Masalah membiarkan janggut dan mencukur habis kumis bukan masalah baru. Hal ini merupakan masalah yang terang dan jelas dengan dalil-dalil yang shahih. Hadis-hadis-nya secara garis besar dapat dikatakan sangat lengkap, yaitu dengan bentuk insyaiyah dan khabariyah. Maka dengan dalil-dalil tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa membiarkan janggut dan mencukur kumis sampai habis bukan lagi merupakan perkara muamalah tetapi sudah merupakan perkara taabudi.

Hadis-hadis tentang membiarkan janggut dan mencukur kumis itu cukup banyak. Dan diungkapkan dalam dua bentuk :

a) khabariyah (berita)

عَنْ عَائِشَةَ عَنْ رَسُولِ اللهِ  r عَشْرَةٌ مِنَ الْفِطْرَةِ  قَصُّ الشَّارِبِ وَقَصُّ اْلأَظْفَارِ وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ وَاِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكِ وَالإِسْتِنْشَاقُ  وَنَتْفُ الأِبْطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاِء

dari Aisyah dari Rasulullah saw., ” Sepuluh yang termasuk fitrah; mencukur kumis, memotong kuku, membersihkan kotoran-kotoran badan, membiarkan janggut, menggosok gigi, berkumur-kumur, mencabuti bulu ketiak, menghilangkan bulu kemaluan, dan bercebok. “

hadis ini diriwayatkan oleh Muslim, Shahih Muslim syarah An-Nawawi, juz III:147; Abu Daud, Sunan Abu Daud I:21; At-Tirmidzi V:85; Abu Awanah, Musnad Abu Awanah I:190-191; Al-Baihaqi, As-Sunanul Kubra I:36; Ahmad

Hadis disampaikan pula oleh sahabat Amar bin Yasir riwayat Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Majah, serta sahabat Ibnu Umar riwayat Al-Bukhari (Tuhfatul Ahwadzi VIII : 38)

b) Insyaiyah (amr atau perintah)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ  r قَالَ أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَاَعْفُوا اللِّحْيَ

Dari Ibnu Umar dari Nabi saw. beliau bersabda, “Cukurlah kumis-kumis dan biarkanlah janggut-janggut.”

 Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim, Shahih Muslim syarah An-Nawawi, juz III:146; Ahmad, Al-Musnad II:233; An-Nasai, juz VIII:504; At-Tirmidzi V:88;

Abu Awanah, Musnad Abu Awanah I:189. pada riwayat Abu Ya’la (Musnad Abu Ya’la X:105) dan An-Nasai yang lain (Sunan An-Nasai, juz VIII:504) dengan redaksi sebaliknya:

أَعْفُوا اللِّحْىَ وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ

Biarkan janggut-janggut dan cukurlah kumis-kumis

Sedangkan pada riwayat Al-Bukhari (Fathul Bari XI:543) dengan redaksi:

اِنْهَكُوا الشَّوَارِِبَ وَأَعْفُوا اللِّحْىَ

Cukurlah kumis-kumis sampai habis dan biarkanlah janggut-janggut

Adapun pada riwayat-riwayat yang lain, yakni Muslim, Shahih Muslim syarah An-Nawawi, juz III:147; Abu Daud, Sunan Abu Daud III:289; Ibnu Hiban, Al-Ikhsan VII:407-408; Malik, Tanwirul Hawalik, juz III:123; Abu Awanah I:189; Al-Baghawi, Syarhus Sunnah XII:107, Ibnu Umar menyatakan:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ  r  أَمَرَ بِإِحْفَاءِ الشَّوَارِبَ وَإِعْفَاءِ اللِّحْيَ

Bahwasanya Rasulullah saw. memerintahkan agar mencukur kumis-kumis sampai habis dan membiarkan janggut-janggut

Bahkan pada riwayat Ibnu Jarir ditegaskan dengan lafal

فَقَالَ مَنْ أَمَرَكُمَا بِهَذَا قَالاَ اَمَرَنَا بِهذَا رَبُّنَا يَعْنِيَانِ كِسْرَى فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ  لكِنَّ رَبِّي قَدْ أَمَرَنِى بِإِعْفَاءِ لِحْيَتِيْ وِقَصِّ شَارِبِي – تاريخ الطباري 133 : 2-

Siapakah yang memerintah kamu berdua atas hal ini? Keduanya menjawab, “Tuan kamilah yang memerintah ini yaitu kaisar’. Rasulullah saw. bersabda, ‘Bahkan Tuhanku telah memerintahkan aku untuk membiarkan janggutku dan mencukur kumisku.”.

Di dalam riwayat-riwayat lain diterangkan sebagai berikut :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قاَلَ :  قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ  r :  خَالِفُوا  الْمُشْرِكِيْنَ أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَوْفُوا اللِّحْىَ – متفق عليه –

Dari Ibnu Umar, ia mengatakan, “Rasulullah saw. Telah bersabda, ‘Berbedalah kalian dengan musyrikin, cukurlah kumis-kumis dan biarkanlah janggut-janggut.”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  r جُزُّوا الشَّوَارِبَ  وَأَرْخُوا اللِّحْىَ خَالِفُوا الْمَجُوْسَ –  رواه ومسلم, شرح النووي 3 : 147 –

Dari Abu Hurairah r.a. ia mengatakan, ” Rasulullah saw. bersabda, ‘Cukuplah kumis-kumis sampai habis dan biarkanlah janggut-janggut, berbedalah kalian dengan Majusi.’”

Hadis-hadis ini jelas sekali memerintahkan agar kita berbeda dengan orang-orang musyrik termasuk orang majusi, antara lain dalam urusan memanjangkan janggut dan mencukur kumis. Maka dapat dipahami bahwa orang-orang musyrik antara lain orang-orang majusi memanjangkan kumis dan mencukur janggut.

Berdasarkan perintah Allah dan Rasul diatas, maka janggut itu wajib dibiarkan dan termasuk memelihara fitrah. Bahkan nilainya lebih dari sunah-sunah fitrah lainnya, karena jika pada memoptong kluku, mencabut bulu ketiak, dan lain-lain nilainya hanya kebersihan, sedangkan pada membiarkan janggut dan mencukur kumis nilainya adalah khilaful musyrikin. Adapun hadis-hadis yang berbentuk khabariyah terangkat menjadi insyaiyah. Oleh karena itu kesimpulannya tiada lain bahwa membiarkan janggut hukumnya wajib dan memotong apalagi mencukurnya sampai bersih merupakan dosa besar dan pelakunya wajib bertobat. Demikian pula dengan memanjangkan kumis.