Dimanapun ada syariah, di situ pasti ada maslahat.  Kemaslahatan yang sebenarnya pada dasarnya adalah kemaslahatan yang ditentukan oleh syariah (Allah), bukan yang ditentukan oleh akal (manusia) yang serba relatif. Dalam hal ini, penting untuk dipahami, bahwa syariah pasti mengandung maslahat.

Kemaslahatan pada dasarnya adalah diperolehnya manfaat dan terhindarkannya kerusakan (jalb al-manafi’ wa daf’ al-mudhirrah). Menentukan suatu perkara itu maslahat atau tidak, hanya otoritas syariah semata. Syariahlah yang dapat menentukan hakikat kemaslahatan tersebut. Sebab, kemaslahatan yang dimaksud tentu kemaslahatan bagi manusia dalam kapasitasnya sebagai manusia yang mempunyai kebutuhan jasmaniah dan naluriah. Memang, kemaslahatan adakalanya dapat ditentukan oleh akal maupun syariah. Masalahnya, mana kemaslahatan yang benar-benar sesuai dengan fitrah manusia: yang ditentukan oleh akal atau syariah?

Jka akal dibiarkan menentukan kemaslahatan sendiri, padahal sejatinya akal memiliki kemampuan yang terbatas, pasti ia tidak akan mampu menjangkau hakikatnya, karena akal juga tidak mungkin mampu memahami hakikat manusia. Yang dapat memahami hakikat manusia hanyalah Pencipta manusia, yakni Al-Khaliq, Allah SWT.

Memang, manusia dapat saja menentukan suatu perkara itu maslahat atau tidak. Akan tetapi, dia tidak mungkin menentukannya secara pasti. Padahal menentukan kemaslahatan berdasarkan asumsi atau klaim hanya akan menyeret manusia ke dalam kehancuran. Sebab, adakalanya manusia mengira suatu perkara mengandung kemaslahatan, tetapi akhirnya terbukti menimbulkan kemudaratan. Demikian juga sebaliknya. Ini dari satu aspek. Sementara itu, dari aspek lainnya, dapat dikatakan bahwa penilaian akal atas aspek kemaslahatan tersebut dapat berubah dari waktu ke waktu dan berbeda antara satu tempat dan tempat lainnya. Artinya, kemaslahatan yang ditentukan oleh akal manusia pastilah bersifat asumtif sekaligus relatif.

Karena itu, akal tidak boleh dibiarkan untuk menentukan aspek kemaslahatan. Syariahlah—yang notabene bersumber dari Zat Yang Mahatahu—yang harus menentukannya. Sebab, hanya syariahlah yang mampu menentukan kemaslahatan dan kemudaratan yang hakiki. Karena itu, yang mesti dilakukan akal adalah sekedar menyerap suatu realitas sebagaimana apa adanya, lalu memahami nash  syariah mengenai relitas tersebut, baru kemudian menerapkan nash tersebut di atas pada realitas yang dimaksud. Jika relevan, di sana pasti ada kemaslahatan atau kemudaratan sebagaimana dinyatakan oleh syariah. Akan tetapi, jika tidak relevan, makna yang relevan dengan realitas tersebut harus dicari sehingga kemaslahatan atau kemudaratan yang dinyatakan oleh syariah tersebut dapat diketahui setelah hukum Allah atas realitas tersebut diketahui.

Walhasil, kemaslahatan yang hakiki pada dasarnya adalah kemaslahatan yang ditentukan oleh syariah, bukan yang ditentukan oleh akal yang serba relatif. Dalam hal ini, penting untuk dipahami, bahwa syariah pasti mengandung maslahat. Artinya, di mana ada syariah, di situ pasti ada maslahat. Demikianlah sebagimana yang dinyatakan oleh ushul berikut.

Dimanapun ada syariah, di situ pasti ada maslahat.

MASLAHAT

– SYARIAH (ALLAH SWT)   >  HAKIKI

– AKAL (MANUSIA)   >  SEMU