Sebelum berbicara tentang kepribadian manusia, kita tentu perlu memahami potensi kehidupan yang ada pada diri manusia itu sendiri. Jika dicermati, potensi yang ada pada diri manusia ada 2 (dua): (1) Akal; (2) Nafsu (jiwa). Nafsu ini terkait dengan kebutuhan jasmaniah (hajah ‘udhawiyyah) maupun ghara’iz (naluri-naluri).

 Potensi Dasar Manusia

potensi dasar manusia

 

  1. Akal (‘Aql)

Allah SWT berfirman:

7_179

Sesungguhnya Kami telah menjadikan untuk isi neraka Jahanam itu kebanyakan jin dan manusia. Mereka mempunyai qalb tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah); mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah); mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu ibarat binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS al-A’raf [7]: 179).

 Ayat ini secara tersirat menjelaskan bahwa manusia dan jin pada dasarnya tidak sama dengan binatang. Pasalnya, manusia memiliki akal, sedangakan binatang tidak. Namun demikian, saat manusia tidak berpikir atau tidak menggunakan akalnya, manusia bisa seperti binatang.

Meski secara empirik maupun dalam pandangan normatif Islam sudah jelas bahwa manusia memiliki akal, sejak dulu para filosof maupun para ulama Islam tidak mampu menjelaskan esensi akal. Ketidakmampuan memahami esensi akal ini berakibat cukup fatal. Di dunia Barat, mucullah filsafat, baik pada masa Yunani maupun Romawi kuno maupun saat ini. Adapun di Dunia Islam, muncul ilmu kalam, yang banyak dipengaruhi oleh filsafat Barat. Akibatnya fatal. Pembahasan akidah Islam justru menjadi kacau ketika para ulama Islam bersentuhan dengan filsafat Barat dan memunculkan ilmu kalam ini. Contohnya adalah munculnya perdebatan antara kaum Muktazilah dan Asy’ariyah di seputar zat dan sifat Allah. Muktazilah menyatakan sifat Allah sama dengan ZatNYA, sementara Asy’ariyyah menjelaskan bahwa keduanya berbeda. Hal itu karena tidak jelasnya batasan akal dalam pandangan masing-masing. Karena itulah, memahami esensi akal sangatlah penting.

Akal (rasio) berasal dari bahasa Arab: al-‘aql; maknanya sama (sinonim) dengan al-idrak (nalar) dan al-fikr (fikiran). Akal merupakan keistimewaan (khashiyah) yang hanya Allah tanamkan pada otak manusia, tidak pada otak binatang/hewan; meski binatang/hewan juga memiliki otak. Kemampuan otak  manusia untuk mengaitkan realitas yang dia indera dengan informasi yang dia dapat, itulah yang menjadi khashiyah otak, yang dengan itu manusia bisa berpikir atau memiliki akal. Bahkan otak manusia yang beratnya hanya 1200 gram ini mampu menyimpan 90 juta informasi. Keistimewaan ini jelas tidak ada pada otak binatang/hewan.

Namun demikian, otak bukanlah satu-satunya yang menyebabkan manusia memiliki akal atau bisa berpikir. Salah jika kita hanya mengidentikan akal dengan kerja otak saja. Pasalnya, akal sesungguhnya lebih menujukkan sebuah kerja manusia yang melibatkan 4 (empat) komponen: (1) Otak; (2) Indera; (3) Fakta; (4) Informasi. Kerja akal (rasio, nalar, pikiran) tidak lain adalah mentransfer fakta yang diindera ke dalam otak, yang dikaitkan dengan suatu informasi yang berhubungan dengan fakta tersebut. Karena itu, yang disebut dengan berpikir atau menggunakan akal tidak lain adalah upaya untuk melakukan transformasi fakta inderawi ke dalam otak dengan didukung oleh suatu informasi yang berhubungan dengan fakta tersebut.

