Dari paparan di pos sebelumnya, manakah akidah/ideologi yang masuk akal (rasional) dan sesuai dengan fitrah manusia? Jawannya adalah sebagai berikut.

  1. Sosialisme-Komunis

Dalam perspektif rasio, dengan mengingkari eksistensi sang Pencipta, ideologi ini jelas tidak rasional. Alasannya: (a) seluruh materi yang ada di dunia ini, termasuk manusia, memiliki keterbatasan dan bergantung pada yang lain. Akal kita yang jujur akan mengakui, bahwa segala yang terbatas ini membutuhkan Zat Yang Tak Terbatas. Itulah Pencipta, Tuhan. (b) Manusia dan alam semesta memiliki keseimbangan, keteraturan, harmoni dan keindahan yang luar biasa; yang semua itu tidak mungkin terjadi serba kebetulan tanpa ada Zat Yang menciptakan dan mengendalikannya.

Adapun secara fitrah, ideologi ini jelas bertentangan dengan kenyataan bahwa dalam diri manusia ada naluri beragama (religiusitas), yang mendorongnya selalu cenderung untuk melakukan pengagungan/pemujaan kepada Zat yang lebih tinggi dari dirinya; baik mereka akui atau tidak; baik yang mereka agungkan itu Tuhan Yang sebenarnya atau “Tuhan” palsu. Pada faktanya, orang-orang ateis hanya mengalihkan pengagungan itu—yang seharusnya kepada Tuhan—menjadi kepada manusia.

 

  1. Kapitalisme-Sekular

Dalam tinjauan nalar, pengakuan terhadap eksistensi Tuhan tetapi tidak otoritasNYA untuk mengatur manusia adalah juga tidak rasional. Alasannya: (a) pengingkaran atas otoritas itu telah melahirkan sikap manusia membuat sendiri aturan bagi kehidupannya. Padahal manusia, sebagai makhluk, pada faktanya tidak bisa memahami hakikat dirinya sendiri. Yang tahu hakikat manusia adalah Penciptanya, yakni Allah SWT. Apabila manusia tidak memahami hakikat dirinya sendiri, apalagi membuat aturan yang terbaik bagi dirinya. (b) Tuhan—dalam hal ini Allah SWT.—telah menurunkan wahyuNYA, yakni al-Quran, melalui utusanNYA (RasulNYA) untuk mengatur kehidupan manusia. Secara rasional, al-Quran dapat dibuktikan kebenarannya sebagai wahyu Allah SWT. Karena itu,  menjauhkan otoritas Tuhan Yang Mahatahu untuk mengatur kehidupan manusia adalah tidak rasional.

Adapun secara fitrah, manusia, ketika dibiarkan bebas membuat sendiri  peraturan bagi kehidupannya, terbukti melahirkan banyak perbedaan, pertentangan, bahkan konflik. Peraturan yang dibuat juga sering berubah-ubah sesuai dengan kecenderungan dan hawa nafsu manusia. Lebih dari itu, fakta telah membuktikan bahwa peraturan-peraturan yang dibuat manusia—karena lebih didasarkan pada kecenderungan dan hawa nafsunya—telah melahirkan banyak ekses negatif, menciptakan banyak kerusakan dan menimbulkan banyak kekacauan. Itulah yang terjadi seperti saat ini ketika hak membuat aturan/hukum diberikan kepada rakyat melalui mekanisme demokrasi.

 

  1. Islam

Dalam perspektif akal, pengakuan terhadap eksistensi Tuhan sekaligus otoritasNYA untuk mengatur kehidupan manusia adalah rasional. Alasannya: (a) pada faktanya, disamping akal dapat membuktikan secara benar bahwa Tuhan sang Pencipta, yakni Allah SWT. itu ada. Akal pun dapat membuktikan bahwa DIA telah menurunkan wahyuNYA berupa al-Quran kepada RasulNYA, yang kebenarannya sebagai wahyu bisa dibuktikan secara rasional. Di dalam al-Quran sendiri tidak akan ditemukan adanya pertentangan antar satu ayat dengan ayat lain, atau antar satu aturan dengan aturan lain, yang menunjukkan bahwa ia berasal dari Zat Yang Mahakuasa. (b) sepanjang aturan-aturan al-Quran diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan manusia, terbukti bahwa ia mendatangkan rahmat bagi umat manusia seluruhnya. Ini adalah fakta sejarah yang pernah terjadi dan berjalan selama berabad-abad sejak zaman Nabi Muhammad ﷺ mendirikan Daulah Islamiyah di Madinah hingga keruntuhan Kekhilafahan Islam terakhir di Turki, yang diawali oleh banyaknya penyimpangan terhadap al-Quran yang dilaukan penguasa.

Adapun secara fitrah, pengakuan atas eksistensi Tuhan sekaligus otoritasNYA untuk mengatur manusia sesuai dengan fitrah manusia yang serba terbatas, serba kurang dan serba lemah; yang menjadikannya butuh pada orang lain. Keserbaterbatasan, keserbakurangan dan keserbalemahan manusia ini pada faktanya membuktikan bahwa manusia membutuhkan berbagai peraturan bagi kehidupannya yang tidak berasal dari dirinya, tetapi bersumber dari al-Khalik, Tuhan Pencipta Alam.

 

KESIMPULAN

Walhasil, dari paparan di atas, secara nalar (rasio, akal) maupun fitrah, juga berdasarkan realitas sejarah manusia, terbukti bahwa hanya Islamlah satu-satunya ideologi yang rasional dan sesuai dengan fitrah manusia. Sebaliknya, Sosialisme-Komunis dan Kapitalisme-Sekular adalah ideologi yang tidak rasional dan bertentangan dengan fitrah manusia; disamping terbukti dalam sejarah telah menimbulkan banyak ekses negatif, kerusakan dan kekacauan.

Karena itu, sudah selayaknya kaum Muslim segera kembali menerapkan semua aturan-aturan Islam (syari’ah), yang memang telah sesuai dengan fitrah manusia, dalam semua aspek kehidupan. Sebaliknya, sudah selayaknya kaum Muslim segera meninggalkan berbagai aturan yang berasal dari ideologi Sosialisme-Komunis maupun Kapitalisme-Sekular, yang nyata-nyata bertentangan dengan fitrah manusia. Keengganan manusia untuk diatur dengan aturan-aturan Allah hanyalah merupakan bukti kesombongan, kelancangan dan kekurangajaran dirinya di hadapan Penciptanya, Allah SWT., Zat Yang Mahatahu atas segala sesuatu. Jika kita tetap bertahan untuk berkubang dalam aturan-aturan buatan manusia dan tetap enggan diatur dengan aturan-aturan Allah, layaklah kita merenungkan kembali firman Allah SWT. berikut:

 

  أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki. Siapakah yang baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?!  (QS. Al-Maidah [5] : 50)

 

Ya, sekali ini kita patut merenungkan: adakah hukum/aturan yang lebih baik dibandingkan dengan hukum/aturan-aturan Allah?! Apakah hukum/aturan-aturan yang berasal dari ideologi Sosialisme-Komunis dan Kapitalisme-Sekular—yang notabene buatan manusia yang serba terbatas, serba kurang dan serba lemah—yang lebih baik ataukah hukum/aturan-aturan Islam yang notabene buatan Allah Pencipta manusia Yang Mahatahu atas segala sesuatu?!

 

Oleh karena itu mulailah perubahan dari diri sendiri, keluarga, tetangga, lingkungan dan seterusnya, sampai Islam sebenarnya menyebar ke seluruh dunia.