Islam—dengan syariahnya—satu-satunya aturan hidup yang ada di dunia ini yang membahas seluruh urusan dan persoalan keduniaan maupun keakhiratan dengan sempurna. Artinya, hanya Islamlah satu-satunya syariah di dunia ini yang utuh dan sempurna, yang dapat diimplementasikan sebagi agama dan ideologi sekaligus. Islam adalah agama juga ideologi yang haq bagi manusia. Selain dari Islam baik agama maupun ideologi, semuanya bathil.

Islam: Akidah dan Syariah

Mahmud Syalthut menyatakan bahwa akidah adalah sudut pandang yang harus diyakini terlebih dulu sebelum meyakini sesuatu yang lain. Sudut pandang ini tidak boleh disusupi dengan keraguan dan dipengaruhi oleh kesamaran. Adapun syariah adalah sistem atau aturan yang disyariahkan oleh Allah SWT untuk mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesama Muslim, dengan sesama manusia, dengan alam semesta dan dengan kehidupan.

Al-Quran menggunakan kata al-iman  untuk akidah dan kata ‘amal ash-shalih untuk syariah. Al-Quran telah menyatakan hal ini di banyak ayat, antara lain: QS al-Kahfi [18]: 107-108; an-Nahl [16]: 97; al-‘Ashr [103]: 3; dan al-Ahqaf [46]: 13. Kenyataan ini menunjukkan bahwa Islam merupakan satu-kesatuan utuh yang terdiri dari akidah dan syariah. Pemisahan akidah dari syariah akan menghilangkan jatidiri ajaran Islam.

Mahmud Syalthut menyatakan, “Dalam Islam, akidah adalah landasan pokok (al-ashl) yang membangun syariah. Syariah merupakan refleksi akidah. Oleh karena itu, tidak ada syariah tanpa keberadaan akidah. Tidak ada penerapan syariah Islam kecuali di bawah naungan akidah Islam. Sebab, syariah tanpa dilandasi akidah seperti bangunan tanpa dasar (pondasi).”

 

Syariah: Refleksi dari Akidah

Hakikat keimanan kepada Allah adalah menegakkan prinsip-prinsip tauhid dan meniadakan seluruh antitesisnya, yakni syirik.  Secara literal, tauhid berarti mengesakan, sedangkan syirik berarti menyekutukan. Akidah Islam mengharuskan penyerahan diri kepada Allah secara total yang diwujudkan dengan kepatuhan pada hukum-hukumNYA. Suatu ketika, Rasulullah ﷺ membaca ayat al-Quran berikut:

ٱتَّخَذُوٓا۟ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَٰنَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَٱلْمَسِيحَ ٱبْنَ مَرْيَمَ وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوٓا۟ إِلَٰهًا وَٰحِدًا ۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَٰنَهُۥ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah. 

(QS at-Taubah [9]: 31)

Mengomentari ayat ini, Adi bin Hatim menyatakan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani tidaklah menyembah rahib-rahib dan pendeta-pendeta mereka, tetapi mereka menyembah kepada Allah. Pernyataan ini dibantah oleh Rasulullah ﷺ dengan sabdanya:

Akan tetapi, sesungguhnya rahib-rahib dan pendeta itu telah mengharamkan apa yang halal kepada mereka dan menghalalkan apa yang haram untuk mereka, kemudian mereka mengikutinya. Itulah ibadah mereka kepadanya.  (Ibn Katsir, Tafsif Ibn Katsir, II/349)

Seorang Muslim harus meyakini bahwa hukum-hukum Allah (syariah Allah) adalah satu-satunya hukum terbaik yang mampu memecahkan seluruh problem umat manusia. Ia tidak boleh meyakini bahwa aturan-aturan lain selalin aturan Allah mampu menyaingi atau setingkat levelnya dengan aturan Allah SWT.

