1. Dari Sisi Faktanya

Secara faktual, obyek yang wajib diimani dalam akidah Islam mencakup hal-hal yang inderawi (hissiyyah) dan yang non-inderawi (ghayr hissiyyah). Keberadaan hal-hal yang inderawi ini harus didasarkan pada dalil ‘aqli, artinya harus bisa dibuktikan dengan akal. Contoh: Keberadaan Allah; kebutuhan manusia akan nabi/rasul; kerasulan Nabi Muhammad ﷺ; dan kebenaran al-Quran sebagai Kalam Allah. Sebaliknya keberadaan hal-hal yang non-inderawi hanya bisa dibuktikan berdasarkan dalil naqli yang qath’i, yang sumbernya sudah dibuktikan kebenarannya berdasarkan dalil ‘aqli (lewat pembuktian akal), yakni al-Quran dan Hadits Mutawatir. Contoh: asma’ dan sifat-sifat Allah; keberadaan para nabi sebelum Nabi Muhammad ﷺ; keberadaan kitab-kitab sebelum al-Quran; keberadaan Hari Akhir (Hari Kiamat, Hari Kebangkitan, Hari Perhitungan, surga-neraka dan lain-lain); nasib manusia pengikut nabi-nabi sebelumnya; keberadaan para malaikat, jin dan lain-lain.

  1. Dari Sisi Pembagiannya Menurut Syariah

Adapun berdasarkan pengamatan terhadap nash-nash syariah, obyek yang wajib diimani dalam akidah Islam mencakup:

Pertama, Rukun Iman. Rukun Iman meliputi keyakinan kepada Allah, para malaikatNYA, kitab-kitabNYA, para utusanNYA, Hari Kiamat serta takdirNYA, baik-buruknya berasal dariNYA. Rukun Iman ini didasarkan pada sabda Nabi Muhammad ﷺ riwayat al-Bukhari-Muslim dari penuturan Umar bin al-Khaththab ra.

(1) Iman kepada Allah SWT.

فَلْيَنظُرِ ٱلْإِنسَٰنُ مِمَّ خُلِقَ

Hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan (QS ath-Thariq [86]: 5)

 أَفَلا يَنْظُرُونَ إِلَى الإبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (١٧) وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ (١٨) وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (١٩

Tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana dia diciptakan; langit, bagaimana dia ditinggikan; dan gunung, bagaimana dia ditegakkan? (QS al-Ghasiyah [88]: 17-19)

 قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ۚ ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الْآخِرَةَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah, “Berjalanlah kalian di bumi dan perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan manusia dari permulaannya.” QS al-Ankabut [30]: 20)

 إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي

Sesungguhnya AKU ini adalah Allah; tidak ada Tuhan (yang haq) selain AKU. Karena itu, sembahlah AKU dan dirikanlah shalat untuk mengingatKU (QS Thaha [20]: 14)

 Iman pada eksistensi Allah dicapai melalui dalil ‘aqli. Adapun iman pada sifat-sifat Allah berikut asma’NYA dicapai melalui dalil naqli. Firman Allah SWT:

 هُوَ اللَّهُ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلاَمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَآءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

DIA lah Allah, yang tiada Tuhan selain DIA; Penguasa Yang Mahasuci, Mahasejahtera, Maha Pemberi Keamanan, Maha Pemelihara, Mahaperkasa, Mahakuasa dan Pemilik segala Keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. DIA lah Allah Khalik, Pencipta dan Pembentuk rupa. MilikNYA lah nama-nama yang paling baik (al-asma’ al-husna). Bertasbih kepadaNYA apa saja yang ada di langit dan yang ada di bumi. DIA lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana (QS al-Hasyr [59]: 23-24)

 

(2)  Iman kepada para malaikat

Iman kepada para malaikat didasarkan pada dalil naqli. Pasalnya, akal manusia tidak akan pernah mampu menjangkau eksistensi maupun esensi para malaikat. Dalil naqli mengenai keberadaan para malaikat antara lain, sebagai berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ ءَامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِى نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۢا بَعِيدًا

Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kalian kepada Allah dan RasulNYA, pada kitab yang DIA turunkan kepada RasulNYA maupun diturunkan sebelumnya. Siapa saja yang mengingkari Allah, para malaikatNYA, kitab-kitabNYA, para RasulNYA dan Hari Akhir, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya (QS an-Nisa’ [4]: 136)

Para malaikat memiliki tugas yang sangat banyak. Tentang tugas para malaikat, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengatakan bahwa Allah SWT diantaranya telah mewakilkan kepada para malaikat untuk mengatur langit dan bumi. Allah SWT berfirman:

فَٱلْمُدَبِّرَٰتِ أَمْرًۭاِ

Demi para malaikat yang mengatur urusan alam (QS an-Nazi’at [79]: 5)

وَهُوَ ٱلْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِۦ ۖ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ

DIA lah Yang mempunyai Kekuasaan Tertinggi di atas semua hambaNYA. DIA mengutus kepada kalian para malaikat penjaga. Lalu jika datang kematian kepada salah seorang diantara kalian, utusan-utusan Kami mewafatkannya dan mereka itu tidak pernah lengah (QS al-An’am [6]: 61)

Ibnu Qayyim lebih lanjut menjelaskan bahwa sesungguhnya para malaikat bertugas dengan izin Allah untuk mengatur urusan manusia sejak terjadinya proses pembuahan di dalam kandungan sampai manusia mati. Mereka ditugaskan untuk memproses dan mengembangkan manusia tahap demi tahap sampai pada bentuknya yang sempurna. Mereka juga yang menjaga ketika janin itu masih berada dalam tiga lapisan (chorion, alantion dan amnion) di dalam kandungan. Mereka pula yang mencatat rezeki, amal, ajal kesengsaraan maupun kebahagiaan manusia; mengikuti manusia dalam setiap keadaan; serta mencatat semua perkataan dan perbuatan manusia tanpa kecuali.

Ibnu Qayyim lalu menyebutkan ayat-ayat al-Quran mengenai hal ini (lihat: QS al-Mursalat [77]: 1-5; an-Nazi’at [79]: 1-5; ash-Shaffat [37]: 1-3).

Iman kepada malaikat, meskipun berdasarkan pada dalil naqli, pada hakikatnya, keberadaannya wajib diyakini karena penukilannya bersumber dari sesuatu yang secara akal sudah dipastikan kebenarannya yakni al-Quran dan as-Sunnah.

Dengan keimanan yang utuh terhadap keberadaan para malaikat, seorang Muslim akan berhati-hati dalam berbuat, karena ia yakin sang malaikat akan senantiasa mencatat amal baik dan buruknya. Selain itu, ia pun akan lebih berani dan optimis dalam mengarungi kehidupan, khususnya dalam mengemban dakwah, karena ia yakin selalu “dikawal” oleh tentara Allah yang perkasa, yakni para malaikat.

 

(3)  Iman kepada kitab-kitabNYA

  1. Iman pada al-Quran

Kewahyuan al-Quran sebagai Kalamullah yang hadir di tengah-tengah manusia saat ini bisa diuji secara ‘aqli dengan tiga kemungkinan. Pertama: al-Quran mungkin merupakan karangan bangsa Arab. Ini kemngkinan yang batil. Pasalnya, al-Quran sendiri sudah sejak awal kemunculannya telah menantang mereka (bangsa Arab) agar membuat karya semisal al-Quran (lihat, antara lain: QS al-Baqarah [2]; Hud [11]: 13; Yunus [10]: 38).

Sejak tantangan itu hingga hari ini tidak ada seorang Arab pun—meskipun telah bersusah-payah—yang mampu menghasilkan karya serupa al-Quran. Kesimpulan: al-Quran bukan karangan bangsa Arab.

 Kedua: al-Quran mungkin merupakan karangan Nabi Muhammad ﷺ sebagai pembawanya. Kemungkinan ini juga batil. Alasannya: (1) Nabi Muhammad ﷺ, bagaimanapun jeniusnya, tetap merupakan bagian dari komunitas bangsa Arab, yang telah terbukti ketidakberdayaannya membuat karya serupa dengan al-Quran. Artinya, selama bangsa Arab tidak mampu menghasilkan karya yang serupa al-Quran, maka demikian pula Nabi Muhammad  ﷺ.

(2) Disamping menyampaikan al-Quran, Nabi Muhammad ﷺ juga menuturkan banyak hadits, yang sebagiannya sahih bahkan mutawatir. Para pakar bahasa Arab telah mengakui adanya perbedaan yang sangat mencolok antara gaya penuturan (usluh) al-Quran dan Hadits Nabi ﷺ. Padahal keduanya sama-sama keluar dari mulut Nabi Muhammad ﷺ. Dalam hal ini, bagaimanapun kerasnya seseorang menciptakan berbagai macam gaya bahasa dalam pembicaraannya, tetap akan terdapat kemiripan satu sama lain. Memang, ada tuduhan bahwa al-Quran disadur oleh Nabi Muhammad ﷺ dari seorang pemuda Nasrani bernama Jabr. Namun, tuduhan itu ditolak keras oleh Allah SWT di dalam al-Quran (lihat: QS An-Nahl [16]: 103). Kesimpulan: Al-Quran bukan karangan Nabi Muhammad ﷺ.

