Secara fitrah, manusia adalah makhluk yang serba terbatas (relativismus uber alles). Keerbaterbatasan manusia ini telah cukup mengantarkan manusia pada situasi dimana ia senantiasa membutuhkan—dan bergantung pada—Zat Yang Tak Terbatas alias Yang Mahamutlak (Absolutismus uber alles); Dialah Tuhan sebagai The Ultimate Reality (Realitas Tertinggi), (Wajib al-Wujud); Dialah Allah SWT.

Secara fitrah pula, manusia dianugerahi oleh Allah SWT naluri untuk beragama atau religiusitas (gharizah at-tadayyun), yang merupakan sesuatu yang sudah built-in dalam dirinya, bahkan sejak sebelum kelahirannya ke alam dunia. Naluri ini telah cukup mendorong manusia untuk melakukan pemujaan (taqdis) terhadap apa yang dianggapnya sebagai The Ultimate Reality (Realitas Tertinggi) itu.
Sayang, dua kenyataan primordial (fitri) ini tidak sertamerta menjadikan manusia “tahu diri”; entah karena mereka tidak berpikir rasional (tidak menggunakan akal) atau karena mereka terlalu percaya diri akibat hegemoni hawa nafsu yang ada dalam dirinya. Pada saat ini, ketidaktahudirian manusia itu tercermin dalam dua sikap:

1. Pengingkaran secara total (sepenuh hati) terhadap eksistensi Tuhan sang Pencipta (atheisme). Ini tergambar pada manusia yang berpaham materialisme. Materialisme ini kemudian menjadi dasar pijakan ideologi Sosialisme-Komunis.
2. Pengingkaran secara “setengah hati” terhadap eksistensi Tuhan. Ini tergambar pada manusia yang berpaham sekularisme, yakni yang mengakui keberadaan Tuhan, tetapi tidak otoritas-NYA untuk mengatur manusia, karena yang dianggap punya otoritas untuk mengatur manusia adalah manusia sendiri. Sekularisme ini kemudian menjadi landasan ideologi Kapitalisme-Sekular.

Padahal, Alhamdulillah, dengan kasih-sayangNYA, Allah SWT telah lama—jauh sebelum kelahiran ideologi Sosialisme-Komunis dan Kapitalisme-Sekular—menurunkan wahyuNYA kepada manusia untuk membimbing manusia kembali pada fitrahnya, kembali pada jatidirinya yang asli, yakni sebagai makhluk yang serba terbatas dan memiliki—secara built-in—religiusitas dalam dirinya. Wahyu itu tidak lain adalah Islam, yang akidahnya mengajari manusia untuk meyakini secara total dan sepenuh hati eksistensi Tuhan sekaligus otoritasNYA untuk mengatur kehidupan manusia. Akidah inilah yang kemudian menjadi basis ideologi Islam sebagai satu-satunya ideologi yang rasional dan sesuai dengan fitrah manusia.

Karena itu, kita perlu membuktikan kembali “klaim” di atas—yakni bahwa hanya Islamlah satu-satunya ideologi rasional dan sesuai dengan fitrah manusia—dengan cara membandingkan ketiga ideoogi di atas, yakni Sosialisme-Komunis, Kapitalisme-Sekular dan Islam melalui perspektif yang paling mendasar: akidah.