Seorang Mukmin wajib menjunjung tinggi al-Quran dan as-Sunnah. Ia hanya akan berhukum dengan aturan-aturan Allah SWT. berhukum hanya pada al-Quran dan as-Sunnah adalah kewajiban mendasar seorang Muslim sekaligus refleksi keimanannya kepada Allah SWT. Al-Quran telah menyampaikan pesan penting ini di banyak ayat.

 

Keterikatan dengan Syariah: Bukti Keimanan

Allah SWT berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sungguh, demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim dalam perkara apa saja yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerimanya dengan sepenuhnya.  (QS an-Nisa’ [4]: 65)

Dalam ayat di atas, Allah SWT, setelah bersumpah dengan ZatNYA Yang Mahasuci dan Mahaagung, lalu melanjutkannya dengan jawab al-qasamNYA: la yu’minuna hatta yuhakkimuka fi ma syajara baynahum (mereka tidak beriman sampai mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim dalam perkara apa saja yang mereka perselisihkan). Kata hatta memberikan makna  ghayah (batas akhir). Itu berarti, mereka baru dapat dikategorikan sebagai Mukmin ketika mereka telah mengerjakan semua perbuatan yang disebutkan setelahnya (kata hatta). Perbuatan tersebut adalah yuhakkimuka fi ma syajara baynahum. Kata yuhakkimuka berarti yaj’aluka hakam[an] (mereka menjadikan kamu sebagai hakim), sedangkan fi ma syajara baynahum berarti fi ma ihktalatha baynahum (dalam perkara apa saja yang diperselisihkan diantara mereka).

Pada frasa ini Allah SWT menegaskan keimanan mereka sebelum mereka bersedia menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai hakim yang memutuskan semua perkara mereka dan tidak mengangkat hakim selain Beliau.

Selanjutnya Allah SWT berfirman: Tsummma la yajidu fi anfusihim harajat[an] mima qadhayta. Menurut Mujahid, kata haraj bermakna asy-syakk (keraguan), karena orang yang ragu, dadanya akan terasa sempit dalam menjalankan perintahnya. Mufasir lainnya menjelaskan bahwa kata haraj berarti dhayyiqq (sesak atau sempit). Artinya, dada mereka tidak meresa sesak terhadap keputusan Rasulullah ﷺ dan mereka pun merasa ridha dengan keputusan Beliau ﷺ.

Frasa ini memberikan syarat lanjutan bagi siapapun yang ingin dikelompokkan sebagai Mukmin. Ia tidak hanya sanggup ber-tahkim kepada Rasulullah ﷺ, namun hatinya juga merasa yakin dan ridha dengan semua keputusan Beliau ﷺ.

Kemudian Allah SWT berfirman: wa yusallimu taslim[an]. Kata yusallimu berarti yanqudu wa jud’inu (mereka tunduk dan patuh). Artinya, mereka tunduk dan patuh pada keputusanmu (Muhammad), tidak membantah sedikitpun, dan tidak menyelisihinya baik secara lahir maupun batin. Dengan ditambahkannya kata taslim[an]—bentuk mashdar yang berfungsi sebagai penguat—ketundukan pada keputusan Rasulullah ﷺ itu harus benar-benar tulus dan total. Menurut az-Zuhaili, frasa ini masuk dalam tahap pelaksanaan. Kadang-kadang ada seseorang yang menganggap benar sebuah hukum, tetapi dia menghindar untuk melaksanakannya.

Karena itu, seorang Mukmin tidak hanya harus ber-tahkim kepada Rasulullah ﷺ dan hatinya merasa puas dengan keputusan tersebut, namun juga harus tunduk dan patuh kepadanya yang diimplementasikan dalam bentuk perbuatan. Rasulullah ﷺ bersabda:

Demi Zat yang jiwaku di tanganNYA, seseorang diantara kalian tidak beriman hingga hawa nafsunya mengikuti (risalah) yang aku bawa. (HR. Muslim).

