutuhkan setiap tahap terkadang memakan waktu lama, terkadang sebentar.

Istilah tadarruj kadang-kadang mencakup juga pemikiran-pemikiran yang berkaitan dengan akidah, seperti “Sesungguhnya sosialis itu bagian dari Islam” atau “Sesungguhnya demokrasi itu bagian dari Islam”. Terkadang mencakup juga hukum-hukum syara, seperti, keadaan seorang wanita yang mengenakan pakaian yang panjangnya sedikit dibawah lutut sehingga pada tahap berikutnya bisa melaksanakan hukum syara yang dituntut. Kadangkala tadarruj berkaitan dengan sistem, seperti tuntutan agar turut serta di dalam sistem pemerintahan, meskipun hal itu haram secara syar’i sesuai dengan pengakuan para pendukung tadarruj itu sendiri. Namun, menurut mereka bukan tuntutan itu yang menjadi tujuan sebenarnya. Bergabungnya dengan pemerintahan kufur itu dalam rangka menuju pemerintahan Islam yang merupakan pokok dan kewajiban pada tahap berikutnya. Tadarruj juga bisa berarti usaha-usaha untuk mewujudkan sebagian hukum Islam dengan membiarkan hukum-hukum lain, dengan harapan akan semakin banyak hukum Islam yang diterapkan, kemudian menjadi mayoritas dan seterusnya. Kadang-kadang tadarruj berkaitan dengan dakwah tatkala perkara tersebut dipropagandakan. Orang yang meyakini tadarruj bersikukuh dengan cara-caranya ini dan berusaha mengajak orang lain untuk mengikutinya. Kadang-kadang kita jumpai bahwa orang yang melontarkan ide ini adalah orang yang takwa, yang jika berkaitan dengan dirinya sendiri dia tidak menerima adanya tahapan-tahapan, akan tetapi jika berkaitan dengan orang lain dia menerima adanya tadarruj karena dia menghendaki agar orang lain dapat menjalankan hukum syara, disamping agar mereka tidak menolak dakwah kepada hukum-hukum Islam. Jadi, menurutnya, keadaan mereka yang menjalankan sebagian dari hukum-hukum adalah lebih baik dari pada tidak melaksanakannya sama sekali.