 Komponen Akal

 komponen akal

Keempat komponoen akal itu mutlak harus ada agar manusia mampu berpikir; tidak boleh ada satupun yang kurang. Tanpa otak, misalnya, manusia jelas tidak bisa berpikir. Contoh: anak kecil (yang belum sempurna otaknya) atau orang gila (yang rusak otaknya). Tanpa Indera, manusia tidak bisa berpikir walaupun dia memiliki otak. Contoh: orang buta tidak bisa memikirkan benda (misal: minyak wangi dalam botol kecil) yang ada di depannya, kecuali dengan bantuan indera yang lain (misal: indera peraba [tangan], perasa [lidah], atau penciuman [hidung]). Tanpa fakta yang diindera, manusia juga tidak bisa berpikir. Contoh: manusia selamanya tidak akan mampu memikirkan zat (esensi) Allah, karena zat (esensi) Allah tidak faktual alias bukan fakta yang dapat diindera. Tanpa informasi, juga demikian; manusia tidak bisa berpikir. Contoh nyata adalah penjelasan Allah mengenai kisah Adam dan para malaikat saat masing-masing diperintahkan untuk menyebutkan nama-nama semua eksistensi yang ada. Saat itu, Adam mampu melakukannya karena sebelumnya telah diberi informasi (diajari) oleh Allah, sedangkan malaikat tidak. Allah SWT berfirman:

2_31

2_32

2_33

Dia mengajari Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat seraya berfirman, “Sebutkanlah kepadaKU nama benda-benda itu jika kalian memang orang-orang yang benar!” Mereka menjawab, “Mahasuci ENGKAU, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah ENGKAU ajarkan kepada kami. Sesungguhnya ENGKAULAH Mahatahu lagi Mahabijaksana.” Allah berfirman, “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” (QS al-Baqarah [2]: 31-33).

 Cara Manusia Berpikir

cara manusia berpikir

  1. Jiwa (Nafsu)

Jiwa adalah istilah lain dari nafsu. Nafsu berasal dari bahasa Arab an-nafs, bentuk pluralnya al-anfus atau an-nuffus. Secara etimologis, kata ini merupakan kata musytarak, yaitu satu kata dengan makna lebih dari satu. Jumhur ulama mengatakan bahwa nafsu adalah ruh. Ketika dikatakan: Kharajat nafsuhu, maksudnya ruhnya keluar. Ada yang mengatakan nafsu dan ruh itu berbeda. Al-Quran sendiri menggunakan kata an-nafs  dengan konotasi zat (badan), seperti yang digunakan dalam QS an-Nur [24]: 61; an-Nahl [16]: 111; dan al-Mudatstsir [74]: 38; kadang digunakan dengan konotasi ruh, seperti dalam QS az-Zumar [39]: 42. Akan tetapi, ruh tidak pernah digunakan dengan konotasi badan, baik ketika berdiri sendiri, maupun dikaitkan dengan nafsu.

Menurut istilah, batasan nafsu (jiwa) selalu dikaitkan dengan ruh dan jasad, karena semuanya merupakan unsur pembentuk manusia. Kaum Perpatetik, penganut filsafat Aristoteles, mengatakan bahwa nafsu bukan jisim dan aksiden; tidak bertempat, tidak mempunyai ukuran panjang, lebar, volume, warna dan dimensi; juga tidak ada di duni, di luar, berdekatan atau berbeda.

Sementara itu, Ibn Sina berpendapat, nafsu (jiwa)—dalam konteks badan—bagaikan mawdhu’ (subyek), sedangkan badan dengan seluruh anggotanya—dalam konteks nafsu (jiwa)—bagaikan alat yang digunakan nafsu untuk melakukan berbagai aktivitas.

Ibn Arabi, di antara ulama sufi yang paling populer, dalam Tuhfat as-Safarah fi Hadhrat al-Bararah, menyatakan bahwa nafsu (jiwa) adalah kekuatan syahwat, yang berkaitan dengan seluruh badan. Ia merupakan sumber sifat-sifat tercela. Ibn al-Qayyim sendiri, setelah mengemukakan pandangan berbagai kalangan tentang nafsu, akhirnya berkesimpulan bahwa nafsu merupakan sumber pengetahuan akal. Ilmunya muncul dari zatnya, dan untuk mengetahui zat tersebut tidak diperlukan sesuatu yang lain, selain zat itu sendiri.

