Dalil-dalil syariah merupakan pokok-pokok hukum syariah. Karena itu, dalil-dalil syariah sama persis dengan ushuluddin atau akidah, yaitu harus bersifat qoth’i (pasti/tegas) dan tidak boleh bersifat zhanni (dugaan/prasangka). Pokok-pokok syariah secara keseluruhan, baik ushuluddin maupun ushul al-ahkam adalah dalil-dalil syariah yang, tidak bisa tidak, harus qoth’i dan tidak boleh bersifat zhanni. Sebab, Allah SWT berfirman:

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

Janganlah kamu mengikuti apa yang tidak kamu ketahui. (QS al-Isra’ [17]: 36).

Allah SWT berfirman:

وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلا ظَنًّا إِنَّ الظَّنَّ لا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا

Kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali dugaan saja. Sesungguhnya dugaan itu tidak berguna sedikitpun untuk mencapai kebenaran. (QS Yunus [10]: 36).

Jumhur ulama telah menegaskan, bahwa ushul al-ahkam itu wajib bersifat qoth’i Al-Hafizh al-Mujtahid Abu Ishaq Ibarahim bin Musa al-Lakhami al-Gharnathi yang masyhur dikenal dengan asy-Syathibi dalam kitab Al-Muwafaqat menyatakan:

Sesungguhnya ushul fikih dalam din itu adalah qoth’i dan bukan zhanni. Dalilnya kembali pada integralitas syariah (kulliyah asy-syar’iyyah) itu sendiri selama seperti itu maka ushul fikih itu qath’i.

Beliau pun menyatakan:

Seandainya boleh mengaitkan hal yang zahnni dengan kulliyah asy-syar’iyyah maka tentu boleh pula mengaitkan halyang  zhanni tersebut dengan pokok syariah, karena pokok syariah tersebut adalah totalitas yang pertama (al-kulli al-awwal) ini tentu tidak boleh .

Selanjutnya beliau menyatakan:

Seandainya boleh menjadikan yang zhanni itu sebagai pokok pada ushul fikih maka tentu boleh pula menjadikannya sebagai pokok pada ushuluddin padahal yang disepakati tidaklah seperti itu. Demikian pula disini, pengkategorian ushul fikih sebagai bagian dari ushul asy-syar’iyyah adalah sebagaimana pengkategorian ushul fikih sebagai bagian dari ushuluddin.

Beliau juga menyatakan:

Sesungguhnya sebagian kalangan telah menyatakan, bahwa tidak ada peluang bagi penetapan pokok-pokok syariah (ushul asy-syar’iyyah) dengan sesuatu yang zhanni, karena hal itu berkaitan dengan pembuatan syariah (tasyri’), dan kita tidak beribadah dengan zhanni kecuali pada perkara cabang (furu).

Beliau juga mengatakan:

Pada dasarnya setiap ketentuan (taqdir) itu harus qoth’i karena jika bersifat zhanni maka akan memunculkan adanya kemungkinan perbedaan pendapat. Tentu yang semacam itu tidak dijadikan sebagai pokok dalam agama.

Sementara itu, Imam Jamaluddin Abdurrahim al-Asnawai, dalam kitab Nibayah as-Sa’ul, ketika membicarakan dalalah “uf’ul”  dari sisi bahwa dalil zhanni itu tidak diakui, beliau menyatakan:

Adapun (berdalil) dengan khabar ahad maka itu adalah batil karena riwayat ahad meski memberikan faedah, hanya memberikan faedah yang bersifat dugaan. Padahal Pembuat syariah hanya membolehkan sesuatu yang zahnni dalam masalah-masalah praktis/amaliah, yakni masalah-masalah cabang (furu) dan bukan dalam masalah-masalah keilmuan/imiah seperti kaidah-kaidah ushuluddin, demikian pula kaidah-kaidah ushul fikih; sebagaimana dikutip oleh al-Anbari, pensyarah kitab Al-Burhan, dari para ulama terkemuka.

Alasannya, karena ayat-ayat al-Quran secara jelas telah melarang hal-hal yang zhanni dalam masalah-masalah ushul sekaligus mencela orang-orang yang mengikuti hal-hal yang zhanni. Hal ini merupakan ketetapan yang menunjukkan bahwa pokok-pokok syariah secara mutlak, baik ushuluddin maupun ushul al-ahkam, wajib bersifat qoth’i dan tidak benar jika bersifat zhanni. Karena itu, di dalam ushul fikih sama sekali tidak didapatkan hal-hal yang tidak qoth’i, karena adanya larangan yang gamblang tentang hal itu. Bahkan ushul fikih  secara keseluruhan adalah qoth’i. Karena itu, dalil syariah, agar dapat dikategorikan sebagai hujjah , harus didukung oleh dalil qoth’i yang menujukkan ke-hujjah-annya. Selama tidak ada dalil qoth’i yang menujukkannya maka ia tidak dapat dikategorikan sebagai dalil syariah.

Dalil yang ke-hujjah-annya didasarkan pada dalil qoth’i ada empat dalil, tidak ada yang lain, yaitu: al-Kitab; as-Sunnah; Ijmak Sahabat; dan Qiyas yang ‘illat-nya ditunjuk oleh nash syariah. Selain keempat ini tidak dapat dikategorikan sebagai dalil syariah karena tidak didukung oleh dalil qoth’i. Karena itu, pokok-pokok hukum syariah itu, yakni dalil-dalil syariah, tebatas pada yang empat ini, sedangkan yang lainnya tidak diakui.

Kategorisasi Dalil

Kategorisasi Dalil