Mengomentari ayat ini, al-Jashash berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa siapa pun yang menolak salah satu perintah Rasulullah telah keluar dari Islam; sama saja apakah penolakan itu disebabkan karena ragu, tidak menerima atau menolak untuk tunduk. Inilah pendapat para Sahabat yang sah ketika mereka menghukumi murtad orang yang menolak membayar zakat, membunuh mereka dan menawan mereka. Sebab, Allah telah menetapkan bahwa siapa saja yang tidak menerima keputusan Nabi ﷺ dan hukumnya, tidak termasuk ahl al-iman.

KONSEKUENSI  KEIMANAN:

IMAN > TERIKAT  SYARIAH> PASRAH> HAKIKI

IMAN > TERIKAT  SYARIAH> TERPAKSA> SEMU

IMAN > TIDAK  TERIKAT  SYARIAH> PALSU

Ibnu Katsir juga menyatakan, “Allah SWT bersumpah dengan Dirinya Yang Mahamulia dan Mahasuci, bahwa seseorang tidak beriman hingga ia menjadikan Rasul sebagai hakim dalam semua perkara. Apa yang diputuskan olehnya adalah sebuah kebenaran yang wajib ditaati, baik lahir maupun batin.

Ditolaknya iman orang yang tidak mau menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai hakim dalam urusan kehidupannya—sebagaimana disebut ayat di atas—merupakan qarinah (indikasi) yang amat jelas tentang kewajiban tersebut. Menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai hakim berarti menjadikan semua keputusan Beiau sebagai acuan, standar dan parameter untuk menilai baik-buruknya segala sesuatu.

Pada hakikatnya, menaati Rasulullah ﷺ sama halnya dengan menaati Allah SWT:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ

Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan untuk ditaati seizin Allah. (QS an-Nisa’ [4]: 64)

MAKNA  KETAATAN

Menaati  Rasulullah ﷺ      Menaati Allah SWT

Perintah untuk mengikuti dan menaati Rasulullah bertebaran dalam al-Quran seperti: QS al-Hasyr [59]: 7; QS al-Ahzab [33]: 36; QS an-Nisa’ [4]: 59; QS an-Nur [24]: 64-65; QS Ali Imran [3]: 31. Semua ayat tersebut menunjukkan tentang wajibnya menaati seluruh risalah yang dibawa Rasulullah ﷺ. Karena yang dibawa Beliau bukan hanya al-Quran, namun juga as-Sunnah, maka setiap Muslim juga wajib menjadikan as-Sunnah sebagai sumber hukum. Tidak boleh ada keraguan sedikitpun akan kebenaran as-Sunnah; baik dalam perkara akidah maupun syariah. Sebab, sebagaimana al-Quran, as-Sunnah juga berasal dari wahyu.

وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰٓ (٣) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْىٌ يُوحَىٰ (٤)

Tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. (QS an-Najm [53]: 3-4).

Beberapa ayat lain yang senada dengannya adalah QS al-Anbiya’ [21]: 45; QS Shad [38]: 7; dan QS al-An’am [6]: 50. Semuanya menunjukkan secara pasti bahwa yang diucapkan Rasullah ﷺ adalah wahyu. Demikian pula perbuatan dan persetujuannya. Walhasil, wajib menjadikan as-Sunnah sebagai sumber hukum di samping al-Quran. Membatasi diri hanya pada al-Quran dan meninggalkan as-Sunnah merupakan kekufuran yang nyata.

 WAHYU

|

NABI  MUHAMMAD 

|                                               |

AL-QURAN                       AS-SUNNAH

|

WAJIB  DIAMALKAN

Ayat di atas juga mengungkap keterkaitan antara iman dan amal perbuatan. Memang, iman merupakan itikad kalbu. Karenanya, amal perbuatan tidak termasuk dalam cakupannya. Sebab, secara syar’i, iman berarti at-tashdiq al-jazim al-muthabiq li al-waqi ‘an dalil (pembenaran yang pasti, yang bersesuaian dengan fakta dan bersumber dari dalil). Kendati demikian, antara iman dan amal terdapat keterkaitan yang sangat erat dan tidak bisa dipisahkan. Selain dalam beberapa ayat di atas, Allah SWT berfirman:

فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ

Jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan RasulNYA (as-Sunnah) jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir. (QS an-Nisa’ [4]: 59).