 (3) Al-Quran memang merupakan Kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagai mukjizat bagi beliau. Kemungkinan inilah yang benar. Pasalnya, tidak ada kemungkinan lain selain tiga kemungkinan ini. Allah SWT berfirman:

وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَٱحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَىٰكُمْ ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Kami telah menurunkan kepadamu al-Quran dengan membawa kebenaran; membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan merupakan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu (QS al-Maidah [5]: 48)

 2. Iman pada kitab samawi selain al-Quran

Keimanan pada kitab-kitab samawi sebelum al-Quran didasarkan pada dalil naqli. Allah SWT telah menginformasikan perkara ini. DIA berfirman:

وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا

Kami telah memberikan Zabur kepada Dawud (QS al-Isra’ [17]: 55)

وَأَنزَلَ التَّوْرَاةَ وَالإِنجِيلَ (3) مِن قَبْلُ هُدًى لِّلنَّاسِ

Allah telah menurunkan Taurat dan Injil sebelum al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia (QS Ali Imran [3]: 3-4)

 

(4) Iman kepada rasulNYA

Kerasulan Muhammad ﷺ  dapat dibuktikan berdasarkan dalil ‘aqli. Tidak lain melalui pembuktian akal bahwa al-Quran memang merupakan Kalamullah. Pasalnya, Nabi Muhammad ﷺ lah yang membawa al-Quran sebagai wahyu Allah. Pembawa wahyu tentu hanya para nabi dan rasul. Dengan demikian, Muhammad ﷺ adalah nabi dan rasul sekaligus berdasarkan dalil ‘aqli.

Adapun keberadaan para nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad ﷺ, mau tidak mau, harus didasarkan pada dalil  naqli yang qath’i. Al-Quran telah menjelaskan perkara keberadaan para nabi dan rasul ini. Al-Quran banyak menyebut-nyebut kenabian/kerasulan Adam, Idris, Nuh, Hud, Ibrahim, Ismail, Musa alaihimussalam dan lain-lain. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ

Semuanya beriman kepada Allah, para malaikatNYA, kitab-kitabNYA, dan para rasulNYA (seraya mengatakan), “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasulNYA.”  (QS al-Baqarah [2]: 285)

 

(5) Iman kepada Hari Akhir

Bukti kepastian akan adanya Hari Akhir (Hari Kiamat, Hari Kebangkitan, Hari Perhitungan, Hari Pembalasan, surga-neraka dan lain-lain) juga didasarkan pada dalil naqli (al-Quran dan as-Sunnah) yang qath’i, bukan dalil ‘aqli. Dalil-dalil naqli tersebut antara lain:

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن لَّن يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, “Tidak demikian. Demi Tuhanku, kalian benar-benar pasti dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepada kalian apa saja yang telah kalian kerjakan. Hal demikian adalah mudah bagi Allah.” (QS at-Taghabun [64]: 7)

 يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ رَبِّي لاَ يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلاَّ هُوَ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لاَ تَأْتِيكُمْ إِلاَّ بَغْتَةً

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Hari Kiamat, “Bilakah terjadinya?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku. Tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain DIA. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepada kalian melainkan dengan tiba-tiba.”  (QS al-A’raf [7]: 187)

  وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ إِلا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

Ditiuplah sangkakala. Lalu matilah apa saja yang ada di langit dan bumi, kecuali yang Allah kehendaki. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi. Lalu tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing) (QS az-Zumar [39]: 68)

 

(6) Iman kepada Takdir

Takdir Allah wajib diyakini keberadaannya oleh setiap Muslim. Pasalnya, hal ini didasarkan pada nash-nash al-Quran yang qath’i maupun as-Sunnah, seperti dalam Hadits Nabi ﷺ dalam Shahih al-Bukhari  (Hadits no. 6594-6620) dan Shahih Muslim (Hadits no. 2634-2664); yang merupakan bab khusus tentang masalah takdir.

Intinya, seorang Muslim harus meyakini bahwa semua keadaan di dunia ini pasti diketahui oleh Allah SWT, karena Allah Maha Mengetahui sesuatu (Al-‘Alim); baik kejadian yang telah terjadi, sedang terjadi maupun yang akan terjadi. Kejadian apapun bentuknya telah diketahui oleh Allah SWT dan dituliskan di Lawh al-Mahfuz. Inilah pengertian sederhana dari takdir yang telah dijelaskan oleh al-Quran dan as-Sunnah. Dengan kata lain, takdir adalah catatan (ilmu) Allah yang mencakup segala sesuatu.

