Kepribadian manusia selalu menjadi tema yang menarik untuk diketahui, apalagi kepribadian kita sendiri. Rasa ingin tahu akan kepribadianlah yang membuat banyak orang pergi ke psikolog untuk menjalani tes-tes kepribadian. Semua ini dilakukan demi mengetahui, seperti apa sesungguhnya diri kita ini?

Usaha-usaha untuk menyusun teori dalam piskologi/kepribadian telah sejak lama dilakukan orang. Hasil-hasil dari usaha-usaha tersebut ada yang masih dianggap jauh dari nilai ilmiah (masih bersifat prailmiah) sperti: chirologi (ilmu gurat/garis tangan), astrologi (ilmu perbintangan), grafologi (ilmu tulisan tangan), phisiognomi (ilmu tentang wajah), phrenologi (ilmu tentang tengkorak) dan onychologi (ilmu tentang kuku).

Ada juga usaha-usaha yang dianggap lebih bermutu, seperti yang dilakukan oleh Hippocrates. Ia berpendapat bahwa pada diri sesorang terdapat 4 macam cairan tubuh yang mempengaruhi karakter: empedu kuning , empedu hitam; lender; darah merah. Galenus lalu menyempurnakan teori Hippocrates ini. Teori Galenus ini dijabarkan kembali oleh Florece Littauer dalam bukunya Personality Plus tentang kholeris, melankholis, phlegmatis dan sanguinis.

Masih banyak lagi teori-teori tentang kepribadaian seperti teori dari Edwar Spranger, Kurt Lewin, Carl Rogers, Jung, HJ Eysenck dan lain-lain. Pada tahun 2004, Taylor Hartman mencoba membedakan kepribadian manusia dengan menggunakan kode warna.

Menurut Hartman, setiap orang memiliki kepribadian dasar. Kepribadian seseorang telah terbentuk sejak nafas pertama ditiupkan ke dalam kandungan. Kepribadian seseorang memang dapat berkembang tetapi tidak akan keluar dari sifat-sifat inti atau dasarnya. Kepribadian adalah inti pikiran dan perasaan di dalam diri seserorang yang memberitahu bagimana ia membawa diri. Kepribadian merupakan daftar respon berdasakan nilai-nilai dan kepercayaan yang dipegang kuat. Kepribadian akan mengantarkan reaksi emosional sesorang disamping rasional  terhadap setiap pengalaman hidup. Dengan kata lain, kepribadian adalah proses aktif di dalam setiap hati dan pikiran seseorang yang menentukan bagaimana ia merasa beripikir dan berperilaku (Hartman, 2004).

Hartman lalu membagi tipe keprbadian menurut empat aspek dominan di dalam alam: api, tanah, air dan udara. Atas dasar ini, ia kemudian membedakan empat tipe kepribadian orang menurut kode warna, yaitu tipe kepribadian merah, biru, putih dan kuning. Kepribadian merah merepresentasikan sifat-sifat api (memiliki semangat yang membara dalam kehidupan); kepribadian biru merepresentasikan sifat-sifat tanah (kuat dan teguh dalam pendirian); kepribadian putih merepresentasikan sifat-sifat dasar air (mengalir dan mengikuti arus); kepribadian kuning merepresentasikan sifat-sifat angin (beritup kesana kemari).

Empat Tipe Kepribadian Manusia Menurut Hartman

 4 tipe kepribadian manusia

Kepribadian memang bersifat unik sehingga tidak ada satu orang pun yang sama persis dengan orang yang lain, meskipun terlahir kembar. Memang, ada jutaan variasi kepribadian. Namun, menurut Hartman (2004), kepribadian setiap orang dapat digolongkan menurut motif dasar, kebutuhan dan keinginan yang cenderung stabil sepanjang hayat.

Banyak cara orang untuk mengetahui kepribadian manusia. Selain dengan mengikuti tes-tes psikologi, banyak metode yang digunakan untuk mengetahui kepribadian. Diantaranya dengan menggunakan enneagram. Enneagram diartikan sebagai “sebuah gambar bertitik sembilan”. Metode ini dikabarkan telah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan diajarkan secara lisan dalam suatu kelompok sufi di Timur Tengah hingga akhirnya mulai berkembang di Amerika Serikat sekitar tahun 1960-an. Kepribadian manusia dalam sistem enneagram terbagi menjadi 9 (sembilan) tipe. Renee Baron dan Elizabeth Wagele, lewat buku yang berjudul Enneagram, berusaha untuk menjelaskan kesembilan tipe tersebut agar lebih mudah dimengerti. Sembilan tipe kepribadian:

  1. Perfeksionis

Termotivasi oleh kebutuhan untuk hidup dengan benar, memperbaiki diri sendiri dan orang lain dan menghindari marah.