Ungkapan in kuntum tu’minuna bi Allah wa al-yaum al-akhir (Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir) menunjukkan bahwa siapa pun yang tidak ber-tahkim  kepada al-Quran dan as-Sunnah tidak terkategori sebagai orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir.

Pada ayat berikutnya (QS an-Nisa’ [4]: 60), al-Quran mengecam sikap paradoks orang-orang yang mengaku mengimani al-Quran dan kitab-kitab sebelumnya, tetapi mereka justru ber-tahkim pada hukum thagut, yakni hukum selain Islam. Di sinilah letak paradoksnya: bagaimana mungkin orang mengaku beriman pada kitab-kitab Allah, namun ketika memutuskan perkara, mereka tidak mengembalikannya pada kitab Allah, malah justru menggunakan hukum yang tidak berseumber darinya, yakni hukum thagut? Bukankah itu berarti terdapat kontradiksi antara ucapan dan kenyataanoleh karena itu, pengakuan akan keimanan mereka pada Kitabullah dianggap sebagai pengakuan palsu. Al-Quran menyebutnya dengan yaz’umuna. Menurut al-Layts, kata za’ama digunakan untuk orang yang diragukan, apakah ucapannya dusta atau benar. Menurut Ibnu Durayd, kata za’ama kebanyakan digunakan untuk menyatakan sesuatu yang batil.

Pada ayat selanjutnya (ayat 61), al-Quran menyebut karakter orang munafik sebagai orang yang menolak dan menghalangi orang untuk berhukum dengan apa yang Allah SWT turunkan. Kalaupun ada ketentuan syariat yang mereka terima, itu bukan lantaran mereka yakin akan kebenarannya, namun semata-mata karena ketentuan syariat tersebut sejalan dengan kepentingannya (QS an-Nur [21]: 49).

Karakter tersebut kontradiktif dengan karakter orang Mukmin. Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا۟ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Sesungguhnya jawaban orang-orang Mukmin itu, jika mereka dipanggil menuju Allah dan para rasulNYA agar para rasul itu menghukum mereka ialah ucapan “Kami mendengar dan kami taat.” Dan mereka itulah yang beruntung  (QS an-Nur [21]: 51).

Walhasil, siapa pun Anda, jika ingin terkategori sebagai Mukmin sejati, maka menerima dan menerapkan syariah Islam secara total dalam kehidupan merupakan keniscayaan.

 

Definisi Syariah Islam

Kata syariah Islam merupakan pengindonesiaan dari kata Arab, yakni as-syari’ah al-Islamiyyah. Secara etimologis, kata as-syari’ah mempunyai konotasi masyara’ah al-ma’ (sumber air minum). Orang Arab tidak menyebut sumber tersebut dengan sebutan syari’ah, kecuali jika sumber tersebut airnya berlimpah dan tidak pernah kering. Dalam bahasa Arab, syara’a berarti nahaja (menempuh), awdhaha (menjelaskan), dan  bayyana al-masalik (menunjukkan jalan). Syara’a lahum-yasyra’u-syar’an berarti sanna (menetapkan). Syariah dapat juga berarti madzhab (mazhab) dan thariqah mustaqimah (jalan lurus).

Dalam istilah syariah, syari’ah berarti agama yang ditetapkan oleh Allah SWT untuk hamba-hambaNYA yang terdiri atas berbagai hukum dan ketentuan yang beragam. Hukum-hukum dan ketentuan tersebut disebut syariah karena memiliki konsistensi atau kesamaan dengan sumber air minum yang menjadi sumber kehidupan bagi makhluk hidup. Dengan demikian, syariah dan agama mempunyai konotasi yang sama, yaitu berbagai ketentuan dan hukum yang ditetapkan oleh Allah SWT bagi hamba-hambaNYA.