Seseorang tidak meyakini adanya takdir Allah imannya cacat, bahkan dapat mengeluarkan dirinya dari Islam. Pasalnya, masalah ini telah tegas dijelaskan oleh nash-nash al-Quran maupun as-Sunnah. Allah SWT berfirman:

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut takdirnya.  (QS al-Qamar [54]: 49)

Dalam menafsirkan ayat ini Imam As-Suyuti menyatakan:

Kepercayaan yang dipegang oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah bahwa Allah SWT telah mentakdirkan segala sesuatu. Artinya, DIA telah mengetahui ukuran, kondisi, peraturan, dan waktunya jauh sebelum  sesuatu itu terjadi. Karena itu, tidak ada sesuatu pun kejadian di langit dan bumi kecuali seluruhnya muncul dari ilmu, qudrah (kekuasaan) dan iradah (kehendak) Allah SWT (al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, XVII/148)

Lebih dari itu, mengimani adanya takdir Allah bahkan merupakan bagian dari Rukun Iman. Hal ini didasarkan pada Hadits Nabi ﷺ riwayat Imam Muslim dari penuturan Umar bin al-Khaththab. Ketika itu malaikat Jibril datang kepada Nabi ﷺ, lalu bertanya, “Coba ceritakan apa iman itu?” Lalu Rasulullah ﷺ menjawab, “Iman itu adalah meyakini adanya Allah, para malaikatNYA, kitab-kitabNYA, para rasulNYA, Hari Kiamat, dan takdir; baik dan buruknya berasal dari Allah SWT.”  (HR Muslim).

 Rasulullah ﷺ juga bersabda mengenai kewajiban untuk meyakini takdir Allah dan larangan untuk mengingkarinya, “Bagi setiap umat akan muncul segolongan manusia yang berperilaku seperti Majusi. Orang-orang Majusi mengatakan bahwa tidak ada takdir. Jika di antara mereka ada yang meninggal maka janganlah kalian menghadiri jenazahnya. Jika mereka sakit, janganlah dijenguk; mereka adalah (sama dengan) golongan dajjal  (HR Abu Dawud dari Hudzaifah. Lihat: Sunan Abu Dawud, IV/222)

Pembahasan masalah takdir sebenarnya hanyalah pembahasan tentang keluasan ilmu Allah SWT. Meskipun kita meyakini adanya takdir (ilmu) Allah SWT, kita tidak boleh mencampur-adukkan iman pada takdir ini dengan amal perbuatan manusia; karena keduanya tidak ada hubungan sama sekali. Dengan kata lain, keluasan ilmu Allah (takdir) tidak pernah memaksa seseorang untuk berbuat sesuatu ataupun meninggalkannya.

Rasulullah ﷺ telah melarang sikap demikian atas para Sahabatnya, yang dapat menyebabkan mereka tidak mau berusaha. Disini mesti dipahami bahwa ada perbedaan antara: apa yang harus diyakini dan apa yang harus diperbuat. Ali bin Abi Thalib ra. pernah bertutur:

Rasulullah ﷺ suatu hari duduk-duduk (bersama para Sahabat). Di tangan Beliau ada sepotong kayu. Lalu dengan kayu itu Beliau menggores-gores tanah. Kemudian Beliau mengangkat kepala seraya berkata, “Setiap kalian yang bernyawa sudah ditetapkan tempatnya di surga atau neraka.” Para Sahabat terkejut, lalu bertanya, “Kalau begitu, ya Rasulullah, apa gunanya kita beramal? Bukankah lebih baik kita bertawakal saja (pada takdir)?” Beliau menjawab, “Jangan! Tetaplah beramal. Setiap orang akan dimudahkan oleh Allah jalan yang sudah ditentukan baginya.” Lalu Rasulullah membaca QS al-Lail [92]: 5-10.   (Shahih Muslim, Syarah Imam Nawawi, XVI/196-197)

 Dalam hal ini, tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui apa yang tertulis bagi dirinya di Lawh al-Mahfuzh. Karena itu, seseorang tidak bisa dibenarkan jika berkata, “Saya berbuat begini karena telah ditakdirkan Allah (dituliskan oleh Allah SWT di Lawh al-Mahfuzh).” Pasalnya, dari mana ia tahu mengenai takdir Allah tersebut?