 

  1. Penolong

Termotivasi oleh kebutuhan untuk dicintai dan dihargai, mengekspresikan perasaan positif pada orang lain dan menghindari kesan membutuhkan.

 

  1. Pengejar Prestasi

Termotivasi oleh kebutuhan untuk menjadi orang yang produktif, meraih kesuksesan dan terhindar dari kegagalan.

 

  1. Romantis

Termotivasi oleh kebutuhan untuk memahami perasaan diri sendiri serta dipahami orang lain, menemukan makna hidup dan menghindari citra diri yang biasa-biasa saja.

 

  1. Pengamat

Termotivasi oleh kebutuhan untuk mengetahui segala sesuatu dan alam semesta, merasa cukup dengan diri sendiri dan menjaga jarak, serta menghindari kesan bodoh atau tidak memiliki jawaban.

 

  1. Pencemas

Termotivasi oleh kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan, merasa diperhatikan dan terhindar dari kesan pemberontak.

 

  1. Petualang

Termotivasi oleh kebutuhan untuk merasa bahagia serta merencanakan hal-hal menyenangkan, memberi sumbangsih pada dunia, dan terhindar dari derita dan dukacita.

 

  1. Pejuang

Termotivasi oleh kebutuhan untuk dapat mengandalkan diri sendiri, kuat memberi pengaruh pada dunia dan terhindar dari kesan lemah.

 

  1. Pendamai

Termotivasi oleh kebutuhan untuk menjaga kedamaian, menyatu dengan orang lain dan menghindari konflik.

 

 

Meluruskan Kekeliruan

Jika kita mencermati berbagai teori psikologi maupun teori kepribadian yang selama ini berkembang, baik klasik maupun modern, termasuk beberapa teori psikologi/kepribadian di atas, kita akan menemukan sejumlah kelemahan mendasar di dalamnya. Kelemahan itu berakar pada perhatian berbagai teori tersebut yang hanya terfokus pada faktor psikis (kejiwaan) manusia, tanpa menyentuh aspek pemikirannya. Padahal pemikiranlah yang paling berpengaruh terhadap aspek psikis (kejiwaan) seseorang, sementara pemikiran sangat dipengaruhi oleh keyakinan, agama atau ideologinya.

Dalam komunitas masyarakat yang pemikirannya didominasi oleh paham/ideologi sekularisme, misalnya, yang menjadikan materi/keduniawian sebagai ukuran kebahagiaan, banyak individunya yang mengalami gangguan kejiwaan, dari mulai depresi ringan hingga stress berat. Padahal mungkin tingkat kemakmuran mereka sangat tinggi. Fenomena ini, misalnya, terjadi di Eropa, Amerika atau Jepang. Jepang bahkan memiliki rekor cukup tinggi dalam hal angka bunuh diri warganya. Pelarian mereka untuk lepas dari jeratan gangguan kejiwaan ini dengan cara mengkonsumsi minuman keras, narkoba atau seks bebas ternyata sering menuai kegagalan. Sebaliknya, dalam komunitas masyarakat yang pemikirannya didominasi oleh agama/ideologi Islam, yang menjadikan keridhaan Allah sebagai ukuran kebahagiaan, individu-individunya tidak mudah dilanda depresi, apalagi stress; meski mungkin secara ekonomi tak bisa dikatakan makmur/sejahtera.

Sebagai contoh lain, fenomena menarik terjadi di Irak, terutama sejak invasi Amerika dan Sekutunya. Sudah banyak dikabarkan, puluhan ribu tentara Amerika yang diterjunkan dalam kancah Perang Irak mengalami depresi hingga stress berat. Sebaliknya, tidak banyak dilaporkan para pejuang Muslim Irak mengalami hal yang sama. Fenomena ini mudah dipahami dengan satu alasan: dalam berjihad melawan orang-orang kafir, pasukan Muslim biasanya berperang demi mencari syahadah (mati syahid) yang diyakini sebagai kebajikan paling puncak; sementara orang-orang kafir berperang justru demi mencari kemenangan dan takut akan kematian. Tentu gampang dibayangkan adanya perbedaan—dari aspek psikis (kejiwaan)—antara pasukan yang berperang demi mencari kematian (sebagai satu-satunya pintu masuk surga) dan pasukan yang berperang dengan dibayang-bayangi rasa takut akan kematian (sebagai pintu keluar dari kebahagiaan).