Sementara itu, kata al-Islam (Islam), secara etimologis memiliki konotasi inqiyad (tunduk) dan istislam li Allah (berserah diri kepada Allah SWT). istilah tersebut selanjutnya dikhususkan untuk menunjuk agama yang disyariahkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad ﷺ. Dalam konteks inilah, Allah menyatakan kata Islam sebagaimana termaktub dalam firmanNYA:

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا

Hari ini AKU telah menyempurnakan untuk kalian agama kalian, mencukupkan nikmatKU atas kalian, dan meridhai Islam sebagai agama bagi kalian. (QS al-Maidah [5]: 3).

Karena itu, secara syar’i, Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada junjungan kita, Muhammad ﷺ, untuk mengatur hubungan manusia dengan Penciptanya, dirinya sendiri, dan sesamanya. Hubungan manusia dengan Penciptanya meliputi masalah akidah dan ibadah; hubungan manusia dengan dirinya sendiri meliputi akhlak, makanan dan pakaian; hubungan manusia dengan sesamanya meliputi muamalah dan persanksian.

 

Ruang Lingkup Syariah Islam

Dengan definisi syariah Islam baik secara etimologis maupun terminologis syar’i di atas, tampak jelas bahwa ruang lingkup syariah Islam adalah seluruh ajaran Islam, baik yang berkaitan dengan akidah maupun peraturan atau sistem kehidupan yang menjadi turunannya.

Akidah Islam adalah keimanan kepada Allah dan para malaikatNYA; pada kitab-kitabNYA; kepada para rasulNYA; serta pada Hari Akhir dan takdir, yang baik dan buruknya berasal dari Allah SWT semata. Akidah Islam juga meliputi keimanan pada adanya surga, neraka dan setan serta seluruh perkara yang berkaitan dengan semua itu. Demikian juga dengan hal-hal gaib dan apa saja yang tidak bisa dijangkau oleh indera yang berkaitan dengannya.

Akidah Islam merupakan pemikiran yang sangat mendasar (fikr asasi). Ia mampu memecahkan secara sahih problem mendasar manusia mau ke mana manusia setelah mati. Artinya, akidah Islam merupakan pemikiran yang menyeluruh (fikrah kulliyah) yang menjadi sumber dari seluruh pemikiran cabang. Ia adalah pemikiran mendasar yang membahas persoalan di seputar: (1) alam semesta, manusia dan kehidupan; (2) eksistensi Pencipta dan Hari Akhir; (3) hubungan alam, manusia dan kehidupan dengan Pencipta dan Hari Akhir. Dalam konteks manusia, hubungan yang dimaksud adalah hubungan dirinya sebagai hamba dengan Allah yang harus tunduk pada syariahNYA. Sebab, syariah Allah merupakan standar akuntabilitas bagi seluruh aktivitas manusia di hadapanNYA.

Sementara itu, peraturan atau sistem kehidupan Islam merupakan kumpulan ketentuan yang mengatur seluruh urusan manusia; baik yang berkaitan dengan ubudiah, akhlak, makanan, pakaian, muamalah, maupun persanksian. Tentu saja, untuk bisa disebut sitem Islam, ia harus digali dari dalil-dalil tafshili (rinci); baik yang bersumber dari al-Quran, Hadis Nabi, Ijmak Sahabat, maupun Qiyas.

Al-Quran dengan tegas menyatakan:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ تِبْيَٰنًا لِّكُلِّ شَىْءٍ

Kami telah menurunkan al-Kitab (al-Quran) kepadamu (Muhammad) untuk menjelaskan segala sesuatu. (QS an-Nahl [16]: 89).

Hadis Nabi ﷺ juga telah menjelaskan  hal yang sama:

Aku telah meninggalkan dua perkara yang menyebabkan kalian tidak akan sesat selamanya selama kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah NabiNYA. (HR at-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad).