Sesungguhnya meyakini adanya takdir secara benar pasti akan memberikan suatu kekuatan semangat juang yang luar biasa. Pemahaman yang utuh tentang takdir ini akan memberikan dorongan yang positif untuk meraih kehidupan bahagia yang sesuai dengan perintah Allah dan RasulNYA. Selain itu, keyakinan akan takdir ini sejatinya juga akan memberikan ketabahan dan keberanian dalam membela kebenaran serta menetapi segala kewajiban yang Allah bebankan. Tidak ada istilah lemah atau putus asa dalam kamus orang yang meyakini adanya takdir Allah dengan pemahaman yang benar. Ia akan menjadi orang yang bersyukur ketika langkah-langkahnya memberikan keberhasilan/kebaikan. Sebaliknya, ia akan mejadi orang yang sabar ketika langkah-langkahnya tidak menuai keberhasilan (mengalami kegagalan).

 

Kedua: Yang Bukan Rukun Iman

Selain yang termasuk ke dalam Rukun Iman, yang juga wajib diimani oleh setiap Muslim adalah seluruh perkara gaib yang telah ditegaskan oleh Allah dan RasulNYA dalam nash-nash al-Quran maupun as-Sunnah yang qath’i. Contohnya adalah keimanan terhadap sifat-sifat Allah, kisah umat-umat terdahulu, keberadaan jin dan lain-lain.

 

Konsekuensi Keimanan

Dalam kehidupan ini, manusia yang “normal” tidak akan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keyakinannya; apalagi keyakinannya didasarkan pada dalil-dalil yang qath’i. Karena itu, sudah semestinya seorang Muslim yang menganut akidah Islam secara benar akan senantiasa berbuat dan bersikap, bertindak selaras dengan akidah yang diyakininya itu. Jika tidak, berarti keimanannya dusta belaka; hanya keimanan “pura-pura”. Keimanan semacam ini tentu tidak ada faedahnya.

Jika demikian, apa konsekuensi logis bagi seorang Muslim yang telah menganut akidah Islam? Tidak lain adalah menjadikan akidah Islam sebagai landasan berpikir dan bertindak. Konsekuensinya, seorang Muslim harus berpikir dan bertindak islami. Berpikir islami maknanya adalah menilai segala fakta dari sudut pandang yang didasarkan pada akidah Islam. Rasulullah ﷺ telah mengajari para Sahabat bahwa landasan berpikir itu adalah akidah Islam. Pernah suatu ketika terjadi gerhana matahari bertepatan dengan wafatnya putra Nabi ﷺ yang masih kecil, Ibrahim. Orang-orang Arab waktu itu ramai bergunjing bahwa terjadinya gerhana itu akibat putra Rasulullah ﷺ meninggal. Saat perkataan mereka sampai pada Rasulullah ﷺ, Beliau bersabda: “Gerhana matahari dan gerhana bulan adalah dua diantara tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, bukan karena hidup atau matinya seseorang.”

Dalam kasus di atas, Nabi ﷺ mengaitkan fenomena gerhana dengan cara berpikir Islami, yakni yang didasarkan pada akidah Islam.

Cara berpikir islami juga diwujudkan dengan menilai sesuatu dengan standar syariah yang bersumber dari akidah Islam, yakni halal-haram; bukan atas dasar manfaat atau apapun. Ia, misalnya, akan menilai halal jual-beli dan mengharamkan riba; memandang halal pernikahan dan mengharamkan perzinaaan; dan seterusnya.

Demikian pula dalam bertindak; seorang Muslim akan selalu berupaya bertindak islami. Dalam bertindak, ia akan selalu menyesuaikan diri dengan syariah Islam sebagai aturan yang bersumber dari akidah Islam. Ia akan melakukan perkara yang wajib, sunnah atau mubah saja; tidak akan melakukan tindakan yang haram. Ia akan menunaikan shalat fardhu dan shaum Ramadhan, membayar zakat, berdakwah, melakukan amar makrum nahi mungkar, berjuang  menegakkan syariah, bersedekah, berbuat baik kepada sesama dan seterusnya. Sebaliknya, ia akan menjauhi riba, minuman keras, judi dan zina. Ia juga akan menanggalkan sikap meninggalkan dakwah dan amar makruf nahi mungkar, menentang syariah dan seterusnya.

Singkat kata, konsekuensi keimanan seorang Muslim adalah keterikatannya dengan totalitas Islam sebagai akidah dan syariah, baik yang terkait dengan masalah ubudiah (shalat, shaum, zakat dan lain-lain); masalah makanan, pakaian dan akhlak; maupun masalah muamalah (ekonomi, politik, pemerintahan, pendidikan, sosial, pertahanan dan keamanan, dan lain-lain).