Nafsu (jiwa) adalah fitrah manusia yang bersifat netral, tidak seperti yang dikatakan oleh Ibn Arabi, bahwa nafsu merupakan sumber segala keburukan. Allah SWT berfirman:

91_8 91_7

Demi jiwa (nafsu) serta penyempurnaan (ciptaan)-nya, Allah mengilhamkan pada jiwa (nafsu) itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (QS as-Syams [91]: 7-8).

Artinya, nafsu (jiwa) itu sendiri pada dasarnya fitrah yang bisa baik dan buruk, atau taat dan maksiat. Ia akan menjadi baik dengan amal salih dan menjadi buruk dengan perbuatan tercela. Nafsu bisa membuat orang berpikir, mengidentifikasi, tenang, gelisah, lapar, dahaga, dengki, tamak, ridha dan qana’ah; serta pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan lain.

Karena itu, jika disederhanakan lagi, nafsu itu sesungguhnya meliputi akal sekaligus kebutuhan jasmaniah dan naluri-naluri yang ada pada manusia.

Pertama: Kebutuhan Jasmaniah. Ada dua ciri khas kebutuhan jasmaniah manusia:

  • Muncul dari karena dorongan dari dalam (internal) sebagai hal yang alami. Contoh: Kebutuhan manusia untuk makan didorong oleh rasa lapar; kebutuhan untuk minum didorong oleh rasa haus; kebutuhan untuk istirahat/tidur didorong oleh rasa kantuk; kebutuhan untuk buang hajat didorong oleh rasa kebelet (kontraksi).
  • Jika tidak dipenuhi akan berisiko secara fisik; bisa sakit bahkan menimbulkan kematian. Contoh: manusia butuh makan saat lapar, butuh minum ketika haus, butuh tidur/istirahat manakala ngantuk, dan butuh buang air besar/kecil saat kebelet. Jika masing-masing kebutuhan itu tidak segera dipenuhi, tentu akan berisiko buruk bagi manusia secara fisik, bahkan bisa menimbulkan kematian. Realituas kebutuhan jasmaniah pada manusia ini juga diakui oleh Allah dalam al-Quran (Lihat misalnya: QS ar-Rum [30]: 23; QS al-Mu’minun [23]: 33; QS al-Maidah [5]: 3).

 Hakikat Kebutuhan Jasmaniah

 hakikat kebutuhan jasmaniah

Kedua: Naluri-naluri. Naluri manusia ada 3 (tiga) macam:

  • Naluri Beragama (gharizah tadayyun)
  • Naluri untuk melestarikan jenis/keturunan (gharizah naw’)
  • Naluri untuk mempertahankan eksistensi diri (gharizah baqa’)

Berbeda dengan kebutuhan jasmaniah, kebutuhan yang bersifat naluriah memiliki ciri khas:

  1. Muncul karena adanya rangsangan dari luar. Rangsangan ini bisa berupa realitas dan bisa juga berupa pemikiran. Conto: seorang lelaki normal akan serta-merta bangkit hasrat seksualnya saat melihat realitas berupa wanita cantik yang auratnya terbuka dan berpakaian seksi; seorang akan bekerja mencari makan untuk mempertahankan hidupnya; seseorang akan berdoa kepada Tuhan saat ditimpa kesulitan; dan lain-lain.
  2. Jika tidak segera dipenuhi hanya berisiko secara psikis, tidak secara fisik. Contoh: seseorang yang bangkit hasrat seksualnya tidak akan mendapatkan risiko sakit secara fisik atau risiko kematian ketika hasratnya itu tidak dipenuhi; seseorang yang tidak bekerja mencari nafkah tidak akan mendapatkan risiko secara fisik atau risiko kematian saat dirinya tidak bekerja atau tidak pnya pekerjaan; seseorang tidak akan mendapatkan risiko secara fisik atau bahkan risiko kematian jika dirinya tidak berdoa kepada Tuhan saat ditimpa kesusahan, dan seterusnya. Tidak adanya pemenuhan masing-masing naluri ini hanya akan berdampak buruk secara psikis, tidak secara fisik.

