Andai Islam diibaratkan sebuah bangunan, maka akidah (iman) adalah pondasinya, dan syariah merupakan keseluruhan bangunannya. Bangunan tanpa pondasi yang benar dan kuat tentu akan rapuh. Demikian pula “bangunan Islam”; tanpa akidah yang sahih dan kuat sebagai pondasinya, ia merupakan “bangunan” yang juga rapuh. Di sinilah pentingnya setiap pribadi Muslim membangun sebuah akidah (iman) yang sahih dan kuat dalam menopang “bangunan” keislamannya.

Dalam hal ini, perlu dipahami sejak awal, bahwa istilah akidah (‘aqidah) tidak pernah digunakan dalam teks al-Quran maupun as-Sunnah. Istilah ini baru dikenal dan digunakan oleh para ulama ushuluddin, yang merupakan padanan dari kata iman yang digunakan al-Quran dan as-Sunnah.

Akidah yang Sahih dan Kuat

Akidah (iman) yang sahih dan kuat, paling tidak, dicirikan oleh dua aspek. Pertama: Masuk akal dan diperoleh melalui proses berpikir (bersifat rasional); tidak bersifat dogmatis, instingtif, taklid dan hanya berdasarkan pewarisan semata. Imam Syafii, dalam kitab Fiqh al-Akbar, berkata, “Ketahuilah bahwa kewajiban pertama seorang mukallaf (sudah baligh dan terkena perintah Allah dan menjauhi laranganNYA) adalah berpikir dan mencari dalil untuk mengenal (ma’rifat) Allah SWT. Arti berpikir adalah melakukan penalaran dan perenungan kalbu dalam kondisi orang yang berpikir tersebut dituntut untuk ma’rifat kepada Allah. Dengan cara seperti itu, ia bisa sampai pada ma’rifat terhadap hal-hal yang ghaib….

Pemikiran rasional yang membangun sebuah akidah pernah ditunjukkan oleh seorang Arab Badwi ketika ia ditanya, “Dengan apa kamu mengenal Tuhanmu?” Dia menjawab, “Tahi untua itu menunjukkan adanya unta dan bekas tapak kaki menunjukkan adanya orang yang pernah berjalan. Bukankah gugusan bintang yang ada di langit dan ombak yang bergelombang di lautan menunjukkan adanya Sang Pencipta Yang Mahatinggi dan Mahakuasa?!

Allah SWT telah mewajibkan setiap Muslim untuk menggunakan akal (penalaran)-nya dalam membuktikan keberadaan Allah sekaligus kekuasaanNYA. Allah SWT berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ  لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (keberadaan Allah) bagi orang-orang yang berakal. (QS. Ali Imran [3]: 190).

Ayat di atas dan masih banyak lagi ayat lainnya yang serupa, mengajak manusia untuk memikirkan alam semesta, yang menjadi bukti nyata keberadaan Allah, Pencipta yang Maha Mengatur. Dengan cara itu, keimanan kepada Allah SWT merupakan keyakinan yang mantap karena didasarkan pada pemikiran yang rasional.

Namun demikian, tidak mungkin akal manusia menjangkau semua perkara. Akal hanya mampu memikirkan hal-hal yang inderawi (al-madah al-mahsusah) yaitu: manusia; alam semesta; dan kehidupan menegaskan, “Ma la yudriku al-hissu la yudrikuhu al-‘aqlu” (Segala sesuatu yang tidak dapat dijangkau indera pasti tidak dapat dipikirkan akal).

Karena keterbatasan akal dalam berpikir, Islam, misalnya, hanya mewajibkan manusia untuk memikirkan eksistensi (keberadaan) Allah SWT dan sebaliknya, melarang manusia untuk memikirkan esensi (zat)NYA, karena esensi Allah berada di luar jangkauan indera dan pastinya juga tidak terjangkau oleh akal. Rasulullah ﷺ bersabda:

تَفَكَّرُوْا فِي خَلْقِ الله وَلاَ تَفَكَّرُوْا فِي اللهِ

Pikirlah makhluk dan jangan kamu memikirkan (zat) Khalik, karena kamu tidak akan sanggup menakar hakikatNYA. (HR Abu Nu’aim).

Akal manusia yang terbatas tidak akan mampu memikirkan esensi (zat) Allah berikut sifat-sifatNYA; bagaimana Allah melihat, mendengar, berbicara, bersemayam di atas ‘ArsyNYA dan seterusnya. Pasalnya, zat Allah bukanlah materi yang bisa diukur atau dianalisis, juga tidak dapat dianalogikan dengan materi apapun, termasuk manusia. Kita hanya meyakini sifat-sifat Allah yang memang DIA kabarkan melalui wahyu secara qath’i  kepada kita. Itulah yang dilakukan oleh para Sahabat, Tabi’in dan ulama salaf setelah mereka. Dalam hal ini, Imam Ibnul Qayyim berkata:

Para Sahabat berbeda pendapat dalam beberapa masalah. Padahal mereka itu adalah umat yang dijamin kesempurnaan imannya. Namun, Alhamdulillah, mereka tidak pernah berbeda pendapat satu sama lain dalam masalah seputar asma Allah berikut perbuatan-perbuatan dan sifat-sifatNYA. Mereka hanya mengakui apa yang memang dipaparkan al-Quran dengan suara bulat. Mereka tidak berusaha menakwilkannya, juga tidak memalingkan pengertiannya.

Saat Imam Malik ditanya tentang makna “persemayaman Allah” (istiwa’ Allah), beliau lama tertunduk dan bahkan mengeluarkan keringat. Setelah itu Imam Malik mengangkat kepala lalu berkata, “Persemayaman itu bukan sesuatu yang dapat diketahui. Kayfiyah (cara) nya juga bukanlah hal yang dapat dipahami. Mengimaninya adalah wajib, tetapi menanyakannya adalah bid’ah/salah.

 

Al-Muzani, salah seorang murid Imam Syafii, pernah mengalami keragu-raguan dalam masalah tauhid. Lalu Imam Syafii memerintahkannya untuk mengembalikannya pada firman Allah SWT berikut:

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (١٦٣) إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (١٦٤

Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan DIA Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan air hujan yang Allah turunkan dari langit, lalu dengan air itu DIA menghidupkan bumi sesudah mati (kering)nya, dan DIA menyebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; dalam semua itu sesungguhnya terdapat tanda-tanda (keberadaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir (QS al-Baqarah [2]: 163:164)

 Setelah membacakan ayat tersebut, Imam Syafii berkata kepada al-Muzani, “Jadikanlah makhluk ciptaan Allah sebagai dalil atas keberadaan Khalik dan jangan menyusahkan dirimu dengan sesuatu yang tak dapat dijangkau oleh akalmu.

Kedua: Sesuai dengan fitrah (bersifat fitri). Secara fitri, manusia adalah makhluk yang serba lemah, serba kurang dan bergantung kepada yang lain. Sebuah akidah yang sesuai dengan fitrah jelas harus mengakui fitrah manusia seperti ini.

 

Akidah/Iman Benar:

Rasional & Sesuai Fitrah

 

Akidah/Iman yang Salah:

Dogmatis, Instingtif, Taklid, Berdasarkan Pewarisan & Bertentangan dengan Fitrah