Dari dua nash di atas, tampak jelas bahwa syariah Islam yang ditinggalkan oleh Rasulullah ﷺ telah mengatur segala urusan tanpa kecuali; mulai dari hubungan manusia dengan Penciptanya—dalam konteks akidah dan ibadah semisal shalat, puasa, zakat, haji dan jihad; hubungan manusia dengan dirinya sendiri seperti dalam urusan pakaian, makanan dan akhlak; hingga hubungan manusia dengan sesamanya seperti dalam urusan pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan dan politik luar negeri dan lain-lain—secara konseptual, semuanya telah diatur oleh Islam dengan sejelas-jelasnya.

 KATEGORISASI  SYARIAH

 SYARIAH  ISLAM > MANUSIA DENGAN ALLAH > AQIDAH DAN SYARIAH

SYARIAH ISLAM > MANUSIA DENGAN DIRINYA > AKHLAK, PAKAIAN, MAKANAN DAN MINUMAN 

SYARIAH ISLAM > MANUSIA DENGAN SESAMA > MUAMALAH (Ekonomi, Pendidikan, Sosial, Politik, Pemerintahan, Pertahanan, Keamanan)

Dengan ungkapan lain, syariah Islam sesungguhnya meliputi keyakinan spiritual (‘aqidah ruhiyyah) dan ideologi politik (‘aqidah siyasiyyah). Spiritualisme Islam telah membahas hubungan pribadi manusia dengan Tuhannya yang terangkum dalam akidah dan ubudiah; membahas pahala dan dosa manusia; serta membahas seluruh urusan keakhiratan manusia seperti surga dan neraka. Sebaliknya, ideologi politik Islam telah membahas seluruh urusan keduniaan yang terangkum dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri maupun dengan sesamanya; baik menyangkut bidang pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan, maupun politik luar negeri dan sebagainya.

Dari sini, dapat disimpulkan bahwa syariah Islam bukan hanya mengatur urusan dan persoalan yang dibahas oleh agama, tetapi juga urusan dan persoalan yang dibahas oleh ideologi. Dengan lingkup syariah Islam yang meliputi dua wilayah ini—agama dan ideologi—maka tepat sekali jika Islam disebut sebagai agama dan ideologi sekaligus. Artinya, secara mendasar, Islam jelas berbeda dengan Kristen, Yahudi, Hindu, Budha dan sebagainya yang bersifat spiritual (tidak mengatur tata cara menjalani kehidupan di dunia). Syariah agama-agama non-Islam di atas pada faktanya hanya membahas urusan dan persoalan spiritual (keakhiratan) sehingga hanya layak disebut sebagai agama (diluar konteks agama yang benar). Sebaliknya, urusan dan persoalan keduniaan yang dibahas oleh ideologi, tidak dibahas oleh agama-agama non-Islam tersebut. Islam juga berbeda dengan ideologi-ideologi lain seperti Kapitalisme dan Sosialisme. Kedua ideologi tersebut pada faktanya juga hanya membahas urusan dan persoalan keduniaan semata. Sebaliknya, urusan dan persoalan spiritual (keakhiratan) yang dibahas oleh agama, tidak dibahas oleh keduanya. Karena itu, baik Kapitalisme maupun Sosialisme tidak dapat disebut sebagai agama, tetapi lebih tepat disebut sebagai ideologi (buatan manusia).

Walhasil, Islamiyah—dengan syariahnya—satu-satunya yang ada di dunia ini yang membahas seluruh urusan dan persoalan keduniaan maupun keakhiratan dengan sempurna. Artinya, hanya Islamlah satu-satunya syariah di dunia ini yang utuh dan sempurna, yang dapat diimplementasikan sebagi agama dan ideologi sekaligus.

Akidah Islam dan akidah-akidah lainnya 

AGAMA                                       IDEOLOGI                            AGAMA+IDEOLOGI

     |                                                    |                                                |

Islam                                              Islam                                         Islam

Kristen                                       Kapitalisme                                       |

Yahudi                                   Sosialis-Komunis                                  |

Budha                                                |                                                 |

Dan lain-lain                                     |                                                 |

      |                                                   |                                                |

SPIRITUAL                                   POLITIK                              SPIRITUAL+POLITIK