Masing-masing naluri manusia ini bersifat laten (tersembunyi). Namun demikian, keberadaannya bisa ditunjukkan oleh sejumlah gejalanya yang khas. Naluri beragama, misalnya, ditunjukkan oleh gejala berupa sikap manusia yang selalu bergantung pada sesuatu yang dianggap lebih berkuasa atas dirinya, menyucikan sesuatu (taqdis), menyembah sesuatu (ibadah), dan lain-lain. Naluri melestarikan keturunan ditunjukkan oleh gejala berupa kecenderungan seksual, bersifat kebapakkan pada pria, sifat keibuan pada wanita, dan lain-lain. Naluri mempertahankan eksistensi diri ditunjukkan oleh upaya manusia untuk bekerja mencari makan, menuntut ilmu untuk memperluas pengetahuan, atau menambah keterampilan. Gejala berupa marah ketika dihina, sedih saat dicaci, senang dan gembira manakala dipuji dan dipuja, membela diri atau melawan ketika hendak dicederai, dan lain-lain juga merupakan penampakan dari naluri ini. Realitas keberadaan naluri manusia ini juga diakui oleh Allah di dalam al-Quran (Lihat misalnya: QS al- Baqarah [2]: 124; Yusuf [12]: 24; az-Zumar [29]: 4).

Hakikat Kebutuhan Naluriah

 hakikat kebutuhan naluriah

Jiwa Bukan Ruh

Jiwa (nafsu) jelas berbeda dengan ruh. Allah SWT berfirman:

39_42

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan jiwa (orang) yang belum mati pada waktu tidurnya. Dia lalu menahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. (QS az-Zumar [39]: 42).

Dalam konteks ini, Ibn Abbas mengatakan:

Di dalam tubuh anak Adam (manusia) terdapat jiwa dan ruh; beda di antara keduanya bagaikan sinar mentari. Jiwalah yang membuat manusia berpikir dan mengidentifikasi, sementara ruh (nyawa)-lah yang membuat orang tersebut bernafas dan bergerak. Jika seseorang tidur, Allah SWT menarik jiwanya, tetapi tidak dengan ruhnya; dan jika dia mati, Allah SWT menarik jiwa dan ruhnya.

Karena ruh dan nafsu ini melekat pada tubuh (jasad) manusia, maka keduanya sering dicampuradukkan satu sama lain. Padahal masing-masing jelas berbeda. Manusia memang tidak dapat dipisahkan dari tiga unsur: jasad, ruh dan nafsu. Jasadlah yang diciptakan oleh Allah, kemudian ke dalam jasad (tubuh) itu, Allah meniupkan ruh. Dengan masuknya ruh ke dalam jasad (tubuh) manusia itu, maka terbentuklah nafsu. Setelah itu, lahirlah manusia dengan jasad, ruh dan nafsunya.

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa jasad (tubuh) manusia, jika tanpa kehadiruan ruh, hanyalah seonggok benda mati. Dengan ruh itulah, manusia hidup sehingga bisa bernafas dan bergerak. Setelah itu, Allah menetapkan fitrahnya:

87_3

Dialah yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk. (QS al-A’la [87]: 3).

Ketentuan Allah untuk manusia yang dimaksud di dalam ayat ini adalah, bahwa masing-masing manusia telah diberi kebutuhan jasmani dan naluri; masing-masing kemudian mendorong agar kebutuhannya dipenuhi. Dari sinilah, nafsu manusia itu terbentuk. Dari sanalah, manusia—yang terdiri dari jasad dan ruh—itu kemudian berpikir dan melakukan identifikasi; mana kebutuhan jasmani dan mana naluri; mana yang mutlak harus dipenuhi dan mana yang tidak harus dipenuhi.

Unsur Pembentuk Manusia

Unsur pembentuk manusia